MASA DEPAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA

logo-kpkKorupsi saat ini telah dianggap sebagai kejahatan luar biasa. Apalagi di negeri ini, korupsi boleh dikatakan telah berlangsung secara sistemik dan mendarah daging. Karena itu, tentu diperlukan upaya luar biasa untuk memberantasnya.

Ada harapan besar saat ditetapkan Undang-undang No. 13 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian diubah dengan UU No 29 tahun 2001. Berdasarkan UU tersebut lalu disahkan UU No 30 tahun 2002 tentang pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejak saat itu penanganan korupsi dilakukan dalam dua jalur yang berbeda. Jalur pertama ditangani oleh Kepolisian dan Kejaksaan; kasusnya diadili oleh pengadilan umum, yaitu di pengadilan negeri. Jalur kedua ditangani oleh KPK; biasanya adalah korupsi kelas kakap, yaitu minimal merugikan negara 1 miliar rupiah dan kasusnya diadili di Pengadilan Tipikor. Pengadilan Tipikor sendiri dibentuk berdasarkan pasal 53 UU No 30 tahun 2002 tentang KPK.

Namun kemudian, ada pengajuan judicial review (peninjauan kembali) ke MK terkait pengadilan Tipikor ini. MK memutuskan bahwa Pengadilan Tipikor inkonstitusional karena UUD 45 menyatakan hanya ada empat jenis peradilan : Peradilan umum, Peradilan agama, Peradilan militer dan Peradilan tata usaha negara. Selanjutnya MK memberikan waktu tiga tahun untuk membentuk UU Pengadilan Tipikor sebagai pengadilan khusus dan satu-satunya sistem tindak pidana korupsi. Tenggat itu akan habis pada 19 Desember 2009 mendatang.

Jika sampai tanggal itu UU Pengadilan Tipikor tidak ada maka penanganan kasus korupsi akan kembali ditangani Pengadilan umum. Jika itu terjadi, banyak pihak menilai itu artinya meredupnya kembali spirit pemberantasan korupsi. Sebab dasar pertimbangan dibentuknya KPK, dan berikutnya Pengadilan Tipikor, seperti dinyatakan oleh UU No 30 tahun 2002 adalah karena pemberantasan tindak pidana korupsi belum bisa dilaksanakan secara optimal, juga karena lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien.

Sebagai gambaran, 20 kasus  yang telah divonis selama periode Januarai hingga Juni 2008 menunjukkan betapa tidak seriusnya penanganan korupsi oleh pengadilan umum. Dari total 20 kasus tersebut, 14 kasus ditangani oleh pengadilan Tipikor dan 6 diantaranya ditangani oleh pengadilan umum. Keseluruhan kasus yang ditangani oleh Pengadilan Tipikor divonis bersalah. Dari 14 kasus yang divonis, rata-rata hukumannya 4,32 tahun. Di pengadilan umum, 4 perkara dari total 6 diputus bebas; putusan bebas seluruhnya dikeluarkan oleh Pengadilan Tinggi dan dua lainnya diputus terbukti korupsi. Artinya, 2/3 (66,7%) dari kasus korupsi yang diadili di Pengadilan umum diputus bebas, hanya 1/3 (33,3%) yang divonis bersalah ( data PuKAT Korupsi FH UGM 2008).

Sedangkan menurut ICW, antara tahun 2005 hingga Juni 2008, dari 1184 terdakwa kasus korupsi, hampir 482 terdakwa divonis bebas atau lepas dari hukuman. Rata-rata vonis yang diberikan hanya 20 bulan untuk tingkat peradilan seluruh Indonesia. Karena itu, penyerahan kembali penanganan kasus korupsi ke pengadilan umum justru bisas meredupkan atau bahkan mematikan kembali spirit pemberantasan tindak pidana korupsi yang sudah mulai membesar di negeri ini.

Kita sebagai rakyat kecil hanya berharap agar para pemimpin kita bisa segera mengajukan RUU Pengadilan Tipikor, terutama para wakil kita di DPR. jangan sampai semangat yang luar biasa dalam pemberantasan korupsi ” dimatikan ” oleh ketidak tegasan pemerintah untuk mengajukan RUU pengadilan Tipikor. Semoga harapan ini bisa menjadi nyata sehingga virus Korupsi yang telah mendarah daging di bumi tercinta bisa diberantas.

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 28 Agustus 2009, in Tulisanku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: