Letnan Komarudin, Sang Fenomenal….

Peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 telah lewat , tidaklah salah apabila menengok sejenak kepada peristiwa unik, lucu, dimana Letnan Komarudin bersama seksi pasukannya pada tanggal 28 Februari 1949 jam 6 pagi dengan bersemangat telah mendahului penyerangan.

Padahal penyerangan seharusnya dilakukan besok harinya tepat pada tanggal 1 Maret. Letnan Komarudin dkk salah menghitung tanggal penyerangan, sampai-sampai Letkol Soeharto khawatir pihak Belanda akan mengetahui Serangan Umum yang sebenarnya 1 Maret 1949.

Sambil menerjang hujan peluru diputuskan untuk mengutus Letnan Sugiyono (kelak pahlawan revolusi) bersama Letnan Gideon ditemani beberapa anak buah untuk memberi kabar kepada Letnan Komarudin dkk untuk segera mundur keluar kota, karena serangan umumnya masih besok dan bukan hari sekarang.

Sekadar informasi Letnan Komarudin pernah menjabat sebagai Komandan seksi (dulu belum memakai istilah peleton) di kompi Ali Affandi, batalyon Sardjono. Sedangkan susunan Batalyon sardjono :

Kompi 1, pimpinan Kapten Widodo berada di Krapyak, Dongkelan
Kompi 2, pimpinan Kapten Soedarmo berada di Bakulan
Kompi 3, pimpinan Kapten Ali Affandi berada di Kotagede
Kompi 4, pimpinan Kapten Soemarno semula di Tamanan, kemudian pindah ke Mail, kemudian pindah lagi ke Bibis Bangunjiwo, Kompi Senjata Bantuan pimpinan Kapten Oesodo

Dalam upacara ketika memeriksa barisan prajurit TNI, Jenderal Sudirman menghampiri seorang prajurit gagah berani benama Komarudin. Komarudin meminta maaf pada Jenderal Sudirman karena ia pernah melakukan kesalahan dalam menghitung hari, namun sebagai seorang prajurit yang gagah berani, ia dianggap tidak bersalah oleh Jenderal Sudirman.

Dalam pidatonya Jenderal sudirman menekankan kalau kita adalah cinta damai namun lebih cinta Kemerdekaan dari Belanda yang telah membuat persatuan dan kesatuan Indonesia bercerai berai.

Letnan Komaruddin. Jabatannya komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto). Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru. Bahkan saking saktinya, kekebalan Komaruddin akan peluru konon bisa melindungi orang sekitarnya dalam radius 10 meter dari dirinya.

Rupanya “kesaktian” Letnan Komaruddin tidak muncul begitu saja. Sebagai pejuang pemberani, ia disebut-sebut masih memiliki hubungan darah dengan (sebagai cicit) dengan KH Abdur Rahman yang dikenal sebagai Mbah Tanjung, salah seorang ulama penyebar agama Islam di Ploso Kuning Minomartani, Sleman.

Karena keturunan ulama sakti itulah, banyak dipercaya anggota pasukanya, ia kebal terhadap senjata apapun.Begitu populisnya nama Komaruddin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya: Masjid Al Komaruddin.

Sebelum bergabung dengan Soeharto, usai dari PETA, Komaruddin memang pernah bergabung dengan Lasykar Hizbullah setempat. Banyak kawan-kawannya mengenal Komaruddin sebagai sosok yang jenaka, selon, pemberani namun sedikit agak sentimentil jika disentuh sisi-sisi kemanusiannya.

Peleton yang dipimpin Letnan Komaruddin memang dikenal sangat berani dan sering mengacak-acak pertahanan militer Belanda di dalam kota Yogyakarta. Begitu disegani namanya hingga pihak intelijen militer Belanda (NEFIS) pernah menjadikannya buronan.

Penyerangan militer Belanda ke dukuh Plataran pada 24 Februari 1949 ( yang menimbulkan korban tewas beberapa kadet Akademi Militer Yogyakarta) adalah salah satunya dalam rangka mencari dirinya, yang memang saat itu ia sedang berada di dekat dukuh tersebut.

Lantas bagaimana nasib Komaruddin seusai perang?
Memang jarang sumber-sumber sejarah yang memberitakan keberadaannya pasca penyerahan kedaulatan. Kecuali satu sumber yang saya baca dalam buku ” Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya” oleh Daud Sinjal.

Di situ dituliskan tentang tuduhan sebagian kalangan militer yang menyebut dia terlibat dalam gerakan DI/TII . Bisa jadi soal itu terkait dengan dua sahabat sekaligus dua atasan langsung Letnan Komar semasa di Lasykar Hizbullah yakni Kapten Sofyan (Yon 426) dan Mayor Basyuni dari Yon 423 yang dicatat terlibat dalam Gerakan DI/TII jawa Tengah yang dipimpin Amir Fatah pada 1952.

Namun, di buku itu juga dinyatakan bahwa tuduhan tersebut ternyata tidak benar dan nama Letnan Komaruddin kemudian mendapat rehabilitasi. Namun sepertinya upaya rehabilitasi tak otomatis membuat karir ketentaraannya menanjak.

Diberitakan beberapa saat setelah ia mendapat rehabilitasi, secara resmi Komaruddin mundur dari ketentaraan dan baru meninggal sekitar tahun 1970-an di Sleman, Yogyakarta.

komarudin

Foto :
saat Panglima Besar Soedirman (dalam suatu pemeriksaan pasukan usai turun gunung) menasehati, mengkritik sekaligus memuji serangan “salah lihat tanggal”nya pada 28 Februari 1949, ia langsung terisak-isak menangis sambil terbata-bata berujar: ” Siap Panglima! Saya tak akan mengulanginya!”

Iklan

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 7 Maret 2016, in Info Terbaru. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: