Ratusan Guru Jawa Tengah dan DIY Ikuti Workshop Penulisan Buku

Guru adalah profesi yang tidak bisa lepas dari kegiatan tulis menulis. Namun fakta menunjukkan bahwa masih sedikit guru yang produktif menulis, baik artikel maupun buku. Demikian hasil pengamatan dan riset yang dilakukan Agus M. Irkham pada 2009 sebagaimana dirilis dalam buku Gempa Literasi (2012).

Padahal, guru sebenarnya profesi yang berlimpah gagasan untuk ditulis dan dibagikan kepada orang lain. Berlimpah gagasan? Benar, sebab mereka selalu aktif berinteraksi dengan warga sekolah dan masyarakat, sehingga langsung maupun tidak langsung mudah memperoleh ide-ide segar ataupun gagasan untuk mengembangkan suatu inovasi dalam bentuk tulisan.

Berawal dari latar belakang inilah, SangPengajar.Com, salah satu laman yang sangat peduli dengan dunia pendidikan, menghelat kegiatan yang bertajuk “Bedah Buku dan Workshop Penulisan Buku” bertempat di Red Chilies Hotel Solo, Minggu (1/7) ini.  Kegiatan diikuti oleh 100 lebih peserta yang datang dari wilayah Jawa Tengah dan DIY, bahkan ada satu peserta yang datang dari Kalimantan. Menurut Agus Dwianto selaku owner SangPengajar.com, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka turut menyebarkan virus literasi di kalangan para guru.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan ketiga kali yang kami adakan setelah sebelumnya mengadakan kegiatan workshop penulisan artikel di surat kabar, juga untuk kalangan guru,” kata Agus Dwianto.

Mengapa buku ? karena masih banyak rekan guru yang belum menelorkan ide dan gagasannya dalam sebuah buku. Padahal banyak hal yang bisa diangkat menjadi buku. Interaksi dengan siswa dengan segala dinamikanya tentu menjadi sumber ide tulisan yang tidak akan pernah habis.

Dalam kesempatan ini tampil dua pembicara yang membedah buku yaitu Rusdi Mustapa dengan buku berjudul “Mengajar Kreatif Bersama Guru Inovatif” dan Agus Dwianto dengan buku berjudul “Guru Desa Membelah Angkasa”. Kedua pembicara juga berbagi pengalaman dalam menulis buku. Tampil sebagai pembicara pertama adalah Agus Dwianto yang menguraikan pengalamannya selama menjadi guru.

Seorang guru yang mengabdi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Paranggupito dan SMP Negeri 1 Baturetno Kabupaten Wonogiri,memberi tantangan tersendiri baginya. Bagaimana kondisi lingkungan yang bisa dikatakan “pelosok”, pak Agus (begitu biasa dipanggil), mampu menjelma menjadi sosok guru yang sarat dengan prestasi. Yang paling fenomenal adalah meraih penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan 2015 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pencapaian yang sangat menginspirasi dari seorang guru yang sering disebut “guru ndeso”. Sedangkan saat menyampaikan pemaparan tentang menulis buku, pak Agus menyampaikan hal-hal yang harus diketahui jika ingin menulis buku. Diantaranya saat menulis buku haruslah  menarik, karena dari sanalah pembaca akan memutuskan meneruskan membuka lembar demi lembar halaman buku atau menutup kembali bukunya. Istilahnya judul buku haruslah seksi.

Selain itu tampilan cover juga harus menarik. Judul dan cover yang menarik adalah salah satu kunci dalam menulis buku. Selain itu adalah aturan-aturan dalam menulis buku seperti penggunaan bahasa baku  yang sesuai dengan kaidah penulisan yang ada di PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Penulis saat menyampaikan materi ( foto : dokumen pribadi )
Penulis saat menyampaikan materi ( foto : dokumen pribadi )

Di sesi kedua tampil Rusdi Mustapa yang membedah bukunya “Mengajar Kreatif Bersama Guru Inovatif “. Mengapa guru harus kreatif dan Inovatif ? Di era yang semakin maju seperti saat ini, guru dituntut harus selalu meng-upgrade kemampuan mengajarnya. Tidak bisa seorang guru tetap mempertahankan cara mengajarnya yang terbilang sudah konvensional.  Kata kuncinya adalah ” Kreatif dan Inovatif !

Ketika siswa sudah sangat familiar dengan gadget, guru harus juga mengikuti perkembangan itu. Misalnya memanfaatkan gadget dalam pembelajaran. Di contohkan  membuat QR Code ( barcode ) yang bisa di scan dengan android. Siswa bisa menggunakan android di bawah bimbingan guru. Misal lagi ketiga siswa kita sangat gandrung dengan  komik, kenapa tidak guru mengadopsi kesenangan itu dengan cara membuat komik yang berisi materi pelajaran. Seperti yang telah dilakukan pak RM( begitu panggilan akrab Rusdi Mustapa ), yang mengampu pelajaran sejarah, memberikan tugas membuat “Komik Sejararah” sendiri menggunakan software Comic Life.

“Sebenarnya banyak software yang bisa dimanfaatkan guru dalam pembelajaran yang tentu saja akan menarik buat siswa. Misalnya software untuk membuat TTS (Teka-teki Silang) yaitu Crossword Maker atau juga memanfaatkan Zipgrade, yaitu software yang bisa untuk menscan Lembar Jawab soal ( semacam LJK namun menggunakan Android), ” urai pak RM. Kreasi dan inovasi seperti inilah yang bisa dikenalkan kepada siswa dan tentu mereka akan lebih tertarik.

Peserta antusias mengikuti acara ( foto : dokumen pribadi )
Peserta antusias mengikuti acara ( foto : dokumen pribadi )

Selain pemanfaatan TIK, pak RM juga mengenalkan pembelajaran yang menggunakan model bermain. Kenapa bermain ? Menurut pak RM, yang pernah menjadi Juara 2 Guru Teladan tingkat Jawa Tengah tahun 2017, sifat dasar seorang anak adalah bermain, maka tidak ada salahnya membawa sifat dasar itu dalam pembelajaran, tentu saja disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Misalnya mengadakan permainan “Pepes Teri” (Permainan Pesawat Berisi Materi), Lelang Soal, Ulangan Ular-ularan, Yel-yel sejarah, Who wants to be a teacher ? dan lain-lain.

Prinsipnya adalah bagaimana membuat siswa itu SENANG dan ENJOY dengan pembelajaran yang dilakukan guru, maka selanjutnya mereka bisa diarahkan sesuai keinginan guru. Karena prinsipnya MENYENANGKAN itulah BELAJAR.

Sedangkan saat menyampaikan materi tentang penulisan buku, pak RM menyampaikan bahwa sumber tulisan dari buku yang telah diterbitkan adalah postingan di media sosial yang dimiliki, yaitu blog  history1978.wordpress.comkompasiana.comguraru.org, dan yang lain. Postingan di media sosial, menurut pak RM, merupakan “Bank Artikel” yang  bisa dimaksimalkan bahkan bisa dijadikan buku. Tentu saja harus melalui proses editing dan penyesuaian bahasa. Banyak guru yang masih bingung, saat ingin menulis harus memulai dari mana. Dalam kesempatan ini Pak RM memberikan tips singkat,  pertama, Mulailah dari KATA PERTAMA, kedua, Jangan terlalu berfikir, tulis saja, dan ketiga Perbanyak latihan. Semoga dari kegiatan ini bisa memberi motivasi dan inspirasi bagi guru untuk mulai “mendokumentasikan” pengalaman mengajar bersama siswa dalam sebuah buku, sebagai sarana aktualisasi diri dan menularkan ide gagasannya kepada khalayak. Semoga.

Salam Literasi !!!!

About Pak RM

Guru sejarah dan Antropologi di MAN 1 Surakarta. Blogger di kompasiana dan berikhtiar untuk memajukan pendidikan Indonesia

Posted on 1 Juli 2018, in Info Terbaru. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: