Pembelajaran Kolaboratif di Situs Purbakala Sangiran

Pelajaran sejarah yang menyenangkan dan berkesan ? Inilah barangkali dambaan bagi sebagian besar guru sejarah, termasuk saya tentunya. Mengapa demikian ? Bukan rahasia lagi jika pelajaran sejarah merupakan pelajaran yang agak kurang diminati oleh siswa. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, salah satunya adalah metode pembelajaran yang digunakan guru. Metode ceramah adalah salah satu metode yang menjadi andalan seorang guru sejarah. Memang tidak disalahkan juga karena untuk menjelaskan materi sejarah memang dengan ceramah. Tapi yang perlu dipikirkan oleh guru-guru sejarah adalah bagaimana metode ceramah ini di kombinasikan dengan metode yang lain. Banyak memang metode pembelajaran yang telah kita ketahui. Tinggal bagaimana guru memilih dan tentu saja disesuaikan dengan kondisi masing-masing di sekolah.

Sebagai seorang guru sejarah di MAN 1 Surakarta saya tertantang untuk menampilkan pembelajaran sejarah yang “tidak biasa”. Kebetulan tempat saya mengajar dekat dengan tempat-tempat bersejarah, seperti kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Perpustakaan Radya Pustaka dan yang lainnya. Sayang sekali jika tidak dimanfaatkan untuk pembelajaran sejarah. Nah, berangkat dari pemikiran sederhana ini dan didorongkan oleh keinginan untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah, saya mengadakan kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan mengunjungi Situs Purbakala Sangiran. Kebetulan letak dari situs purbakala Sangiran tidak begitu jauh dari tempat saya mengajar yaitu di kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Sebelum melaksanakan kegiatan ini saya berdiskusi dengan  Ibu Hikmawati Maria Kusumawardhani, guru geografi di sekolah saya. Karena saya melihat bahwa di situs purbakala Sangiran selain menyimpan peninggalan manusia purba dalam bentuk fosil-fosilnya, juga memiliki keunikan dari segi kondisi geografisnya. Yang pernah saya dengar bahwa daerah Sangiran dan sekitarnya pada masa dulu merupakan lautan. Karena Sangiran pada masanya merupakan tempat berkumpulnya manusia purba dan menjadi sumber mencari makan yang potensial. Dari diskusi kecil akhirnya kita sepakat mengadakan kegiatan pembelajaran di Sangiran dengan fokus mempelajari sejarah manusia purba sekaligus mempelajari kondisi geografisnya. Jadilah kegiatan pembelajaran kolaboratif antara sejarah dan geografi.

Untuk kegiatan ini saya merencanakan membentuk dua kelompok yaitu kelompok sejarah dan kelompok geografi. Kelompok sejarah bertugas meneliti seputar manusia purba yang pernah hidup di Sangiran, hasil kebudayaan, serta Cara hidupnya. Sedangkan kelompok geografi meneliti tentang unsur-unsur tanah yang ada di Sangiran, seperti susunan tanah, pola keruangan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan geografi. Setelah menentukan kelompok, tibalah saatnya melemparkan rencana kegiatan kepada siswa. Kebetulan  materi tentang manusia purba adalah materi kelas X semester genap. Siswa kelas X yang saya kerahkan dalam kegiatan ini adalah kelas X 1, X 2, dan X 3. Dari masing-masing kelas dibentuk dua kelompok yaitu kelompok sejarah dan kelompok geografi.  Hal-hal apa yang harus diamati oleh siswa telah saya berikan dan di akhir kegiatan, siswa mempresentasikan hasil pengamatannya.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Siswa/siswiku mulai mengadakan persiapan. Sebelumnya diadakan seremonial pelepasan oleh kepala sekolah Drs. H. Agus Hadi Susanto, M.Ag. Dalam sambutannya kepala sekolah berharap dari kegiatan pembelajaran kolaboratif sejarah dan geografi, siswa mendapat manfaat yang besar terutama dalam penguasaan materi sejarah dan geografi. Dengan mengunjungi langsung tempat yang dahulu merupakan pusat perkembangan manusia purba diharapkan pemahaman siswa akan lebih kuat.

DSC02068

Seremonial pelepasan oleh kepala sekolah ( foto : Koleksi Pribadi)

Setelah sambutan selesai maka rombongan “peneliti” dari MAN 1 Surakarta mulai bergerak ke lokasi menggunakan 3 armada bus. Selama perjalanan rombongan disuguhi dengan pemandangan yang sungguh indah. Sawah-sawah serta hutan di kanan kiri jalan membuat perjalanan serasa menyenangkan. Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam akhirnya rombongan tiba di situs purbakala Sangiran. Nampak sebuah gapura yang berbentuk seperti gading gajah menyambut kami. Suasana masa purba langsung terasa. Hal ini membuat semangat rombongan untuk segera mengadakan pengamatan semakin besar.

DSC02079

Gapura Museum Sangiran ( foto : Koleksi Pribadi)

Setelah mengikuti proses administrasi di bagian Humas Museum Purbakala Sangiran, maka kegiatan segera dimulai. Kelompok sejarah dan geografi mulai menyebar di lokasi masing-masing. Untuk kelompok sejarah siswa dipandu oleh petugas museum. Sedangkan kelompok geografi dipandu oleh ibu Hikmawati Maria Kusumawardhani. Masing-masing kelompok mulai mengamati hal-hal yang berkaitan dengan sejarah maupun geografi.

Sangiran merupakan situs prasejarah yang berada di kaki gunung lawu, tepatnya di depresi Solo sekitar 17 km ke arah utara dari kota Surakarta dan secara administratif terletak diwilayah Kabupaten Sragen dan sebagian terletak di kabupaten karanganyar, propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah 56 KM yang mencakup tiga kecamatan di kabupaten Sragen. Surat keputusan Menteri Pendidikan & Kebudayaan NO 070/0/1977, Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya dengan luas wilayah 56 KM, dan selanjutnya Sangiran pada tahun 1996 oleh UNESCO ditetapkan sebagaiWorld Heritagedengan nomor 593.

Mau tahu bagaimana hasil pengamatan dari masing-masing kelompok ? Ini dia hasilnya….

Kelompok Sejarah

Sangiran merupakan sebuah kubah yang terbentuk oleh adanya proses deformasi, baik secara lateral maupun vertikal. Proses erosi pada puncak kubah telah menyebabkan terjadinya reveerse, kenampakan terbalik, sehingga daerah tersebut menjadi daerah depresi. Bagian tengah kubah sangiran ditoreh oleh kali Cemoro sebagai sungai enteseden, sehingga menyebabkan formasi batuan tersingkap dan menunjukkan bentuk melingkar. Pada kala pliosen daerah ini menjadi laut dangkal kemudian terjadi gunung berapi akibatnya terjadi formasi Kalibeng, adanya regresi lebih lanjut pada daerah ini menyebabkan Sangiran menjadi daratan. Pada permulaan kala Plestosen bawah kegiatan Vulkanis semakin meningkat, sehingga terjadi aliran lahar dingin dan membentuk breksi vulkanik. Fosil Meganthropus mungkin muncul pada saat kegiatan vulkanis meleleh. Pada kala plestosen tengah sangiran menjadi daratan lagi, disusul dengan kegiatan vulkanis yang makin menghebat sehingga menimbulkan endapan tufa yang berlapis-lapis, proses pengangkatan tanah pada daerah ini terjadi pada kala plestosen atas dan awal kala Holosen. Adanya pelapukan dan erosi pada puncak kubah  serta pengendapan material kali Cemoro, menyebabkan kenampakan sangiran menjadi seperti sekarang ini. Manusia yang hidup pada saat itu misalnya Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus erectus, dan phitecanthropus soloensis.

DSC02101

Siswa mendengarkan penjelasan dari pihak museum ( foto : Koleksi pribadi)

Secara umum situs sangiran saat ini merupakan daerah berlahan tandus, terlihat dari banyaknya tempat yang gundul tak berpohon. Hal ini disebabkan karena kurangnya akumulasi sisa-sisa vegetasi yang mengalami humifikasi membentuk humus. Jenis tanaman yang ada di Situs Sangiran, antara lain lamtoro, angsana, akasia, johar, sengon mahoni. Terdapat sungai-sungai yang terus melakukan deformasi di situs sangiran antara lain adalah Kali Cemoro dan Kali Ngrejeng. Sungai ini memiliki peranan bagi masyarakat sekitar. Bukti-bukti kehidupan ditemukan didalam endapan teras sungai purba. Di daerah tropis ini tidak banyak mengalami perubahan iklim dan memungkinkan manusia purba untuk hidup.

DSC02093

Fosil – fosil yang ditemukan di Sangiran ( foto : Koleksi pribadi)

Pada tahun 1934, daerah Jawa dipakai sebagai ajang penelitian manusia purba dan alatnya. G.H.R Von Koenigwaldmelakukan penggalian pada sebuah bukit di sebelah timur laut sangiran, menemukan sebuah alat batu yang berupa serpih. Teknologi yang lebih baik menggambarkan perkembangan keterampilan yang dimiliki oleh manusia pendukungnya yang hidup di Sangiran. Alat-alat yang dihasilkan, setingkat lebih maju dibandingkan dengan alat-alat sejenis dari himpunan alat Pacitan. Alat Pacitan diperkirakan berasal dari kala plestosen tengah bagian akhir. Sedangkan alat-alat batu sangiran ditemukan dilapisan tanah kala plestosen atas pada formasi Notopuro. Alat-alat yang banyak ditemukan adalah serpih, dan bilah. Sebagian alat-alat serpih Sangiran berbentuk pendek, lebar dan tebal, dengan panjang antara 2-4 Cm. Teknologi yang umumnya digunakan pada alat batu Sangiran adalah teknik clacton, dengan ciri alat serpih tebal. Selain itu untuk mendapatkan bentuk-bentuk alat yang diinginkan lebih khusus, dilakukanlah penyerpihan kedua. Disamping alat serpih dan bilah yang kemungkinan digunakan sebagai alat pemotong dan penyerut kayu, ditemukan juga alat-alat yang terbuat dari batu lain, yaitu: bola batu, kapak batu, serut, beliung persegi, kapak perimbas, batu inti, dan lain-lain. Bahan yang digunakan untuk untuk peralatan tersebut adalah kalsedon, tufa kersikan, kuarsa,dll. Alat-alat pada situs Sangiran merupakan hasil teknologi kala plestosen yang dicirikan dengan pola perburuan binatang dan pengumpulan makanan sebagai mata pencahariannya. Kemungkinan juga berdasarkan ukuran alat-alat Sangiran yang relatif kecil, telah ada kecenderungan untuk memilih hewan buruan yang lebih kecil. Informasi lapisan ini hanyalah sebagai tambahan dan catatan saja dikarenakan takut hilang. Maklum bukan ahli tanah, bila coretan di kertas terbuang maka informasi yang sukar didapat ini tak akan kembali. Lapisan tanah ini juga dijadikan bahan penelitian untuk menentukan usia bumi ini.

Laporan Kelompok Geografi

DSC02120

Mengamati susunan tanah di Sangiran ( foto : Koleksi Pribadi)

Menurut sejarah Geologi, daerah Sangiran mulai terbentuk pada akhir kala plestosen. Situs Sangiran terkenal karena mempunyai stratigrafi yang lengkap dan menjadi yang terlengkap di benua Asia, sehingga itu diakui dapat menyumbangkan data penting bagi pemahaman sejarah evolusi fisik manusia, maupun lingkungan keadaan alam purba. Stratigrafi di kawasan situs Sangiran menunjukkan proses perkembangan evolusi dari lingkungan laut yang berangsur-angsur berubah menjadi lingkungan daratan, seperti tercermin dari fosil-fosil yang ditemukan pada masing-masing formasi. Berdasarkan proses terbentuknya & kandungannya, lapisan tanah situs Sangiran dibedakan menjadi lima lapisan.

Lima Lapisan Sangiran

Di Situs Sangiran ada 5 formasi tanah dengan lapisannya yang dapat dilihat secara langsung dimana merupakan salah satu keajaiban Sangiran. Formasi tanahnya antara lain:

Formasi Kalibeng (Puren)

berumur 5 juta s/d 1.8 juta tahun lalu. Dengan lapisan:
01. Lapisan napal (Marl)
02. Lapisan lempung abu-abu (biru) dari endapan laut dalam
03. Lapisan foraminifera dari endapan laut dangkal
04. Lapisan balanus batu gamping
05. Lapisan lahar bawah dari endapan air payau.

Formasi Pucangan (Sangiran)

berumur 1.8 juta s/d 1 juta tahun lalu. Dengan lapisan:
01. Lapisan lempung hitam (kuning) dari endapan air tawar
02. Lapisan batuan kongkresi
03. Lapisan lempung volkanik (Tuff) (ada 14 tuff)
04. Lapisan batuan nodul
05. Lapisan batuan diatome warna kehijauan

Formasi Kabuh (Bapang)

berumur 1 juta s/d 250 ribu tahun lalu. Dengan Lapisan:
01. Lapisan konglomerat
02. Lapisan batuan grenzbank sebagai pembatas
03. Lapisan lempeng vulkanik (tuff) (ada 3 tuff)
04. Lapisan pasir halus silang siur
05. Lapisan pasir gravel.

Formasi Notopuro (Phojajar)

berumur 250 ribu s/d 15 ribu tahun lalu. Dengan lapisan:
01. Lapisan lahar atas
02. Lapisan teras
03. Lapisan batu pumice

Formasi Teras  Solo (Kali Pasir)

berumur 15 ribu s/d 1.5 ribu tahun lalu. Dimana hanya memiliki lapisan endapan sungai batu kerikil dan kerakal.

DSC02139

DSC02138

Ibu Hikmawati memberi penjelasan kepada kelompok geografi ( foto : Koleksi Pribadi)

Sebelum Lupa, di tengah area ladang sawah Sangiran terdapat kubangan yang menyemburkan buih air asin yang aktif. Dari informasi awal, lapisan tanah dan kubangan disimpulkan kesimpulan bahwa pulau Jawa dahulu adalah lautan dimana akibat pergeseran lempengan sehingga muncul Jawa (Sumatra, Kalimantan, Jawa merupakan satu daratan) dan akibat ketidakstabilan kerak bumi dan erosi sehingga permukaan air laut meninggi sehingga muncul yang namanya pulau.

DSC02084

Demikianlah sepenggal pengalaman pembelajaran sejarah luar kelas yang telah dilakukan berkolaborasi dengan geografi yang telah saya lakukan bersama siswa/siswi MAN 1 Surakarta. Semoga pengalaman ini mampu membekas di hati dan memberi pengalaman hidup (Life Skill) yang berguna di masa depan.

Iklan

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 26 Mei 2015, in Info Terbaru. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: