Tahun Baru, dalam Kultur dan Sejarah

Hampir setiap menjelang malam pergantian tahun atau kita menyebutnya dengan Malam Tahun Baru, New Year Day ataupun New Year Eve, dirayakan secara meriah. Ada pesta kembang api, tiupan terompet, konvoi kendaraan sampai tradisi membuat resolusi.

Tapi bagaimanakan sebenarnya Tahun Baru ini bermula? Tahukah anda kalau perayaan tahun baru itu sudah berjalan selama 4 milenium?

Catatan sejarah paling awal mengenai tahun baru ini ada di 4.000 tahun yang lalu, di mana bangsa Babilonia punya tradisi merayakan tahun baru dengan merayakannya pada bulan pertama didasarkan pada keadaan di mana siang hari sama panjangnya dengan malam hari. Menurut kalender modern, hal itu merupakan musim semi, di mana matahari bersinar selama 12 jam dan tenggelam selama 12 jam pula. Perayaan yang ada di Babilonia ini merupakan rangkaian perayaan agama dan kepercayaan mereka. Perayaan itu disebut sebagai perayaan Akitu. Akitu sendiri berasal dari bahasa sumeria yang berarti gandum, di mana pada tahun baru bulan pertama (yang merupakan musim semi) ladang-ladang gandum akan dipanen. Akitu akan dirayakan selama 11 hari dengan beragam upacara ritual. Ritual-ritual ini ditujukan untuk merayakan kemenangan dewa langit Marduk saat berperang melawan dewa laut lambang kejahatan, Tiamat. Pada perayaan ini juga ada yang bersifat politis di mana raja yang memerintah akan memperbaharui mahkota yang dia pakai sebagai lambang penerimaan mandat baru untuk memerintah hingga tahun baru yang akan datang.

Pada jaman kuno itu, banyak peradaban yang mengembangkan sendiri sistem kalendernya. Biasanya didasarkan pada sistem pertanian dan astronomi menurut pengetahuan mereka masing-masing. Di Mesir, misalnya, tahun ini dimulai dengan banjir tahunan sungai Nil, yang bertepatan dengan terbitnya bintang Sirius. Di China, pada masa peradaban kuno, hari pertama di tahun baru dirayakan pada awal musim dingin.

Lalu bagaimana sejarah perayaan tahun baru berdasarkan sistem kalender modern?

Kalender modern yang pertama ada adalah sistem kalender yang ada di jaman Romawi kuno. Sistem kalender ini mempunyai 304 hari dan 10 bulan. Sistem ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma, di sekitar abad ke 8 SM. Raja selanjutnya, yaitu Numa Pompilius kemudian menambahkan 2 bulan baru yaitu Januarius dan Februarius. Selama Berabad-abad kemudian, Romawi memakai sistem penanggalan ini, yang belum didasarkan pada perhitungan yang baku, seperti dengan melihat peredaran matahari. Pada tahun 46 SM, Julius Caesar akhirnya memutuskan untuk merombak sistem penanggalan menjadi lebih Baku dengan berkonsultasi kepada para ahli astronomi dan ahli matematika yang ada pada jaman itu. Dia memperkenalkan sebuah sistem kalender baru yang kemudia dikenal sebagai sistem kalender Julian yang mana sistem ini hampir menyerupai sistem penanggalan Gregorian, sebuah sistem kalender modern yang sekarang kita pakai.

Sebagai bagian dari perombakan sistem kalender ini, Julius Caesar menetapkan bahwa tanggal 1 Januari adalah awal dari tahun baru. Hal ini ditujukan untuk menghormati dewa Romawi yang bernama Janus, di mana sosoknya digambarkan mempunyai 2 wajah. Wajah yang menghadap ke belakang sebagai tanda masa lalu yang akan ditinggalkan dan wajah yang menghadap ke depan disimbolkan sebagai lambang untuk menatap masa depan. Pada tanggal 1 Januari ini, penduduk Romawi akan menyelanggarakan perayaan dengan saling bertukar hadiah, mendekorasi rumah-rumah mereka dengan ranting dan daun yang berasal dari pohon salam, dan kemudian membuat pesta di malam harinya.
Pada masa abad pertengahan di Eropa, para pemimpin-pemimpin Kristen merubah perayaan tahun baru yang biasanya jatuh pada tanggal 1 Januari menjadi perayaan yang lebih religius dengan merayakannya pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai hari lahirnya Yesus dan tanggal 25 Maret yang saat itu diperingati sebagai Hari Bersuka Cita. Namun pada tahun 1582, Paus Gregory VIII menetapkan untuk mengembalikan perayaan tahun baru pada 1 Januari kembali.

Budaya merayakan tahun baru mempunyai tradisi yang berbeda-beda di berbagai negara. Di Spanyol dan beberapa negara bekas jajahannya, tahun baru dirayakan dengan mengumpulkan Anggur di suatu tempat yang besar, untuk kemudian ramai-ramai menginjak-injaknya. Tradisi ini dilakukan sebelum tengah malam, sebagai lambang untuk masa depan yang cerah di bulan-bulan yang akan datang. Di Italia pada perayaan tahun baru akan disediakan makanan yang berasal dari lentil, bentuk kacang-kacangan yang menyerupai koin sebagai perlambang dan permohonan supaya keadaan keuangan dan ekonomi warga Italia akan lebih baik di tahun yang akan datang. Hal yang sama juga dilakukan oleh penduduk Amerika Serikat bagian Selatan, yang menggunakan kacang Black Eye. Di berbagai negara seperti Kuba, Austria, Hungaria, Portugal dan lainnya, pada malam tahun baru selalu disajikan masakan yang berasal dari daging babi, karena di negara-negara tersebut babi adalah melambangkan kesejahteraan. Di Swedia dan Norwegia pada malam tahun baru dirayakan dengan berlomba-lomba mencari kacang almond yang terlebih dahulu sudah disembunyikan. Di kepercayaan mereka mengatakan bahwa siapapun yang berhasil mengumpulkan almond sebanyak 12 biji, maka tahun yang akan dijalani akan membawa banyak keberuntungan.

Masih banyak perayaan tahun baru yang didasarkan tradisi pada suatu peradaban atau budaya tertentu, seperti tahun baru Imlek di China, tahun baru di Jepang atau Tahun baru Hijriyah menurut penanggalan Islam.

Iklan

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 5 Januari 2012, in Info Terbaru, Tulisanku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: