TASIKMADU, SI TUA YANG TERUS BERTAHAN ….

Satu pagi yang masih gelap, kulajukan kendaran menuju PG (pabrik gula) Tasikmadu. Keinginan melihat keadaan sekitar pabrik itu, serta bangunan yang telah berdiri di sana sejak th. 1871 dan mengabadikannya dalam bentuk foto, maka kupilih waktu fajar menyingsing untuk dapat menghasilkan ambience foto yang baik.

PG. Tasikmadu dari depan

Sesampainya disana, di sambut oleh para keamanan. Melihat kamera yang tergantung di pundak, berasumsi bahwa saya adalah wartawan. Setelah saya jelaskan bahwa hanya untuk dokumentasi pribadi. Saya di “ijinkan” untuk melihat dan mengambil foto gerbong MN IV dan kereta kuda sederhana yang digunakan saat beliau meresmikan PG tersebut. Walaupun gerbong dan kereta berada di depan dan dengan akses masuk yang tidak terhalang, namun perlu juga “ijin khusus” untuk itu. Dengan di “antar” oleh petugas keamanan, saya akhirnya di “ijinkan” dan ditunggui dalam mengambil foto.

PG Tasikmadu dirikan pada tahun 1870 pada masa pemerintahan Mangkoenegoro IV. Di depan pabrik itu kulihat juga gerbong kereta peninggalan Mangkoenegoro IV saat meresmikan PG.

Karena kamera yang saya gantungkan di pundak saya, karena memang berniat untuk hunting pagi itu, di kira saya adalah dari Dinas Pertanian, yang mengambil foto untuk pengurusan limbah yang disebabkan oleh pabrik gula tersebut. Agak kecewa saat mengetahui saya bukanlah orang yang mereka maksud.

Jam 7 lewat saya kembali ke lokasi PG, sempat bertemu dengan petugasnya, namun dia menganjurkan untuk datang lagi jam 8. Saya patuhi dan kembali pada waktu yang dijanjikan, namun petugas yang menjanjikan itu tidak terlihat lagi. Disarankan untuk menuju ke kantor yang mengurusi Agrowisata Sundokoro itu.

Saya mematuhi dan berjalan menuju kantor yang terletak agak tersembunyi. Sesampainya disana, beberapa orang yang berada di kantor itu, berbincang-bincang sendiri, saya tidak tahu apakah mereka itu adalah pegawai PG ataukah tamu yang mengantri. Di sudut ada sebuah meja dan sedang melayani seorang tamu yang sedang membayar. Petugas itu tidak sekalipun menengadahkan kepalanya untuk menyadari kehadiran saya di sana. Karena waktu pemotretan yang kurang menguntungkan, karena hari telah beranjak siang, saya lalu mengurungkan niat untuk “touring” kedalam PG. tersebut, yang di jaga begitu ketatnya oleh sejumlah petugas keamanan.

Walau berbalut kekecewaan karena gagal untuk tour kedalam pabrik gula tersebut, kendati bangunannya begitu megah, seakan membawa kembali pada masa keemasan pabrik gula tersebut. Selalu akan ada hari esok untuk melakukan sesuatu yang tertunda. Mungkin untuk lancarnya kunjungan wisata ini, sebaiknya datang saat siang hari, sehingga petugas benar-benar siap dalam menjalankan tugasnya. Early bird tidak rupanya tidak berlaku disana, atau mungkin waktu terbaik untuk mengunjungi tempat itu adalah pada saat dimulainya musim giling tebu, dimana ada yang namanya manten tebu, di mana ada perayaan yang mewarnai mulainya penggilingan dan juga sebagai rasa syukur rakyat yang panen tebu-tebu mereka.

Andaikata mereka mengelola tour ini lebih profesional dan marketing yang lebih baik, saya yakin tour ke PG ini akan menjadi pilihan tempat wisata bagi pengunjung, baik lokal, nasional maupun internasional. Selain untuk menambah pengetahuan tentang proses tekniknya, namun juga akan membangkitkan kebanggaan terhadap kejayaan Indonesia, serta pengertian yang lebih akan sejarah, yang dapat membangkitkan semangat kebangsaan dalam menyikapi satu abad Kebangkitan Nasional bagi generasi muda Indonesia. Kelihatannya mereka masih harus banyak berbenah dalam masalah ini.

Semoga akan lebih baik di masa mendatang. Ternyata tidak mudah untuk sekedar berwisata di pabrik gula peninggalan raja Pura Mangkunegaran yang terkenal kepiawaiannya dalam ekonomi, enterpreneur, ulama dan juga pujangga yang karyanya telah diakui oleh dunia.

Mengutip dari KGPAA. Mangkunegoro IV dalam konteks pembangunan pabrik gula ini :

“Pabrik gula iki openana. Sanadyan ora nyugihi, nanging nguripi.

Kinarya papan pangupa jiwane kawula dasih.”

(Peliharalah pabrik gula ini dengan baik, meskipun tidak memberi kekayaan,

namun dapat menghidupi dan merupakan sawah ladang

para karyawan dan masyarakat sekitar).

itulah sekelumit kisah perjalananku di pabrik gula Tasikmadu, satu dari sekian banyak PG yang masih bertahan, semoga memberi inspirasi bagi semuanya …

( Tasikmadu, 12 Mei 08)

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 23 Juli 2008, in Tulisanku. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ass.wr.wb
    wah…jd pengen kesana nui…

Tinggalkan Balasan ke amalia solichati rizqi Batalkan balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: