MORE ABOUT ME ?

send your message to e-mail : rusdi1978@yahoo.com or visit my another blog : myhistoryjourney.multiply.com OR rusdihistory.blogspot.com

(Akhirnya) Rekayasa itu Terkuak Juga…

2009 November 3
oleh Rusdi

Hari selasa ( 4 Nopember 2009) kemarin Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) mengadakan sidang dengan agenda utama pemutaran rekaman hasil penyadapan KPK terkait kasus 16661_103668139649808_100000198664932_100144_7422606_nKRIMINALISASI KPK, yang ditunggu banyak pihak. Satu hal yang membuat saya, yang selama 4,5 mengikuti siaran langsung di tvOne, tidak habis pikir, kenapa penegakan hukum di negeri ini begitu “bobrok”, karena dari bukti rekaman ( walau masih perlu diklarifikasi) itu terlihat bagaimana seorang individu ( dalam hal ini ANGGODO WIDJOJO) dapat “mempengaruhi” bahkan “mengatur” para penegak hukum dalam hal ini Kepolisian dan Kejaksaan. Dan saya yakin, tayangan ini di tonton oleh jutaan pasang mata masyarakat Indonesia. Kita seolah-olah dipertontonkan suatu “drama” yang memilukan dalam program Pemberantasan Korupsi ( yang juga menjadi program dari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II SBY).

Publik seolah di “tampar” oleh rekaman itu. Bahkan seorang SBY-pun namanya ikut di”catut” sehingga kalau saya boleh mengatakan ” alangkah hebatnya orang ini yang berani mencatut nama RI-1, sehingga seharusnya Presiden harus tegas terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam rekaman itu”, itu kata saya dalam hati. Tapi satu hal lagi, kecurigaan bahwa KPK dikriminalisasi sedikit banyak terbukti dari hasil rekaman tersebut. 11832_1098812645339_1677338134_202887_3135125_nSaya yang nota bene seorang guru, sangat “geram” dengan upaya-upaya Polisi yang terkesan ” memaksakan ” KPK untuk di KRIMINALISASI, padahal kalau kita ikuti sejak awal kasus penahanan Bibit-Candra, kita sebagai orang awam juga heran kenapa tuntutan kepada kedua Ketua KPK Non aktif itu berganti-ganti, seolah-olah polisi tidak yakin dengan tuntutannya sendiri…

Ya, tapi sekali lagi, saya cuma orang awam yang hanya bisa berpendapat seperti ini, tapi walau bagaimanapun, perjuangan pemberantasan KORUPSI harus tetap berjalan, jangan sampai BERHENTI atau DIHENTIKAN, karena bila itu terjadi, 200 juta rakyat INDONESIA siap mendukung KPK.

Lagu ” KPK di Dadaku

Download mp3 lagunya klik disini

Anggodo Siaran Langsung, Polisi Jaga tvOne

2009 November 3
oleh Rusdi

Ada enam unit mobil polisi dari kantor Polsek Cakung yang parkir di gerbang.

Selasa, 3 November 2009, 19:46 WIB

VIVAnews – Anggota polisi berjaga-jaga di pintu gerbang komplek studio tvone di Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa 3 November 2009, malam. Sementara di dalam studio berlangsung wawancara dengan Anggodo Widjojo, adik tersangka korupsi Anggoro Widjojo.

Menurut pemantuan VIVAnews, ada enam unit mobil polisi dari kantor Polsek Cakung yang parkir di gerbang. Di sekitar mobil itu, terdapat enam anggota polisi.

Anggodo diundang stasiun televisi swasta ini menanggapi rekaman KPK yang diputar di gedung Mahkamah Konstitusi. Rekamanan itu berisi percakapan Anggodo dengan sejumlah orang yang diduga pejabat berpengaruh di Indonesia.

Rekaman itulah yang kemudian diduga sangat terkait dengan proses rekayasa yang berakhir dengan penahanan dua pimpinan KPK nonaktif, Bibit dan Chandra.

Sebelumnya beredar kabar bahwa polisi akan menangkap Anggodo. Anggodo sendiri juga mengakui mendengar isu itu.

Menanggapi kemunculan Anggodo di tvone ini Adnan Buyung Nasution, Ketua Tim verifikasi fakta dan proses hukum kasus dua pimpinan KPK nonaktif, Bibit dan Chandra, mengatakan sebagai bentuk penghinaan.

“Ini kan satu penghinaan dan tantangan, dan pelecehan yang dilakukan saudara Anggodo,” kata Buyung.

Menurut Buyung, Anggodo memiliki jaringan yang sangat kuat baik di kepolisian maupun di kejaksaan. Karena itu, lanjut Buyung, perlu diambil tindakan yang sangat tegas.

“Karena itu supaya diambil tindakan. Kami minta Kapolri, dan Kapolri bilang sekarang (Anggodo) sedang dicari dan akan ditangkap,” ujar Buyung. “Sekarang Anggodo live di TvOne, kok bisa. Itu bisa langsung ditangkap,” kata dia.

Sumber : Vivanews.com

Motivasi Agar Kita Lebih Bersemangat Menghadapi Hidup

2009 Oktober 31
oleh Rusdi

Kalau Anda ingin menyalahkan orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Anda dalam hidup, maka Anda bisa mulai dengan menyalahkan diri sendiri? Kenapa demikian? Karena Andalah sendiri yang mengambil keputusan untuk gagal. Bukan atasan Anda yang galak. Bukan anak buah Anda yang susah diatur. Bukan istri Anda yang tidak sejalan. Bukan suami Anda yang tidak pengertian. Bukan teman di kantor yang menggosipkan Anda. Tetapi karena Anda sendirilah yang memutuskan, mengambil keputusan dengan penuh kesadaran, untuk gagal.

Seorang pesenam dari Jepang meraih medali emas impiannya setelah menari dengan indah di Olympiade. Padahal hari sebelumnya, tumitnya retak dan dokter mengatakan di akan cacat seumur hidupnya. Rasa sakit dikalahkan oleh kemauan yang kuat untuk mempersembahkan medali emas bagi negaranya.

Sepasang mahasiswa drop-out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan dua orang legenda software dunia, padahal hanya berijazahkan high school (SMA).

Seorang veteran perang dunia pertama menawarkan resep masakan keluarganya kepada lebih dari seribu orang yang dinilainya dapat memberinya modal usaha mengembangkan restoran. Seribu orang itu menolaknya. Tapi ia tidak menyerah. Bayangkan bila saat itu Kolonel Sanders memutuskan berhenti pada penolakan yang ke 999, hari ini kita tidak akan mengenal Kentucky Fried Chicken.

Thomas Alfa Edison berkata pada seorang wartawan, ketika percobaan lampunya yang ke-sekian ratus gagal… “Saya tidak gagal! Bahkan saya baru saja berhasil menemukan cara ke 879 untuk tidak membuat lampu!” Pantang menyerah.

Sukses Anda, bukan nasib. Sukses adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai dengan harta, keringat, air mata dan kadang juga darah. Pada prinsipnya, tidak ada orang yang gagal. Yang ada hanya orang yang “memutuskan untuk berhenti” sebelum mencapai sukses.

Kata Bijak Hari Ini : Nilai manusia, bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup; bukan apa yang diperoleh, melainkan apa yang telah diberikan; bukan apa pangkatnya, melainkan apa yang telah diperbuat dengan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya.

Sejarah Makin Tak Diminati Siswa, Tanya Kenapa?

2009 Oktober 29
oleh Rusdi

Mata pelajaran sejarah masih dinilai memiliki metode pembelajaran yang membosankan bagi siswa sehingga hampir tidak diminati.

Selain itu, jumlah guru sejarah juga masih sedikit. Jumlahnya sekitar 9.000 guru untuk sejumlah 8.200 sekolah menengah atas negeri atau swasta.

Karenanya, Direktorat Nilai Sejarah Dirjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata berharap guru-guru sejarah bisa meningkatkan mutu pembelajaran yang kreatif dan menarik. Sedikitnya, persoalan guru pun dapat menjadi tantangan karena tidak sedikit pula guru sejarah mengajar mata pelajaran lain.

“Kami terus memotivasi guru-guru bagaimana sejarah bisa menarik sehingga sejarah bisa menjadi lebih humanis. Guru tidak hanya mengandalkan hafalan saja,” kata Dirjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Drajat di acara workshop kesejarahan, di Hotel Puri Dalem, Denpasar, Selasa (16/6).

Hari menambahkan, guru hendaknya berani mencari metode sendiri untuk menarik minat siswa. Alasannya, pelajaran sejarah penting guna membentuk karakter siswa dan sering dilupakan. Menurutnya, siswa dapat diajak interaksi dengan lokasi sejarah di daerah guru masing-masing.

“Harapannya, generasi sekarang kembali sadar sejarah,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Dirjen PMPTK Departemen Pendidikan Nasional Dr Bhaedhowi dalam acara yang sama. Dia menegaskan agar guru bisa mengembangkan dirinya sendiri khususnya bagi guru yang sudah bersertifikasi.

Sementara itu, Abbas Rahayamtel, peserta guru SMA 1 Kota Ternate, mengeluhkan sedikitnya jam untuk pelajaran sejarah.

“Kami hanya mendapat satu jam setiap pertemuan dengan siswa, lalu bagaimana kami dituntut untuk lebih kreatif, sedangkan bahan atau materi mata pelajaran itu sangat padat sehingga guru sudah sibuk bagaimana menyelesaikan materi,” ujarnya.

Workshop kesejarahan bertema “Mengembangkan Budaya Demokrasi melalui Pembelajaran Sejarah” digelar mulai sejak 16 hingga 20 Juni. Peserta berjumlah 65 orang berasal dari utusan wilayah Indonesia tengah, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Maluku, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.

Sumber, Kompas Rabu, 17 Juni 2009 | 15:43 WIB
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/06/17/15435164/sejarah.makin.tak.diminati.siswa.tanya.kenapa

Membangun Motivasi Belajar Siswa

2009 Oktober 26
oleh Rusdi
Salah satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran learn-in-grouppembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apapun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan “enjoy” dan “pede”.

Tulisan ini mencoba mengangkat apa itu motivasi, belajar, dan pentingnya motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.

A. Pengertian Motivasi

Banyak pakar yang merumuskan definisi ‘motivasi’ sesuai dengan kajian yang diperdalamnya. Rumusannya beraneka ragam, sesuai dengan sudut pandang dan kajian perspektif bidang telaahnya. Namun demikian, ragam definisi tersebut memiliki ciri dan kesamaan. Di bawah ini dideskripsikan beberapa kutipan pengertian ‘motivasi’.

Michel J. Jucius (Onong Uchjana Effendy, 1993: 69-70) menyebutkan ‘motivasi’ sebagai “kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki”.

Menurut Dadi Permadi (2000: 72) ‘motivasi’ adalah “dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif”.

Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (2004: 64-65), apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya. Ini berarti, apa pun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi, setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada motivasinya.

Lantas, Nasution (2002: 58), membedakan antara ‘motif’ dan ‘motivasi’. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya.

Berdasarkan deskripsi di atas, ‘motivasi’ dapat dirumuskan sebagai sesuatu kekuatan atau energi yang menggerakkan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas.

Motivasi dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiri, seperti sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lain yang secara internal melekat pada seseorang; dan (2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi eksternal yang muncul dari luar diri pribadi seseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi)

B. Pengertian Belajar

Banyak definisi yang diberikan tentang ‘belajar’. Misalnya Gage (1984), mengartikan ‘belajar’ sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya.

Cronbach mendefinisikan belajar: “learning is shown by a change in behavior as a result of experience” (belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku individu sebagai hasil pengalamannya). Harold Spears mengatakan bahwa: learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction” (belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan). Adapun Geoch, menegaskan bahwa: “learning is a change in performance as result of practice.” (belajar adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik).

Kemudian, menurut Ratna Willis Dahar (1988: 25-26), “belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman”. Paling sedikit ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar:

Pertama, pada tingkat emosional yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden, dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.

Kedua, belajar kontiguitas, yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini dapat menyebabkan belajar dari ‘drill’ dan belajar stereotipe-stereotipe.

Ketiga, kita belajar bahwa konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut belajar operant.

Keempat, pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model bagi orang lain dalam belajar observasional.

Kelima, belajar kognitif terjadi dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.

Akhirnya, Depdiknas (2003) mendefinisikan ‘belajar’ sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya.

Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, “Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?” Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, “Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”.

Jadi, berdasarkan deskripsi di atas, ‘belajar’ dapat dirumuskan sebagai proses siswa membangun gagasan/pemahaman sendiri untuk berbuat, berpikir, berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru; baik melalui pengalaman mental, pengalaman fisik, maupun pengalaman sosial.

C. Pentingnya Motivasi Belajar Siswa

stress-kidDalam kegiatan pembelajaran, ‘perhatian’ berperan amat penting sebagai langkah awal yang akan memacu aktivitas-aktivitas berikutnya. Dengan ‘perhatian’, seseorang berupaya memusatkan pikiran, perasaan emosional atau segi fisik dan unsur psikisnya kepada sesuatu yang menjadi tumpuan perhatiannya.

Gage dan Berliner (1984) mengungkapkan, tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Jadi, seseorang siswa yang menaruh minat terhadap materi pelajaran, biasanya perhatiannya akan lebih intensif dan kemudian timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi pelajaran tersebut.

Di sini, motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segala daya (kondisi-kondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses pembelajaran.

Dengan demikian, motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi siswa itu sendiri (motivasi intrinsik/motivasi internal) dan/atau berasal dari luar diri pribadi siswa (motivasi ekstrinsik/motivasi eksternal). Kedua jenis motivasi ini jalin-menjalin atau kait mengait menjadi satu membentuk satu sistem motivasi yang menggerakkan siswa untuk belajar.

Jelaslah sudah pentingnya motivasi belajar bagi siswa. Ibarat seseorang menjalani hidup dan kehidupannya, tanpa dilandasi motivasi maka hanya kehampaanlah yang diterimanya dari hari ke hari. Tapi dengan adanya motivasi yang tumbuh kuat dalam diri seseorang maka hal itu akan merupakan modal penggerak utama dalam melakoni dunia ini hingga nyawa seseorang berhenti berdetak. Begitu pula dengan siswa, selama ia menjadi pembelajar selama itu pula membutuhkan motivasi belajar guna keberhasilan proses pembelajarannya.