Mengapa banyak peninggalan Majapahit ada di luar negeri ?

Judul tulisan di atas mungkin tidak ideal untuk sebuah judul, namun inilah bentuk keresahan saya dengan banyaknya peninggalan kerajaan Majapahit yang justru tersimpan di Museum-museum luar negeri. Sebuah keprihatinan karena selaku “pemilik” peninggalan itu, kita justru bisa menikmatinya hanya dari gambar-gambar yang diterbitkan orang asing. Apa saja peninggalan kerajaan Majapahit yang ada di museum-museum luar negeri ? Simak penjelasan di bawah ini :

 emas majapahit 5

Majapahit Gold

 tombak2bpataka2bmajapahit

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).

Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.

Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini. Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama : SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Top of a Scepter
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987
Accession Number: 1987.142.184
This artwork is currently on display in Gallery 247

sang2bdwija2bnaga2bnaresmara

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Nagas and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper Alloy
Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998
Accession Number: 2000.284.29a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

 sang2bhyang2bbaruna

Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Dipasang di atas kapal yang memimpin rombongan ekspedisi, menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji : “Ular-ular Tempur”.

Pataka ini di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari.

Berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan eksis sampai saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Dengan data museum sebagai berikut :
Halberd Head with Naga and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996
Accession Number: 1996.468a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.

Yang pertama adalah : ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya : ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Raden WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). Kehandalan ADITYAWARMAN sebagai duta lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.

Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai : Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi GAJAHMADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.

Mahapatih Amangkubhumi GAJAHMADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan nusantara lewat SUMPAH PALAPAnya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.

Keteguhan hati sang GAJAHMADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran di separuh kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita INDONESIA Raya yang luas ini.

Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit.

Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun GAJAHMADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.

PUSAKA-PUSAKA MILIK MAJAPAHIT

emas2bmajapahit2b1

 Jenis : Pusaka Kubur
Nama : TOPENG KUBUR
Era : Majapahit, Abad ke-14
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Funerary Mask
Period: Eastern Javanese period
Date: 14th century
Culture: Indonesia (Java, Majapahit)
Medium: Gold
Dimensions: Diam. 7 1/2 in. (19.1 cm)
Classification: Sculpture
Credit Line: Gift of The Kronos Collections, 1995
Accession Number: 1995.569.2

 emas2bmajapahit2b2

Jenis : Pusaka
Nama : Liontin KEPALA DEWA SIWA
Era : Majapahit, abad ke-15
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Head of Shiva(?)
Period: Majapahit period
Date: ca. 15th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: H. 1 1/2 in. (3.8 cm)
Classification: Sculpture
Credit Line: Gift of Cynthia Hazen Polsky, 1991
Accession Number: 1991.423.11
This artwork is not on display

 emas2bmajapahit2b3

Jenis : Pusaka Emas
Nama : LIONTIN KALA
Era : Abad Ke-10
Asal : Jawa Timur
Material : Emas
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Rattle with Kala Head
Period: Eastern Javanese period
Date: last quarter of the 10th–last quarter of the 14th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: 2 3/4 in. (7 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.26
This artwork is currently on display in Gallery 247

 emas2bmajapahit2b4

Jenis : Pusaka Emas
Nama : HULU KERIS
Material : Emas
Era : Perkiraan abad ke 9 – 14
Asal : Jawa Timur
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Weapon Handle with Ganesha
Period: Eastern Javanese period
Date: early 9th–14th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: H. 2 1/8 in. (5.5 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.56
This artwork is currently on display in Gallery 247

 emas majapahit 5

Jenis : Pusaka Emas
Nama : HULU KERIS
Material : Emas
Era : Abad ke-15
Asal : Majapahit
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Hilt of a Weapon
Period: Eastern Javanese period
Date: last quarter of the 10th–last quarter of the 15th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions:
Classification: Metalwork
Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.43
This artwork is currently on display in Gallery 247

 arca2bmajapahit2b2

Melihat ornamennya yang lengkap sesuai cerita GARUDHA MUKHA dan model hiasannya, saya meyakini arca ini dibuat di era Kerajaan Kahuripan pada abad ke-10 / 11. Sebab ketika era KADIRI dan SINGHASARI, ornamen KURA-KURA tidak digunakan lagi.

Koleksi :
THE BARAKAT GALLERY – Baverly Hills, CA – USA
Gold Sculpture of Vishnu Riding on the Shoulders of Garuda – CK.0051
Origin: Indonesia
Circa: 900 AD to 1300 AD
Dimensions: 7.25″ (18.4cm) high x 3.5″ (8.9cm) wide 989 Grams
Collection: Asian
Style: Javanese
Medium: Gold

 arca majapahit wisnu

Jenis : Arca Emas
Nama : DEWA WISNU
Era : Kerajaan Majapahit, abad ke-14
Koleksi : Museum Eropa (namanya dirahasiakan)

 pusaka2bmataram2b7

Jenis : Pusaka Kasekten (Kesaktian)
Nama : DURGO NGERIK
Era : Majapahit, abad ke-14
Tangguh : Daha (Kadiri)
Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA
Kris
Date: 18th–19th century
Culture: Javanese
Medium: Steel, gold, and wood
Classification: Krisses
Credit Line:
Edward C. Moore Collection, Bequest of Edward C. Moore, 1891
Accession Number: 91.1.899
This artwork is not on display

 perhiasan2bemas2bmajapahit

pusaka mataram 2

Jenis Pusaka : Keris Sikep (Kebesaran)
Dapur : SINGO BARONG Kinatah Emas
Pamor : Lintang Kemukus
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 924-58
Asal Perolehan : Yogyakarta

Satu lagi Pusaka Ampuh MATARAM yang berpamor langka : Lintang Kemukus yang terpasung di luar negeri. Ini bukan satu-satunya pusaka utama kita yang tersandera, ada ribuan dalam database mereka, semoga saya bisa mengakses masuk dan menunjukkan kepada anda semua. Tetapi ada yang sedikit melegakan, rata-rata kondisi pusaka terawat dengan baik, saya dengar mereka malah mempekerjakan orang Indonesia yang paham pusaka guna merawat koleksi museum.

Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 924-58
Material / technique: iron, nickel, gold, silver, brass, copper, wood
Dimensions: L 51 cm, L 41 cm blade, sheath 44 cm L
Date: for 1893

 pusaka2bmataram2b5

Jenis Pusaka : Tombak Pataka (tempat mengikat bendera Kerajaan)
Nama : KYAI TJAKRA
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 704-15
Asal Perolehan : Yogyakarta
Staatsielans sheath and (say)
Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 704-15
Title: staatsielans sheath and (say)
Material / technique: gold, silver, copper, brass, wood
Dimensions: L 226 cm, 22.5 cm L point, B point 20 cm, 3.2 cm shaft D, L sheaths 11 to 18.8 cm, 2.6 to 10 cm B sheaths
Date: [NI]
Indigenous name: tjakra
Function: status, rank and dignity signs, identifiers
Culture: Yogyakarta
Origin: Yogyakarta

 pusaka2bmataram2b4

Jenis Pusaka : Tombak Pataka (tempat mengikat bendera Kerajaan)
Nama : KYAI ARDA DEDALI
Era : Kerajaan MATARAM
Koleksi : Museum VOLKENKUNDE, Leiden
Inventaris No. : 704-13
Asal Perolehan : Yogyakarta
Staatsielans and sheath
Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 704-13
Title: staatsielans and sheath
Material / technique: gold, diamond, wood, silver
Dimensions: L 230 cm x 6.4 cm section 22; D shaft 3 cm x 2.5 cm sheath 17
Date: [NI]
Indigenous name: Arda dedali
Function: status, rank and dignity signs, identifiers
Culture: Yogyakarta
Origin: Yogyakarta

380-800x450

Majapahit Artilery

Sebagai orang Indonesia, BANGGA saya karena nenek moyang kita HEBAT dan sangat LUARR BIASA, namun di sisi lain saya juga SEDIH karena tidak bisa menjaga peninggalan-peninggalan ini, sehingga diambil orang dan jadi milik mereka. Akhirnya, mengutip kalimat dari Presiden Sukarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

Iklan

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 10 Juli 2013, in Tulisanku. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Ahh, saya pernah dengar soal ini, Pak! :)) dan gak cuma Majapahit, peninggalan arkeologi maupun seni Indonesia secara umum juga sering disimpan di luar negeri, terutama waktu masih era kolonialisasi. Yang di Volkenkunde denger2 sudah terlalu banyak untuk dilist–sy pribadi pingin ke sana dan shipping semuanya balik ke Indonesia #WOY
    Tapi satu yang sy masih gumun sih… itu mereka bisa dapetnya gimana, ya? Kalau yang disimpan di museum Belanda masih bisa dimengerti; mereka mantan penjajah. Lha kalau yang di Amerika? Mereka kapan memboyongnya? :|a
    Setuju bgt sm kalimat terakhir Pak Rusdi btw. Jangan sekali2 lupakan sejarah, indeed :))

  2. Saya sangat sedih juga senang, sedihnya kalau rakyat kita menemukan, barang2 logam kuno, apalagi emas, biasanya / lebih banyak pasti dijual kiloan, sehingga sisa peradaban malah hilang sama sekali, tetapi kalau penemu mengerti arti “artefak” akan di simpan sendiri, atau diam2 di jual ke kolektor dalam negri ataupun asing, Senangnya, kalau di jual ke kolektor, biasanya cari pembeli yg tertinggi ( kebanyakan museum2 ), sehingga, seperti yg ditulis Pak Rusdi, kenyataan kita cuma bisa lihat foto2 doang. Kadang ironis, catatan sejarah kuno Indonesia, terlengkap dan terawat rapih malah ada di Belanda. Kalau di Indonesia, hampir pasti kalau ditemukan buku2 kuno malah di buang2, dan di pungut pemulung, lalu di jual ke pengepul, dan kemudian di jual ke pabrik kertas, dan dilebur jadi kertas baru lagi …Ironis dan amit2 saja.

  3. bagaimana caranya supaya benda-benda peninggalan sejarah tersebut bisa kembali ke Indonesia? kok sepertinya pemerintah kita tutup mata dengan masalah ini, padahal benda-benda itu erat sekali kaitannya dengan nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia (nilai historis, jati diri, harga diri, dan kebanggaan sebagai bangsa yg besar dan jaya)……ataukah pemerintah kita yang sekarang buta akan sejarah bangsa dan makananya? wallahualam bishawab………

  4. menurut cerita yg saya dengar, pusaka2 itu lolos dari keraton.Silahkan ditelusuri sendiri bagaimana cara lolosnya.Yang jelas karena pusaka2 itu memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi sekali, maka wajar saja jika terjadi jual beli.tinggal diteliti saja kalau mau tahu siapa yang menjual.Menurut saya malah aman diluar negri,dirawat dengan sangat baik dimuseum,klo kembali ke indonesia,nanti jadi milik orang yang kurang tepat malah tdk bisa disaksikan orang banyak.Bahkan bisa dijual lagi kembali ke luar negri,hanya untuk mencari untung besar dan kekayaan pribadi.Tahu sendirikan bhw arca2 yg sangat berharga di museum jawa tengah bisa “hilang” & jadi milik pribadi konglomerat jakarta, dengan menggantikannya dengan arca palsu. Jadi soalnya bukan ‘bagaimana benda2 pusaka itu bisa kembali ke indonesia’, tapi siapkah nanti indonesia menjaganya dengan utuh dan terbebas dari tangan2 maling kelas tinggi dinegri sendiri?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: