Category Archives: Tulisanku

Lokakarya Kepenulisan Seluruh Soloraya

Budaya menulis sangat sedikit peminatnya dibandingkan budaya yang lain. Hal ini dikarenakan dibutuhkan keterampilan saat menulis seperti mengolah kata, memilih kata serta keterampilan dalam mengaitkan kalimat yang satu dengan yang lain. Wajar apabila tak sedikit guru yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan karya pengembangan diri, misalnya membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Dalam pelaksanaannya membuat PTK tidak semudah yang diperkirakan. Banyak guru yang mengalami kendala dan hambatan dalam melaksanakan kegiatan pengembangan profesi guru yang satu ini. Secara umum, permasalahan melaksanakan kegiatan PTK sering berawal dari keterbatasan yaitu pertama, terbatasnya waktu.

Keterbatasan waktu dikaitkan dengan beban mengajar per minggu dan tugas lainnya. Guru sertifikasi mempunyai beban mengajar tatap muka 24 jam per minggu. Belum lagi tugas tambahan lain di sekolah, tugas administratif dan bimbingan. keterbatasan saat mengikuti prosedur kenaikan pangkat. Kedua, kemampuan menulis laporan. Kegiatan ini berhubungan dengan kemampuan guru menyampaikan gagasan kepada orang lain melalui karya tulis dalam bentuk makalah, diktat, hand out, tulisan ilmiah populer, dan lain sebagainya. Guru dituntut bisa membuat karya tulis ilmiah dan mempublikasikannya.

Sebagai seorang guru sudah seharusnya mampu memberi contoh kepada peserta didik untuk menulis. Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari menulis seperti tambahan penghasilan dan wawasan. Kata kuncinya adalah jangan berhenti belajar. Haram hukumnya jika guru sampai berhenti belajar karena mereka harus mengajar. Apa jadinya jika seorang guru malas atau berhenti belajar. Ilmu yang disampaikan pasti tidak berkualitas. Maka jika guru sudah malas belajar, guru tersebut harus bersiap meninggalkan pekerjaannya.

Di negara maju menulis telah menjadi gaya hidup masyarakatnya. Aktivitas menulis biasanya berbanding lurus dengan aktivitas membaca. Dengan kata lain budaya literasi masyarakatnya sudah tinggi. Membudayakan membaca dan menulis perlu proses jika dalam suatu masyarakat kebiasaan tersebut belum terbentuk.

Menurut data statistik UNESCO 2012, menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.

Pasal 1 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Secara sederhana dapat digambarkan bahwa tugas guru adalah mengajar dan mendidik. Sebagai seorang pengajar, guru mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada para siswa. Hal ini berkaitan dengan penguasaan pada ranah kognitif dan membekali keterampilan pada ranah psikomotorik, sedangkan tugas guru sebagai pendidik adalah menanamkan sejumah nilai, moral, normal (transformation of value) kepada siswa agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur. Dengan kata lain, mendidik bergerak pada ranah afektif, dan hal ini menjadi fondasi terhadap ranah kognitif dan psikomotor.

William Arthur Ward menyampaikan bahwa guru biasa hanya memberitahu, guru baik menjelaskan, guru yang sangat baik menunjukkan, guru hebat menginspirasi. Kalimat inspiratif tersebut sudah sangat sering dikutip atau disampaikan baik melalui buku, poster, atau pada saat pelatihan. Tujuannya untuk memotivasi guru agar jangan hanya jadi guru biasa-biasa saja, tapi meraih level yang paling tinggi yaitu guru yang hebat.

Salah satu karakter guru sebagai pendidik yang hebat adalah mampu mengembangkan profesionalismenya dan salah satu bentuknya adalah menulis. Berdasarkan Permenegpan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, seorang guru wajib menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk dapat naik pangkat.

Dengan kata lain, menulis dapat menunjang untuk pengembangan karir guru. Guru yang rajin atau terampil menulis adalah guru yang istimewa, karena tidak setiap guru mampu melakukannya. Berkaca dari hal tersebut, kemarin senin (30 / 4 / 2018), penulis mengikuti acara “Lokakarya Kepenulisan dan Sayembara Literasi se Soloraya” yang dihelat oleh Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI) bersama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Acara dikemas dalam bentuk Bimtek menulis artikel yang kemudian diperlombakan. Kegiatan puncak akan dilaksanakan pada bulan Juni 2018, dengan agenda penyerahan penghargaan bagi para juara. Selain penyerahan penghargaan bagi para juara, juga akan diadakan penganugerahan penghargaan bagi guru yang memiliki komitmen dalam hal mengembangkan literasi. Hal ini sebagai motivasi agar para guru semangat dalam mengembangkan budaya literasi. Karena bagaimana mungkin siswa bisa memiliki ketrampilan literasi jika guru tidak memiliki ketrampilan literasi.

Artikel ini juga ditayangkan di kompasiana.com

 https://www.kompasiana.com/rusdihistory/5ae92b72f133441d855fa4c4/nyari-ilmu-lagi-trus-menulis-lagi

Iklan

Kado Manis di Hardiknas

Momen hari pendidikan nasional (Hardiknas) tahun ini begitu istimewa, terutama buatku. Kenapa ? Ya seperti peringatan Hardiknas tahun-tahun sebelumnya, madrasah mengadakan upacara bendera beserta rangkaiannya. Namun, pagi ini, 2 Mei 2018, semua terasa beda ketika mendapat paket kiriman dari JNE, setelah upacara bendera. Sebuah tas warna coklat dengan ornamen batik terlihat di ruang kantor  Tata Usaha (TU). Di dalamnya ada dua buah majalah bertuliskan “Cahaya Hati”. Kenapa majalah ini di kirimkan padaku ? pasti bertanya-tanya khan hehee…

Jadi ceritanya itu dulu sempat di wawancara oleh wartawan majalah ini seputar pembelajaran sejarah yang aktif dan kreatif.

Sedikit cerita ya..

Jadi aku adalah guru sejarah di MAN 1 Surakarta, mengajar sejak tahun 2003. Sejak pertama kali masuk hingga sekarang, image bahwa sejarah adalah pembelajaran yang membosankan itu tidak (pernah) hilang. Dalam pandangan siswa, sejarah itu bikin mengantuk, tidak asyik, hanya ceramah dan kesan yang tidak enak lainnya. Iniah yang “menantang” aku untuk mengubah image itu. Bahwa sejarah tidak se “boring” yang mereka duga. Sejarah bisa lho di kemas dalam suasana yang asyik dan menyenangkan. Makanya aku banyak belajar sama sesama sejawat guru sejarah tentang model-model pembelajaran sejarah yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Selain berdiskusi dengan sesama guru sejarah, aku juga mencoba mengembangkan sendiri  model-model pembelajaran sejarah yang menarik. Nah, di artikel inilah aku berbagi pengalaman seputar hal tersebut. Pengin tahu isi lengkapnya ? Buruan di beli ya hehee…

Selamat hari pendidikan nasional 2018

“Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”

Buat Flip Book Sejarah Yuuuk…

” Anak-anak, pernahkah kalian mendengar istilah e-book ?”

Itulah kalimat yang kuucapkan di awal pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 pagi itu.

Serempak  mereka menjawab “Sudah pak…!”

“Coba, siapa yang bisa menjelaskan apa itu e-book ?

“Buku elektronik pak,” jawab Siti, yang duduk di meja depan meja guru. “Iya benar”.

“Siapa lagi yang mau menjawab ?”  tanyaku menantang.

e- book itu  adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar,” jawab Dewi, siswiku yang terkenal jika menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sistematis.

” Luarrr biasa! ” jawabku.

“Coba, siapa yang pernah membuat e-book ?” tanyaku kemudian. Seketika terlihat wajah-wajah yang sebelumnya riuh, tiba-tiba diam. Gelengan kepala mereka  adalah pemandangan yang kemudian kusaksikan.

” Belum pernah membuat ya,” tanyaku seolah menggelitik rasa penasaran mereka.

“Belum paaak..!” jawab mereka serentak.

“Nah, bapak akan memberikan pengalaman baru buat kalian. Jika tadi bapak bertanya apakah ada yang pernah membuat e-book, ternyata hampir semua menjawab belum. Tapi kalau memanfaatkan e-book, rata-rata dari kalian pasti pernah, betul ?” tanyaku menirukan gaya bicara seorang da’i kondang sejuta umat.

“Betul paaaak..!” serempak mereka menjawab.

————————————–

Itulah sekilas perbincanganku bersama siswi kelas XI IPS 1 tentang pengalaman menggunakan e-book. Namun sebenarnya pertanyaan tadi kuajukan sebagai pancingan kepada siswa tentang pemahaman mereka seputar e-book dan ternyata rata-rata mereka sudah sangat familiar. Nah…barulah aku mulai menyampaikan kepada mereka bahwa selain e-book ada juga flip book daaaan….mereka akan kuajak  membuat sendiri, ingat lho…MEMBUAT SENDIRI, bukan hanya menggunakan saja.

Apa beda e-book dan flip book ?

E – book adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar.

Sedangkan Flip Book adalah  buku dengan serangkaian gambar yang bervariasi secara bertahap dari satu halaman ke halaman berikutnya, sehingga ketika halamannya diputar dengan cepat, gambar-gambar itu tampak bernyawa dengan simulasi gerakan atau perubahan lainnya. Buku flip sering di ilustrasikan buku untuk anak-anak, tapi mungkin juga disesuaikan dengan orang dewasa danmenggunakan serangkaian foto dan bukan gambar. Buku flip tidak selalu merupakan buku terpisah, tapi mungkin muncul sebagai fitur tambahan di buku atau majalah biasa, seringkali di sudut halaman.

Gimana ? Bingung ya ..?

Simpelnya begini, Flip Book adalah buku elektronik seperti e-book, namun kelebihannya flip book bisa di buka lembar demi lembar. Kalau e-book sangat statis sifatnya ( tidak bisa di buka lembar demi lembar ). Jadi lebih dinamis dan menarik. Apalagi  flip book juga bisa di beri gambar, animasi, musik, video dan lain-lain. Sehingga tentu sangat menarik buat siswa. Bersama sejarah, aku akan mengajak mereka menjalani  proses bersama membuat flip book sejarah.

Langkah awal yang kulakukan adalah menginstall sofware yang digunakan membuat flip book. Banyak memang software yang bisa dipakai dan itu semua bisa dicari di internet. Ada yang berbayar, trial bahkan free. Nah, biar lebih praktis dan tidak menyulitkan, maka sengaja kupilihkan software yang portable. Pilihan akhirnya jatuh pada software Kvisof Flipbook Maker Pro 4.3.3.0 Portable Full. Mengapa memilih Kvisof Flip Book Maker Portable ? Alasan yang paling mendasar adalah tidak memerlukan proses instalasi dalam pengunaannya. Selain itu Kvisoft Flip Book Maker adalah salah satu aplikasi flip book yang cukup terkenal saat ini.

flipbook3

Aplikasi ini diciptakan khusus untuk membuat dan mendesain halaman, brosur, katalog, dalam bentuk flash dan HTML 5 sehingga terlihat lebih dinamis dan elegan. Kita dapat membuat flip book dari berbagai dokumen seperti PDF, Word, Excel, Power Point, Gambar, dan banyak lagi. Selain itu kita juga bisa memasukkan berbagai macam unsur media seperti teks, link, gambar, galeri, youtube, dan bentuk lainnya, yang tentunya akan membuat flip book kita tampil lebih menarik, dinamis, dan elegan serta dapat digunakan untuk beragam keperluan. Hasilnya bisa dijalankan dengan baik pada komputer yang telah terinstall aplikasi ini serta pada iPad, iPhone, Android, dan lainnya.

flipbook3

Proses menginstall kulakukan bersama-sama dan step by step. Karena tidak jarang mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Berkat kesungguhan dan keseriusan siswa akhirnya langkah ini bisa dilalui dengan baik. Setelah menginstall software Kvisoft Flip Book Maker, langkah berikutnya adalah mempersiapkan naskah yang akan dibuat flip book. Oya lupa, untuk tugas membuat flip book sejarah ini sengaja kususun dalam bentuk kerja kelompok karena bagiku lebih efektif dan efisien. Siswa bisa saling membantu diantara teman sehingga pembelajaran kolaboratif ( collaborative learning) akan tercipta. Siswa saling mengisi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

03-sway3

Aku mengarahkan siswa agar naskah di buat dulu dalam format Word dan selanjutnya di convert dalam format PDF. Tujuannya agar lebih mudah saat ingin meng-edit atau mensetting tampilan. Terlihat mereka mengerjakan dengan penuh antusias.

07-sway7

Setelah membuat draft flip book, langkah berikutnya siswa mulai membuat flip book sejarahnya. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuka software Kvisoft Flip Book Maker yang sudah mereka install sebelumnya. Kuberikan instruksi melalui layar LCD sehingga semua siswa bisa melihat. Langkah demi langkah dijalani dan jika ada masalah bisa langsung ditanyakan. 02-sway2

Selanjutnya siswa mulai berkreasi membuat flip book. Ada yang menambahkan video, memberi suara latar, gambar, dan sebagainya. Prinsipnya siswa kuberikan keleluasaan untuk berkreasi membuat flip book sejarah mereka. Dalam tugas ini kusampaikan kriteria penilaian yang meliputi tiga hal yaitu :

1. Content ( Isi ) Materi.

2. Performance ( Penampilan ) Flip Book

3. Artistic ( Memiliki nilai seni )

Tugas dikerjakan dalam waktu 2 minggu dan sebagai salah satu syarat mendapatkan kisi-kisi ujian kenaikan kelas (UKK). Artinya bagi kelompok yang tidak atau belum selesai flip book sejarahnya maka tidak akan mendapat kisi-kisi UKK sejarah. Sehingga mau tidak mau siswa akan mengerjakan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Namun alhamdulillah, mereka memperlihatkan semangat dan motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan tugas yang kuberikan. Bahkan mereka sangat tertantang untuk menampilkan flip book sejarah yang terbaik. Seperti yang disampaikan Daryani Fatimah Putri. Baginya tugas membuat flip book sejarah ini adalah pengalaman yang baru, makanya dia tertantang untuk bisa mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Beda lagi dengan Giovani  Saputri. Baginya tugas ini memberinya kecakapan hidup (life skill) baru, terutama cara membuat flip book, sesuatu yang baru pertama dilakukannya. Ternyata mengasyikkan dan memberi pengalaman baru sehingga suatu saat jika diminta membuat (lagi), tentu tidak akan mengalami kesulitan.

Inilah tujuan sebenarnya dari yang kutugaskan  pada mereka. Memberikan pengalaman baru, terutama memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, dengan menghasilkan sesuatu yang semoga berkesan bagi siswa. Life skill, inilah kata kuncinya. Bagaimana menanamkan pemahaman pada siswa bahwa kita bisa menghasilkan sesuatu dengan usaha sendiri dan sungguh-sungguh. Semoga pengalaman ini berguna bagi mereka di waktu yang akan datang.

Ingin lihat sebagian hasil flip book sejarah buatan siswaku ? Ini dia ……

Maju terus pendidikan Indonesia …!!!

————————————————————

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

bisa juga dilihat di sini

http://guraru.org/guru-berbagi/buat-flipbook-sejarah-yuuuk/

Workshop Pembuatan Media Ajar Berbasis Android

sagusanov3

Latar Belakang

Pengguna Smartphone berbasis Android saat ini sudah sangat familiar hampir seluruh lapisan generasi manusia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan bayi sekalipun jika diperlihatkan dengan layar Smart phone berbasis Android sudah tampak tertarik padanya. Penggunaan Smartphone berbasis Android juga sudah menjadi hal biasa bagi anak-anak pra sekolah sampai perguruan tinggi. Anak-anak yang nalurinya suka bermain dalam era digital saat ini sudah beralih pada permainan yang ada hubungannya dengan Smartphone berbasis Android, baik digunakan untuk permainan maupun untuk berkomunikasi dengan teman sejawat menggunakan media sosial. Sebagai akibatnya guru yang mengajarkan mereka merasa kesulitan untuk memahami perkembangannya jika tidak memasuki dunia mereka. Untuk dapat memahami karakter dan perilaku, serta untuk dapat mengaktifkan siswa dalam belajar maka guru perlu memahami perkembangan dunia digital saat ini.

Perubahan dunia anak-anak sebagai peserta didik saat ini harus dibarengi dengan kemajuan guru dalam memanfaatkan IT Smartphone berbasis Android (ponsel, gadget, tab, dll.). Sebagai fasilitator pembelajaran dalam dunia pendidikan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, guru seharusnya turut serta membantu meminimalisir dampak negatif dari Smart phone berbasis Android. Salah satunya dengan menyajikan/membuat aplikasi Smart phone berbasis Android yang bersifat edukatif seperti materi pembelajaran, permainan interaktif edukatif, ataupun mesin pencari khusus untuk kalangan pelajar. Aplikasi tersebut juga dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran di kelas.

Banyaknya guru dan siswa yang mempunyai Smartphone berbasis Android, sehingga membuat satu aplikasi berbasis Android dengan konten pendidikan akan memberikan manfaat bagi Dunia Pendidikan Kita. Disamping itu juga keharusan bagi guru menyiapkan PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) mulai gol III/b berupa Hasil Penelitan, Karya Ilmiah ataupun Karya Inovatif. Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, maka perlu adanya usaha dari guru untuk meningkatkan kompetensinya dalam bidang informasi dan teknologi (IT) atau yang lebih dikenal dengan digital. Usaha yang dapat dilakukan adalah melalui pelatihan-pelatihan, baik yang dilakukan secara mandiri oleh guru maupun yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu usaha mandiri guru aktif mengikuti kegiatan pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) diantaranya melalui workshop Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV).

Nama Kegiatan

Kegiatan workshop peningkatan kompetensi  guru ini dinamakan Workshop Online Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV) Kelas Telegram Sagusanov 7. SAGUSANOV merupakan gerakan untuk membuat karya inovasi di bidang pembelajaran berbasis android. Melalui workshop SAGUSANOV, guru dilatih membuat aplikasi materi pembelajaran berbasis android.

Maksud dan Tujuan Kegiatan

 Adapun tujuan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” sebagai berikut.

1.  Guru memahami proses migrasi materi pembelajaran berbasis hardcopy atau softcopy ke bentuk teknologi Smart phone berbasis Android.

2. Mengajak guru untuk memberikan materi pembelajaran yang menarik dengan memanfaatkan Smart phone berbasis Android.

3. Unsur PKB (Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan) Sub Unsur : Melaksanakan Karya Inovatif. Poin a. Membuat alat pelajaran (Kategori kompleks ). Angka Kredit = 2

Dampak Kegiatan 

 Dampak dari kegiatan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” bagi pesertanya adalah :

1.  Meningkatkan kemampuan guru dalam pemanfaatan teknologi informasi terutama Smart

     phone berbasis Android dalam komunikasi media sosial (telegram) dan kegiatan

    pembelajaran.

2. Meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran berbasis android

berupa materi pembelajaran dan soal-soal interaktif.

3. Membantu mengimbangi konten-konten negatif dengan membuat konten-konten positif (edukatif) dalam aplikasi Smart phone berbasis Android.

Penyelenggara Kegiatan

Penyelenggara kegiatan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” adalah Ikatan Guru Indonesia (IGI).  Ikatan Guru Indonesia (IGI) adalah organisai guru yang diinisiasi sejak tahun 2000 dengan nama Klub Guru Indonesia dan secara resmi berbadan hukum pada tanggal 26 November 2009 dan disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM dengan Surat Keputusan Nomor AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009. Kepengurusan baru IGI 2016-2021 juga telah terdaftar di kementerian hukum dan ham dengan surat keputusan nomor AHU-0000308.A.H.01.08.Tahun 2016 dengan Ketua Umum Muhammad Ramli Rahim dari Sulsel dan Sekjen Mampuono dari Jawa Tengah.

Pola Penyelenggaraan Kegiatan

Pola penyelenggaraan kegiatan adalah 32 JP secara online (moda daring), dengan materi sebagai berikut:

sertifikat

Pelaksanaan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)”ini dilaksanakan melalui kelas telegram SAGUSANOV sesuai waktu yang telah ditentukan penyelenggara. Materi workshop dibagikan melalui chanel group telegram SAGUSANOV dalam bentuk PDF, gambar, aplikasi dll. Proses diskusi dan pelaporan hasil karya peserta dilakukan melalui  group telegram SAGUSANOV Indonesia dan SAGUSANOV 7. Peserta yang telah menyelesaikan tugas seluruh materi “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” berhak mendapat sertifikat.

Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Kegiatan 

Pelaksanaan workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” dilaksanakan pada tanggal 5 sampai dengan 26 Februari 2017 dengan waktu dan tempat fleksibel, menyesuaikan kondisi peserta namun terbatas sampai tanggal pelaksasanaan kegiatan yang telah ditetapkan penyelenggara tersebut.

Nama-nama Pelatih/Narasumber

Pelatih utama workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” adalah Abdul Kholiq, S.Kom. dan berberapa narasumber SAGUSANOV sebagai administrator antara lain: Fathur Rahman, Rusdi Mustapa, Tri Goesema Putra, Abdul Mujid dan Gusik Inux. 

Hasil Karya

Hasil dari workshop online “Satu Guru Satu Inovasi (SAGUSANOV)” ini, penyusun sebagai peserta mampu membuat aplikasi Smart phone berbasis Android materi pembelajaran Sejarah Kelas XI Wajib Semester Genap dengan tema “Peristiwa Seputar Proklamasi”.

Fitur dalam aplikasi dapat dilihat video yang telah di upload ke youtube dengan alamat  sebagai berikut https://www.youtube.com/watch?v=bcZ5zmG9xvI&t=1s.

Selain itu aplikasi juga bisa di download dari google play dengan alamat sebagai berikut https://play.google.com/store/apps/details?id=sagusanov.pakrusdimustapa.kelas11

Semoga bermanfaat bagi perkembangan pendidikan Indonesia.

 

Penantianku Terjawab Sudah….

Alhamdulillah, itulah ungkapan pertamaku ketika melihat pengumuman lomba blogger guru yang diadakan Acer dan Guraru, terpampang di group guraru (guru era baru) yang bisa dilihat di sini. Guraru adalah komunitas bagi guru-guru seluruh Indonesia yang memiliki komitmen besar untuk pendidikan Indonesia lebih baik. Setiap tahun guraru mengadakan lomba penulisan artikel bagi guru-guru se Indonesia. Tahun 2015 ini adalah gelaran yang kesekian kalinya diadakan. Event yang menggandeng Acer sebagai sponsornya itu merupakan media bagi guru-guru untuk mengaktualisasikan dirinya lewat tulisan. Kebetulan aku mulai ikut event lomba menulis artikel ini sejak tahun 2012. Keikutsertaan pertama kali yang berbuah “manis” dengan masuknya namaku diantara sekian finalis dari seluruh Indonesia ( lebih jelas lihat di sini).

Pengalaman pertama yang berkesan hingga akhirnya kembali memberanikan diri mengikuti event serupa tahun ini. Event yang bertajuk Lomba Blogger Guru dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, mengangkat dua tema besar yaitu pengalaman menyenangkan selama jadi guru dan pengalaman menyenangkan pembelajaran di luar kelas. Dengan hadiah keren yang ditawarkan Acer berupa laptop Acer One 10 tentu menjadi magnet bagi semua guru di Indonesia untuk ambil bagian (tak terkecuali aku tentunya). Semangat mengikuti event ini aku buktikan dengan mengirim 11 artikel yang rata-rata adalah pengalaman mengajar bersama siswa/siswi di MAN 1 Surakarta. Mungkin ngebet ingin dapat laptop Acer One 10 ya hehehe…Tapi jujur itulah yang ada di benakku saat itu. Selain juga untuk berbagi kepada orang lain yang semoga bisa menginspirasi. Batas waktu pengiriman artikel adalah tanggal 21 Mei 2015.

guru blogger

Setelah waktu pengiriman artikel berakhir tibalah saatnya masa penilaian yang dilakukan mulai tanggal 21 Mei 2015 – 26 Mei 2015. Lima hari yang mendebarkan bagi semua peserta lomba, termasuk aku tentunya. Deg-degan, H2C (harap-harap cemas) adalah suasana hati yang menghinggapiku. Apalagi setalah menginjak tanggal 26 Mei, waktu pengumuman. Membuka laman guraru.org adalah langkah praktis yang kulakukan. Namun setelah dibuka eee ternyata pengumuman pemenang ternyata belum ada. Sempat kecewa juga hehehe…. karena penantian selama hampir 5 hari belum terjawab. Hingga akhirnya tepat di tanggal 28 Mei 2015, akhirnya penantian itu terjawab sudah. Pengumuman pemenang lomba di muat oleh Guraru. Bukan di laman resmi guraru tapi di Group FB Guraru. Itu pun juga tanpa sengaja membukanya. Terpampanglah di situ nama-nama pemenang.

pengumuman juara guraru

Terlihat di situ nama “Rusdi Mustapa” nongol diantara nama-nama pemenang yang lain. Exited pokoknya…ternyata 1 diantara 11 artikelku yang berjudul “Ayo Berkreasi dengan Sampah”  mampu “memukau” dewan juri dan memilihnya menjadi pemenang. Bangga, senang dan bersyukur tentunya. Walau tidak sesuai dengan harapan yang ingin dapat laptop Acer One 10, namun pencapaian ini suatu kemajuan bagiku. Karena di tahun 2012, ketika pertama kali ikut lomba, namaku berada di peringkat 12 dari 13 finalis se Indonesia. Tahun ini menduduki peringkat ke tiga (jika dilihat dari jumlah pemenangnya). Bersyukur dan menjadi motivasi untuk meningkat dan yang penting semakin memberi energi besar untuk tetap menulis.

Jadi teringat (lagi) dengan kata-kata teman kompasianer senior, Niken Satyawati, saat menjadi salah satupembicara seminar jurnalistik di MAN 1 Surakarta. Dia bilang gini “menulislah dan lihatlah apa yang terjadi..” Inilah yang barangkali menjadi titik balik dari semangat menulisku. Karena sebelumnya aku pernah punya pengalaman tidak mengenakkan, ketika postinganku di blog pribadi dibajak orang lain. Peristiwa itu sempat membuat semangat menulisku menurun. Tapi semangat dan motivasi bu Niken Satyawati mampu menghidupkan lagi api semangatku kembali menyala.

bu niken