Category Archives: BERITA SEJARAH

Buat Flip Book Sejarah Yuuuk…

” Anak-anak, pernahkah kalian mendengar istilah e-book ?”

Itulah kalimat yang kuucapkan di awal pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 pagi itu.

Serempak  mereka menjawab “Sudah pak…!”

“Coba, siapa yang bisa menjelaskan apa itu e-book ?

“Buku elektronik pak,” jawab Siti, yang duduk di meja depan meja guru. “Iya benar”.

“Siapa lagi yang mau menjawab ?”  tanyaku menantang.

e- book itu  adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar,” jawab Dewi, siswiku yang terkenal jika menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sistematis.

” Luarrr biasa! ” jawabku.

“Coba, siapa yang pernah membuat e-book ?” tanyaku kemudian. Seketika terlihat wajah-wajah yang sebelumnya riuh, tiba-tiba diam. Gelengan kepala mereka  adalah pemandangan yang kemudian kusaksikan.

” Belum pernah membuat ya,” tanyaku seolah menggelitik rasa penasaran mereka.

“Belum paaak..!” jawab mereka serentak.

“Nah, bapak akan memberikan pengalaman baru buat kalian. Jika tadi bapak bertanya apakah ada yang pernah membuat e-book, ternyata hampir semua menjawab belum. Tapi kalau memanfaatkan e-book, rata-rata dari kalian pasti pernah, betul ?” tanyaku menirukan gaya bicara seorang da’i kondang sejuta umat.

“Betul paaaak..!” serempak mereka menjawab.

————————————–

Itulah sekilas perbincanganku bersama siswi kelas XI IPS 1 tentang pengalaman menggunakan e-book. Namun sebenarnya pertanyaan tadi kuajukan sebagai pancingan kepada siswa tentang pemahaman mereka seputar e-book dan ternyata rata-rata mereka sudah sangat familiar. Nah…barulah aku mulai menyampaikan kepada mereka bahwa selain e-book ada juga flip book daaaan….mereka akan kuajak  membuat sendiri, ingat lho…MEMBUAT SENDIRI, bukan hanya menggunakan saja.

Apa beda e-book dan flip book ?

E – book adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar.

Sedangkan Flip Book adalah  buku dengan serangkaian gambar yang bervariasi secara bertahap dari satu halaman ke halaman berikutnya, sehingga ketika halamannya diputar dengan cepat, gambar-gambar itu tampak bernyawa dengan simulasi gerakan atau perubahan lainnya. Buku flip sering di ilustrasikan buku untuk anak-anak, tapi mungkin juga disesuaikan dengan orang dewasa danmenggunakan serangkaian foto dan bukan gambar. Buku flip tidak selalu merupakan buku terpisah, tapi mungkin muncul sebagai fitur tambahan di buku atau majalah biasa, seringkali di sudut halaman.

Gimana ? Bingung ya ..?

Simpelnya begini, Flip Book adalah buku elektronik seperti e-book, namun kelebihannya flip book bisa di buka lembar demi lembar. Kalau e-book sangat statis sifatnya ( tidak bisa di buka lembar demi lembar ). Jadi lebih dinamis dan menarik. Apalagi  flip book juga bisa di beri gambar, animasi, musik, video dan lain-lain. Sehingga tentu sangat menarik buat siswa. Bersama sejarah, aku akan mengajak mereka menjalani  proses bersama membuat flip book sejarah.

Langkah awal yang kulakukan adalah menginstall sofware yang digunakan membuat flip book. Banyak memang software yang bisa dipakai dan itu semua bisa dicari di internet. Ada yang berbayar, trial bahkan free. Nah, biar lebih praktis dan tidak menyulitkan, maka sengaja kupilihkan software yang portable. Pilihan akhirnya jatuh pada software Kvisof Flipbook Maker Pro 4.3.3.0 Portable Full. Mengapa memilih Kvisof Flip Book Maker Portable ? Alasan yang paling mendasar adalah tidak memerlukan proses instalasi dalam pengunaannya. Selain itu Kvisoft Flip Book Maker adalah salah satu aplikasi flip book yang cukup terkenal saat ini.

flipbook3

Aplikasi ini diciptakan khusus untuk membuat dan mendesain halaman, brosur, katalog, dalam bentuk flash dan HTML 5 sehingga terlihat lebih dinamis dan elegan. Kita dapat membuat flip book dari berbagai dokumen seperti PDF, Word, Excel, Power Point, Gambar, dan banyak lagi. Selain itu kita juga bisa memasukkan berbagai macam unsur media seperti teks, link, gambar, galeri, youtube, dan bentuk lainnya, yang tentunya akan membuat flip book kita tampil lebih menarik, dinamis, dan elegan serta dapat digunakan untuk beragam keperluan. Hasilnya bisa dijalankan dengan baik pada komputer yang telah terinstall aplikasi ini serta pada iPad, iPhone, Android, dan lainnya.

flipbook3

Proses menginstall kulakukan bersama-sama dan step by step. Karena tidak jarang mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Berkat kesungguhan dan keseriusan siswa akhirnya langkah ini bisa dilalui dengan baik. Setelah menginstall software Kvisoft Flip Book Maker, langkah berikutnya adalah mempersiapkan naskah yang akan dibuat flip book. Oya lupa, untuk tugas membuat flip book sejarah ini sengaja kususun dalam bentuk kerja kelompok karena bagiku lebih efektif dan efisien. Siswa bisa saling membantu diantara teman sehingga pembelajaran kolaboratif ( collaborative learning) akan tercipta. Siswa saling mengisi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

03-sway3

Aku mengarahkan siswa agar naskah di buat dulu dalam format Word dan selanjutnya di convert dalam format PDF. Tujuannya agar lebih mudah saat ingin meng-edit atau mensetting tampilan. Terlihat mereka mengerjakan dengan penuh antusias.

07-sway7

Setelah membuat draft flip book, langkah berikutnya siswa mulai membuat flip book sejarahnya. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuka software Kvisoft Flip Book Maker yang sudah mereka install sebelumnya. Kuberikan instruksi melalui layar LCD sehingga semua siswa bisa melihat. Langkah demi langkah dijalani dan jika ada masalah bisa langsung ditanyakan. 02-sway2

Selanjutnya siswa mulai berkreasi membuat flip book. Ada yang menambahkan video, memberi suara latar, gambar, dan sebagainya. Prinsipnya siswa kuberikan keleluasaan untuk berkreasi membuat flip book sejarah mereka. Dalam tugas ini kusampaikan kriteria penilaian yang meliputi tiga hal yaitu :

1. Content ( Isi ) Materi.

2. Performance ( Penampilan ) Flip Book

3. Artistic ( Memiliki nilai seni )

Tugas dikerjakan dalam waktu 2 minggu dan sebagai salah satu syarat mendapatkan kisi-kisi ujian kenaikan kelas (UKK). Artinya bagi kelompok yang tidak atau belum selesai flip book sejarahnya maka tidak akan mendapat kisi-kisi UKK sejarah. Sehingga mau tidak mau siswa akan mengerjakan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Namun alhamdulillah, mereka memperlihatkan semangat dan motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan tugas yang kuberikan. Bahkan mereka sangat tertantang untuk menampilkan flip book sejarah yang terbaik. Seperti yang disampaikan Daryani Fatimah Putri. Baginya tugas membuat flip book sejarah ini adalah pengalaman yang baru, makanya dia tertantang untuk bisa mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Beda lagi dengan Giovani  Saputri. Baginya tugas ini memberinya kecakapan hidup (life skill) baru, terutama cara membuat flip book, sesuatu yang baru pertama dilakukannya. Ternyata mengasyikkan dan memberi pengalaman baru sehingga suatu saat jika diminta membuat (lagi), tentu tidak akan mengalami kesulitan.

Inilah tujuan sebenarnya dari yang kutugaskan  pada mereka. Memberikan pengalaman baru, terutama memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, dengan menghasilkan sesuatu yang semoga berkesan bagi siswa. Life skill, inilah kata kuncinya. Bagaimana menanamkan pemahaman pada siswa bahwa kita bisa menghasilkan sesuatu dengan usaha sendiri dan sungguh-sungguh. Semoga pengalaman ini berguna bagi mereka di waktu yang akan datang.

Ingin lihat sebagian hasil flip book sejarah buatan siswaku ? Ini dia ……

Maju terus pendidikan Indonesia …!!!

————————————————————

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

bisa juga dilihat di sini

http://guraru.org/guru-berbagi/buat-flipbook-sejarah-yuuuk/

Iklan

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan Nasional selalu jatuh setiap tanggal 2 Mei tiap tahunnya. Namun apakah Anda tahu sejarahnya mengapa tanggal ini dipilih ?

220px-Ki_hajar_dewantara2Tanggal 2 Mei sejatinya adalah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan pendidikan di Indonesia,berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri,suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hadjar Dewantara juga suka menulis , banyak tulisannya yang sangat tajam terutama menyindir Belanda, salah satunya adalah Als Ik Eens nederlander Was ( Seandainya Aku Seorang Belanda ) yang salah satu petikannya adalah sebagai

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya.
Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! “Kalau aku seorang Belanda” Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun
“.

imagesKarena tulisannya tersebut Ki Hajar Dewantara dibuang ke pulau Bangka namun dipindahkan ke Belanda karena pembelaan Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesumo, sepulangnya ke Indonesia Ki Hadjar Dewantara membangun Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 yang menjadi awal dari konsep pendidikan nasional.

Ki Hadjar Dewantoro akhirnya meninggal pada 28 April 1958 dan Pemerintah menetapkan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional sejak tahun 1959 sebagai penghargaan atas jasa-jasanya di bidang pendidikan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, oleh karena itu mari kita menghayati Hari Pendidikan Nasional ini dengan sebaik-baiknya. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Pentingnya Benteng Sebagai Warisan Sejarah Budaya

Indonesia adalah salah satu negara yang sangat unik di dunia. Suatu negara kepulauan dengan beraneka ragam kekayaan alam, berbagai produk agrikultur iklim tropis dan tanah yang sangat subur, telah dikenal dan banyak menarik minat berbagai bangsa-bangasa di seluruh belahan dunia.
Pada sekitar awal abad ke16, begitu banyak bangsa-bangsa asing datang ke Indonesia dan mengeksplorasi kekayaan alam kita. Rempah-rempah, kayu dan barang tambang adalah salah satu dari berbagai komoditi yang menarik pada masa itu. Untuk sejumlah alasan beberapa bangsa asing tersebut berupaya untuk mempertahankan kedudukannya dan memonopoli usaha dagang di Indonesia . Portugis, Belanda dan Inggris sebagai negara-negara yang pernah singgah ke Indonesia, membangun kubu-kubu pertahanan atau benteng dalam upaya mempertahankan keamanan mereka dalam berdagang. Benteng-benteng saat ini memiliki nilai yang tinggi karena merupakan Warisan Sejarah dan Budaya milik bersama dari beberapa negara yang telah disebutkan di atas dan bahkan juga termasuk Indonesia . Beberapa benteng di Indonesia dalam kondisi yang terpelihara dan dimanfaatkan dengan cukup baik, tapi lebih banyak jumlah benteng yang terbengkalai dan dalam kondisi memprihatinkan. Sangat penting untuk memiliki sebuah visi yang nyata dalam melakukan pemugaran benteng sebagai warisan sejarah, karena benteng merupakan salah satu objek yang menarik dalam peranannya sebagai bagian sejarah Indonesia dan kekayaan budaya bangsa.

Terdapat lebih dari 275 benteng pertahanan yang tersebar di seluruh Indonesia, baik di pulau-pulau besar hingga di kepualuan terkecil menjadi saksi perjalanan sejarah yang luar biasa, memiliki kondisi fisik yang beraneka ragam. Sebagai contoh benteng besar yang dahulu dikenal sebagai Kastil Batavia di Jakarta, telah dihancurkan pada awal abad ke19, namun seperti Benteng Vredeburg di Yogyakarta, Benteng Rotterdam di kota Makassar di Sulawesi Tenggara dan Benteng Malborough di Bengkulu masih dalam kondisi yang sangat baik, memiliki fungsi baru, berdiri kokoh dan menjadi landmark kota yang sangat penting. Mengingat fungsinya sebagai bangunan pertahanan sekaligus untuk kegiatan perdagangan, maka benteng harus memperhatikan elemen-elemen dalam seni arsitektur militer. Selain itu penting untuk membuat rencana ruang-ruang untuk para pedagang, kantor, gudang untuk persediaan barang, gereja (tempat ibadah), rumah sakit dan tentu saja barak-barak bagi tentara, gudang amunisi, membuat benteng menjadi sebuah bangunan yang merupakan sebuah kompleks atau kota kecil dengan berbagai fasilitis untuk komunitas di dalamnya. Bahkan dapat dikatakan sebuah pemukiman dari peradaban barat dalam sebuah lingkungan dengan iklim tropis timur. Penentuan untuk lokasi pemukiman dalam skala kecil dan padat ini dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan dan fungsi strategis dari benteng itu sendiri, sehingga pada umumnya benteng berlokasi di daerah pesisir dekat pelabuhan atau di sepanjang tepian sungai.

Kalau melihat dari tata kota masa kerajaan, posisi benteng biasanya terletak dekat pusat kekuasaan (keraton). Tujuannya adalah untuk mengawasi aktivitas dari raja yang dianggap membahayakan kepentingan pemerintah penjajah. Seperti yang ada di kota Surakarta, yang berdiri Benteng Vastenburg disebelah utara Kraton Surakarta dan juga yang ada di Yogyakarta dengan adanya benteng Vredeburg.

Peradaban Awal di Asia dan Afrika

A. Pusat-Pusat Peradaban Awal di Asia

1. Peradaban di India

Daerah India merupakan salah satu tempat munculnya peradaban tertua di dunia khususnya di Asia. Daerah India merupakan suatu Jazirah Benua Asia yang disebut dengan nama anak benua. Di sebelah utara daerah India terbentang Pegunungan Himalaya yang menjadi pemisah India dengan daerah lainnya di Asia.

Antara Pegunungan Himalaya dan Hindu Kush terdapat Celah Kaibar. Celah Kaibar inilah yang dilalui oleh masyarakat India untuk menjalin hubungan dengan daerah-daerah lain di Asia. Di tengah-tengah daerah India terdapat Pegunungan Windya. Pegunungan ini membagi India menjadi dua bagian, yaitu India Utara dan India Selatan. Pada daerah India bagian utara mengalir Sungai Shindu (Indus), Gangga, Yamuna, dan Brahmaputra. Daerah itu merupakan daerah yang subur sehingga sangat padat penduduknya. Di daerah itu pulalah muncul pusat peradaban awal di Asia, yaitu peradaban Lembah Sungai Indus dan Lembah Sungai Gangga.

  1. Peradaban Lembah Sungai Indus (Klik disini)
  2. Peradaban Lembah Sungai Gangga (India Kuno) (klik disini)

2. Peradaban Lembah Sungai Kuning (Cina Kuno)

Sejarah tertua di Cina dimulai dari muara Sungai Kuning (Hwang-Ho, yang sekarang bernama Huang He). Wilayah yang sekarang bernama Cina, pada zaman dahulu disebut Chung-Kuo (negara tengah). Mereka menyebut Chung-Kuo karena mereka yakin bahwa negerinya terletak di tengahtengah dunia. Penduduknya pun disebut Chung Hwa (warga negara-negara tengah). Di kawasan Cina ini mengalir dua sungai besar yaitu Sungai Hwang-Ho (Sungai Kuning) dan Sungai Yang Tse (yang sekarang bernama Chang Jiang). Pada daerah-daerah inilah pertama kalinya tumbuh kebudayaan Cina. Tetapi kenyataannya kebudayaan Cina hanya tumbuh dan berkembang di daerah Lembah Sungai Kuning (Hwang-Ho).

Tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Cina di Lembah Sungai Hwang-Ho didukung oleh beberapa faktor sebagai berikut :

  1. Air Sungai Hwang-Ho membeku pada musim dingin, sehingga sulit bagi masyarakat Cina melaksanakan aktivitas kehidupannya.
  2. Ketika musim semi tiba, salju-salju mencair dan menimbulkan air bah serta menggenangi dataran rendah yang amat luas.

Keadaan tersebut dihadapi oleh masyarakat Cina dengan membuat tanggul raksasa. Sungai Hwang-Ho disebut Sungai Kuning, karena air yang mengalir berwarna kuning.

Di Lembah Sungai Hwang-Ho yang subur ini, pada tahun 2500 SM, tumbuh peradaban manusia yang didukung oleh bangsa Han. Bangsa tersebut merupakan campuran ras Mongoloid dengan ras Kaukasoid. Menurut cerita, pada sekitar 1800-1600 SM di Lembah Sungai Hwang-Ho telah berdiri pemerintahan Dinasti Hsia dengan dasar budaya perunggu, tetapi masyarakatnya belum mengenal tulisan.

Sistem Pemerintahan, Pertanian dan Perdagangan, Aksara, Kepercayaan, Teknologi, Kalender, Filsafat (klik disini)

3. Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris (Mesopotamia)

Peradaban Mesopotamia berkembang di Lembah Sungai Eufrat dan Tigris. Wilayah peradaban ini sekarang menjadi bagian dari negara Irak. Istilah Mesopotamia berasal dari bahasa Yunani, yaitu mesos artinya tengah dan potamos artinya sungai. Peradaban ini pada awalnya dibangun oleh bangsa Sumer dan Semit. Peradaban Mesopotamia hidup dari sektor pertanian dengan sistem irigasinya yang sudah tertata rapi.

Peradaban Mesopotamia banyak meninggalkan hasil kebudayaan seperti: sistem kepercayaan, hukum, iimu pengetahuan, dan tulisan. Hasil peradaban tersebut berasal dari Kebudayaan Sumeria, Akkad, Babylonia, dan Assyria.

Sistem Pemerintahan, Penduduk dan Masyarakat, Pertanian dan Pengairan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Aksara, Penanggalan/Kalender, Kepercayaan, Hukum (klik disini)

B. Pusat Peradaban Kuno di Afrika

Pusat Peradaban di Lembah Sungai Nil (Mesir Kuno)

Lembah Sungai Nil yang subur telah melahirkan peradaban Mesir Kuno. Peradaban tersebut berlangsung sejak sekitar tahun 3500 SM sampai 343 SM. Hal ini diketahui melalui penemuan sebuah batu tulis di daerah Rosetta oleh pasukan Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Batu tulis tersebut berhasil dipaca oleh seorang Prancis yang bernama Jean Francois Champollion (1800 M) sehingga sejak tahun itu terbukalah tabir sejarah Mesir Kuno yang berasal dari tahun 3500 SM.

Sungai Nil bersumber dari suatu mata air yang tertelak jauh di daratan tinggi Afrika Timur. Sungai Nil mengalir ke utara dan setiap tahun mendatangkan banjir. Banjir inilah yang mengubah padang pasir menjadi lembah-lembah yang subur. Seorang sejarawan dari Yunani bernama Herodotus menjuluki daerah Mesir sebagai daerah hadiah dari Sungai Nil. Di muara Sungai Nil terdapat suatu delta yang luas dan situlah terletah kota-kota penting, seperti Kairo, Iskandarja, Abusir, dan Rosetta.

Sistem Pemerintahan, Kepercayaan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Aksara, Astronomi dan Penanggalan, Seni Bangunan, Peninggalan Kebudayaan (klik disini)

APAKAH CHINA MENEMUKAN DUNIA PADA TAHUN 1421 ?

Petualang Christopher Columbus dikenal hebat karena berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492. Namun tahukah Anda bahwa ada penjelajah yang jauh lebih hebat? Dia adalah Laksamana Cheng Ho, seorang Tionghoa Muslim yang hidup sekitar 6 abad lalu.

Selama hidupnya, Cheng Ho atau Zheng He melakukan petualangan antarbenua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Pelayarannya lebih awal 87 tahun dibanding Columbus. Juga lebih dulu dibanding bahariwan dunia lainnya seperti Vasco da Gama yang berlayar dari Portugis ke India tahun 1497. Ferdinand Magellan yang merintis pelayaran mengelilingi bumi pun kalah duluan 114 tahun.

Ekspedisi Cheng Ho ke ‘Samudera Barat’ (sebutan untuk lautan sebelah barat Laut Tiongkok Selatan sampai Afrika Timur) mengerahkan armada raksasa. Pertama mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan 27.800 ribu awak. Pada pelayaran ketiga mengerahkan kapal besar 48 buah, awaknya 27 ribu. Sedangkan pelayaran ketujuh terdiri atas 61 kapal besar dan berawak 27.550 orang. Bila dijumlah dengan kapal kecil, rata-rata pelayarannya mengerahkan 200-an kapal. Sementara Columbus, ketika menemukan benua Amerika ‘cuma’ mengerahkan 3 kapal dan awak 88 orang.

Kapal yang ditumpangi Cheng Ho disebut ‘kapal pusaka‘ merupakan kapal terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton.

Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal serta pelayaran modern di masa kini. Desainnya bagus, tahan terhadap serangan badai, serta dilengkapi teknologi yang saat itu tergolong canggih seperti kompas magnetik.

Mengubah Peta Pelayaran Dunia

Dalam Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) tak terdapat banyak keterangan yang menyinggung tentang asal-usul Cheng Ho. Cuma disebutkan bahwa dia berasal dari Provinsi Yunnan, dikenal sebagai kasim (abdi) San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian biasa diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen.

Saat Ma He berumur 12 tahun, Yunnan yang dikuasai Dinasti Yuan direbut oleh Dinasti Ming. Para pemuda ditawan, bahkan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Tak terkecuali Cheng Ho yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana Beiping (kini Beijing).

Di depan Zhu Di, kasim San Bao berhasil menunjukkan kehebatan dan keberaniannya. Misalnya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yunwen (Dinasti Ming). Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini tampak begitu gagah melibas lawan-lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut tahta kaisar.

Ketika kaisar mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuhan Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri. Kaisar sempat kaget sekaligus terharu mendengar permintaan yang tergolong nekad itu. Bagaimana tidak, amanah itu harus dilakukan dengan mengarungi samudera. Namun karena yang hendak menjalani adalah orang yang dikenal berani, kaisar oke saja.

Berangkatlah armada Tiongkok di bawah komando Cheng Ho (1405). Terlebih dahulu rombongan besar itu menunaikan shalat di sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mampu mencapai wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Jawa). Tahun 1407-1409 berangkat lagi dalam ekspedisi kedua. Ekspedisi ketiga dilakukan 1409-1411. Ketiga ekspedisi tersebut menjangkau India dan Srilanka. Tahun 1413-1415 kembali melaksanakan ekspedisi, kali ini mencapai Aden, Teluk Persia, dan Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima (1417-1419) dan keenam (1421-1422). Ekspedisi terakhir (1431-1433) berhasil mencapai Laut Merah.

Pelayaran luar biasa itu menghasilkan buku Zheng He’s Navigation Map yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur perdagangan Cina berubah, tidak sekadar bertumpu pada ‘Jalur Sutera’ antara Beijing-Bukhara.

Dalam mengarungi samudera, Cheng Ho mampu mengorganisir armada dengan rapi. Kapal-kapalnya terdiri atas atas kapal pusaka (induk), kapal kuda (mengangkut barang-barang dan kuda), kapal penempur, kapal bahan makanan, dan kapal duduk (kapal komando), plus kapal-kapal pembantu. Awak kapalnya ada yang bertugas di bagian komando, teknis navigasi, militer, dan logistik.

Berbeda dengan bahariwan Eropa yang berbekal semangat imperialis, armada raksasa ini tak pernah serakah menduduki tempat-tempat yang disinggahi. Mereka hanya mempropagandakan kejayaan Dinasti Ming, menyebarluaskan pengaruh politik ke negeri asing, serta mendorong perniagaan Tiongkok. Dalam majalah Star Weekly HAMKA pernah menulis, “Senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah ‘senjata budi’ yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi.”

Sementara sejarawan Jeanette Mirsky menyatakan, tujuan ekspedisi itu adalah memperkenalkan dan mengangkat prestise Dinasti Ming ke seluruh dunia. Maksudnya agar negara-negara lain mengakui kebesaran Kaisar Cina sebagai The Son of Heaven (Putra Dewata).

Bukan berarti armada tempurnya tak pernah bertugas sama sekali. Laksamana Cheng Ho pernah memerintahkan tindakan militer untuk menyingkirkan kekuatan yang menghalangi kegiatan perniagaan. Jadi bukan invasi atau ekspansi. Misalnya menumpas gerombolan bajak laut Chen Zhuji di perairan Palembang, Sumatera (1407).

Dalam kurun waktu 1405-1433, Cheng Ho memang pernah singgah di kepulauan Nusantara selama tujuh kali. Ketika berkunjung ke Samudera Pasai, dia menghadiahi lonceng raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Lonceng tersebut saat ini tersimpan di Museum Banda Aceh. Tempat lain di Sumatera yang dikunjungi adalah Palembang dan Bangka.

Selanjutnya mampir di Pelabuhan Bintang Mas (kini Tanjung Priok). Tahun 1415 mendarat di Muara Jati (Cirebon). Beberapa cindera mata khas Tiongkok dipersembahkan kepada Sultan Cirebon. Sebuah piring bertuliskan Ayat Kursi saat ini masih tersimpan baik di Kraton Kasepuhan Cirebon.

Ketika menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) sakit keras. Sauh segera dilempar di pantai Simongan, Semarang. Mereka tinggal di sebuah goa, sebagian lagi membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di sana. Wang juga mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung (disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong), serta membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.

Perjalanan dilanjutkan ke Tuban (Jatim). Kepada warga pribumi, Cheng Ho mengajarkan tatacara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan. Hal yang sama juga dilakukan sewaktu singgah di Gresik. Lawatan dilanjutkan ke Surabaya. Pas hari Jumat, dan Cheng Ho mendapat kehormatan menyampaikan khotbah di hadapan warga Surabaya yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Kunjungan dilanjutkan ke Mojokerto yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Di kraton, Raja Majapahit, Wikramawardhana, berkenan mengadakan audiensi dengan rombongan bahariwan Tiongkok ini.

Muslim Taat

Sebagai orang Hui (etnis di Cina yang identik dengan Muslim) Cheng Ho sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Kakeknya seorang haji. Ayahnya, Ma Hazhi, juga sudah menunaikan rukun Islam kelima itu. Menurut Hembing Wijayakusuma, nama hazhi dalam bahasa Mandarin memang mengacu pada kata ‘haji’.

Bulan Ramadhan adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu Cheng Ho. Pada tanggal 7 Desember 1411 sesudah pelayarannya yang ke-3, pejabat di istana Beijing ini menyempatkan mudik ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, Cheng Ho memilih berpuasa di kampungnya yang senantiasa semarak. Dia tenggelam dalam kegiatan keagamaan sampai Idul Fitri tiba.

Setiap kali berlayar, banyak awak kapal beragama Islam yang turut serta. Sebelum melaut, mereka melaksanakan shalat jamaah. Beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha’ban, dan Pu Heri. “Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam,” tulis HAMKA.

Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia, bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi), berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.

Kemakmuran masjid juga tak pernah dilupakan Cheng Ho. Tahun 1413 dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430 memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.

Beberapa sejarawan meyakini bahwa petualang sejati ini sudah menunaikan ibadah haji. Memang tak ada catatan sejarah yang membuktikan itu, tapi pelaksanaan haji kemungkinan dilakukan saat ekspedisi terakhir (1431-1433). Saat itu rombongannya memang singgah di Jeddah.

Selama hidupnya Cheng Ho memang sering mengutarakan hasrat untuk pergi haji sebagaimana kakek dan ayahnya. Obsesi ini bahkan terbawa sampai menjelang ajalnya. Sampai-sampai ia mengutus Ma Huan pergi ke Mekah agar melukiskan Ka’bah untuknya. Muslim pemberani ini meninggal pada tahun 1433 di Calicut (India), dalam pelayaran terakhirnya.

( Sumber : http://permai1.tripod.com/chengho.html)