Cinta Sebagai Mata Air Peradaban

“Jika cinta pudar, semesta akan ganas”. Kalimat tersebut ditorehkan sufi kenamaan Jalaluddin Rumi (1207-1393) dalam magnum opus-nya Matsnawi. Cinta bagi Rumi merupakan ruh peradaban, sumbu kebudayaan yang akan menyulut terkobarnya pesan abadi Tuhan, terjelmanya persaudaraan universal di kalangan umat manusia (Q.S. 49:13) yang humanis, damai, ramah dan santun (Q.S. 21:107).

Cinta ala Rumi pada hakikatnya merupakan ajaran inti setiap nabi, substansi dari agama, esensi dari iman. Tidak ada satu dogma pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, melegalkan kekerasan, mengabsahkan tindakan keji dan munkar.

Dalam ajaran Islam, misalnya, ditanamkan bahwa cinta sesama makhluk merupakan manifestasi cinta kepada Allah, seperti tersirat dalam hadis, “Cintailah semua yang ada di bumi, engkau akan dicintai oleh yang ada di langit” atau “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Ketika pemuka sufi Ibn Arabi ditanya ihwal agama yang dianutnya, ia menjawab, “Cinta adalah agamaku; kemana pun binatang penunggangnya menuju, di sanalah agama ditambatkan.”

Dalam riwayat lain tatkala al-Fadhil ibn Yasar bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang dari mana iman datang, beliau menjawab, “Keimanan itu tak lain adalah cinta,” atau dalam redaksi Imam Baqir a.s., “Agama adalah cinta dan cinta ialah agama.”
“Ragukan bahwa bintang-bintang itu api; ragukan bahwa matahari itu bergerak; ragukan bahwa kebenaran itu dusta; tapi jangan ragukan makna sebuah cinta,” demikian ajaran penuh kearifan yang ‘difatwakan’ Hamlet kepada Ophelia dalam literer estetisnya William Shakespeare, Hamlet.

Cinta sejati — fitri yang berporos pada nilai-nilai Ilahiah, disebarkan dalam peta bumi kemanusiaan model ini yang pada gilirannya akan membuat Tuhan (rahmat-Nya: hidup damai, tertib, jauh dari kekerasan dan tindakan-tindakan dungu yang mendangkalkan peradaban) semakin mendekat bahkan lebih dekat ketimbang urat leher (Q.S. 50:16), senantiasa menyertai di mana dan ke mana pun kita berada (Q.S. 57: 4), serta Dia akan memberikan solusi dari beragam impitan krisis yang menimpa (Q.S. 2:186).

Atau dalam sebuah hadis qudsi dengan redaksi yang sangat memikat dijanjikan, “Maka bila Aku, telah mencintainya, Akulah telinga yang ia gunakan untuk mendengar, mata yang ia gunakan untuk melihat, lidah yang ia gunakan untuk berbicara, tangan yang memberi kekutan padanya, dan Akulah kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Bila berdoa pada-Ku Aku kabulkan permohonannya, bila meminta dari-Ku Aku kabulkan permintaannya. Aku tidak pernah bimbang dalam menentukan sesuatu seperti kebimbangan-Ku saat kematian mukmin yang menghindar darinya, sedang aku membenci hal itu.”

Jika elemen cinta otentik ini dicampakkan dan atau cakupan maknanya direduksi sebatas pengentalan rajutan cinta antarkelompoknya saja (ras, suku, mazhab, dst.), dan pada saat bersamaan ditanamkan kebencian kepada orang luar (the other) seraya memupuk ideologi “kebencian” dan ‘yang lain’ dianggap sebagai yang keliru, maka pada saat seperti ini cepat atau lambat peradaban manusia akan kiamat, dan kehancurannya yang lebih total tinggal menunggu waktu.

Situasi terakhir seperti inilah yang tempo hari menimpa masyarakat jahiliyah Mekkah. Sehingga kita mafhum, pada saat itu, kekerasan, pertumpahan darah (safakud dima’), teror, pemberangusan terhadap orang yang tidak sehaluan, premanisme, perang, pembunuhan terhadap bayi-bayi yang diidentifikasi berjenis kelamin perempuan menjadi pemandangan sehari-hari.

Situasi primitif ini pula yang pada gilirannya menjadi latar belakang lahirnya seorang Muhammad saw. Ia datang tidak lain, di antara nubuat-nya, untuk meluruskan kembali makna cinta, memperbarui relasi antarmanusia yang kadung telah terkotak-kotak dalam sistem pongah yang diskriminatif, feodalistik, eksploitatif dan jauh dari cita rasa keadaban.

“Aku diutus tidak lain kecuali untuk mereformasi budi pekerti manusia,” sabdanya atau dalam ungkapan Alquran, “Aku tidak mengutus engkau Muhammad kecuali sebagai penebar cinta kasih kepada seru sekalian alam.” (Q.S. 21:107).

Sejarah mencatat, seperti dapat kita lacak dalam perjanjian Madinah, bagaimana Rasulullah mendistribusikan cinta tidak hanya kepada para sahabatnya, namun juga kepada mereka yang berlainan keyakinan bahkan terhadap tumbuh-tumbuhan dan binatang.

Pertanyaan yang patut dijadikan bahan renungan kita bersama adalah, adakah pendulum sejarah mutakhir tengah mengarah kepada peradaban yang berbasiskan cinta di mana satu sama lain insyaf betul akan perannya sebagai khalifatullah dan abdullah yang wajib memakmurkan bumi sesuai dengan kehendak-Nya, bersama-sama berkhidmat memuliakan Tuhan dengan cara menghormati nilai-nilai kemanusiaan, menempatkan alam tidak sebagai objek eksploitasi tapi mitra dalam bertasbih kepada-Nya (Q.S. 24: 41). Atau justru kebalikannya, perahu kehidupan kita sedang berlayar menuju peradaban nircinta, tanpa orientasi spiritual, terlepas dari visi Ilahiah?

Jawaban yang sesungguhnya mengandaikan munculnya kesadaran total akan keniscayaan kita secara berjamaah tanpa melihat latar belakang budaya, suku, daerah atau afiliasi partai politik, untuk tidak pernah letih menggelorakan api cinta yang hakiki itu demi cita-cita yang ditambatkan seluruh umat manusia, tegaknya kehidupan yang lebih berharkat. Jika tidak demikian, maka sekali lagi, sesungguhnya kita tengah menghirup atmosfir peradaban yang dungu dengan segala implikasinya yang negatif dan merusak, dan setelah itu yang tersisa adalah kematian yang sia-sia.

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 14 Juli 2008, in Tulisanku. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: