Ratusan Guru Jawa Tengah dan DIY Ikuti Workshop Penulisan Buku

Guru adalah profesi yang tidak bisa lepas dari kegiatan tulis menulis. Namun fakta menunjukkan bahwa masih sedikit guru yang produktif menulis, baik artikel maupun buku. Demikian hasil pengamatan dan riset yang dilakukan Agus M. Irkham pada 2009 sebagaimana dirilis dalam buku Gempa Literasi (2012).

Padahal, guru sebenarnya profesi yang berlimpah gagasan untuk ditulis dan dibagikan kepada orang lain. Berlimpah gagasan? Benar, sebab mereka selalu aktif berinteraksi dengan warga sekolah dan masyarakat, sehingga langsung maupun tidak langsung mudah memperoleh ide-ide segar ataupun gagasan untuk mengembangkan suatu inovasi dalam bentuk tulisan.

Berawal dari latar belakang inilah, SangPengajar.Com, salah satu laman yang sangat peduli dengan dunia pendidikan, menghelat kegiatan yang bertajuk “Bedah Buku dan Workshop Penulisan Buku” bertempat di Red Chilies Hotel Solo, Minggu (1/7) ini.  Kegiatan diikuti oleh 100 lebih peserta yang datang dari wilayah Jawa Tengah dan DIY, bahkan ada satu peserta yang datang dari Kalimantan. Menurut Agus Dwianto selaku owner SangPengajar.com, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka turut menyebarkan virus literasi di kalangan para guru.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan ketiga kali yang kami adakan setelah sebelumnya mengadakan kegiatan workshop penulisan artikel di surat kabar, juga untuk kalangan guru,” kata Agus Dwianto.

Mengapa buku ? karena masih banyak rekan guru yang belum menelorkan ide dan gagasannya dalam sebuah buku. Padahal banyak hal yang bisa diangkat menjadi buku. Interaksi dengan siswa dengan segala dinamikanya tentu menjadi sumber ide tulisan yang tidak akan pernah habis.

Dalam kesempatan ini tampil dua pembicara yang membedah buku yaitu Rusdi Mustapa dengan buku berjudul “Mengajar Kreatif Bersama Guru Inovatif” dan Agus Dwianto dengan buku berjudul “Guru Desa Membelah Angkasa”. Kedua pembicara juga berbagi pengalaman dalam menulis buku. Tampil sebagai pembicara pertama adalah Agus Dwianto yang menguraikan pengalamannya selama menjadi guru.

Seorang guru yang mengabdi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Paranggupito dan SMP Negeri 1 Baturetno Kabupaten Wonogiri,memberi tantangan tersendiri baginya. Bagaimana kondisi lingkungan yang bisa dikatakan “pelosok”, pak Agus (begitu biasa dipanggil), mampu menjelma menjadi sosok guru yang sarat dengan prestasi. Yang paling fenomenal adalah meraih penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan 2015 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Pencapaian yang sangat menginspirasi dari seorang guru yang sering disebut “guru ndeso”. Sedangkan saat menyampaikan pemaparan tentang menulis buku, pak Agus menyampaikan hal-hal yang harus diketahui jika ingin menulis buku. Diantaranya saat menulis buku haruslah  menarik, karena dari sanalah pembaca akan memutuskan meneruskan membuka lembar demi lembar halaman buku atau menutup kembali bukunya. Istilahnya judul buku haruslah seksi.

Selain itu tampilan cover juga harus menarik. Judul dan cover yang menarik adalah salah satu kunci dalam menulis buku. Selain itu adalah aturan-aturan dalam menulis buku seperti penggunaan bahasa baku  yang sesuai dengan kaidah penulisan yang ada di PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Penulis saat menyampaikan materi ( foto : dokumen pribadi )
Penulis saat menyampaikan materi ( foto : dokumen pribadi )

Di sesi kedua tampil Rusdi Mustapa yang membedah bukunya “Mengajar Kreatif Bersama Guru Inovatif “. Mengapa guru harus kreatif dan Inovatif ? Di era yang semakin maju seperti saat ini, guru dituntut harus selalu meng-upgrade kemampuan mengajarnya. Tidak bisa seorang guru tetap mempertahankan cara mengajarnya yang terbilang sudah konvensional.  Kata kuncinya adalah ” Kreatif dan Inovatif !

Ketika siswa sudah sangat familiar dengan gadget, guru harus juga mengikuti perkembangan itu. Misalnya memanfaatkan gadget dalam pembelajaran. Di contohkan  membuat QR Code ( barcode ) yang bisa di scan dengan android. Siswa bisa menggunakan android di bawah bimbingan guru. Misal lagi ketiga siswa kita sangat gandrung dengan  komik, kenapa tidak guru mengadopsi kesenangan itu dengan cara membuat komik yang berisi materi pelajaran. Seperti yang telah dilakukan pak RM( begitu panggilan akrab Rusdi Mustapa ), yang mengampu pelajaran sejarah, memberikan tugas membuat “Komik Sejararah” sendiri menggunakan software Comic Life.

“Sebenarnya banyak software yang bisa dimanfaatkan guru dalam pembelajaran yang tentu saja akan menarik buat siswa. Misalnya software untuk membuat TTS (Teka-teki Silang) yaitu Crossword Maker atau juga memanfaatkan Zipgrade, yaitu software yang bisa untuk menscan Lembar Jawab soal ( semacam LJK namun menggunakan Android), ” urai pak RM. Kreasi dan inovasi seperti inilah yang bisa dikenalkan kepada siswa dan tentu mereka akan lebih tertarik.

Peserta antusias mengikuti acara ( foto : dokumen pribadi )
Peserta antusias mengikuti acara ( foto : dokumen pribadi )

Selain pemanfaatan TIK, pak RM juga mengenalkan pembelajaran yang menggunakan model bermain. Kenapa bermain ? Menurut pak RM, yang pernah menjadi Juara 2 Guru Teladan tingkat Jawa Tengah tahun 2017, sifat dasar seorang anak adalah bermain, maka tidak ada salahnya membawa sifat dasar itu dalam pembelajaran, tentu saja disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Misalnya mengadakan permainan “Pepes Teri” (Permainan Pesawat Berisi Materi), Lelang Soal, Ulangan Ular-ularan, Yel-yel sejarah, Who wants to be a teacher ? dan lain-lain.

Prinsipnya adalah bagaimana membuat siswa itu SENANG dan ENJOY dengan pembelajaran yang dilakukan guru, maka selanjutnya mereka bisa diarahkan sesuai keinginan guru. Karena prinsipnya MENYENANGKAN itulah BELAJAR.

Sedangkan saat menyampaikan materi tentang penulisan buku, pak RM menyampaikan bahwa sumber tulisan dari buku yang telah diterbitkan adalah postingan di media sosial yang dimiliki, yaitu blog  history1978.wordpress.comkompasiana.comguraru.org, dan yang lain. Postingan di media sosial, menurut pak RM, merupakan “Bank Artikel” yang  bisa dimaksimalkan bahkan bisa dijadikan buku. Tentu saja harus melalui proses editing dan penyesuaian bahasa. Banyak guru yang masih bingung, saat ingin menulis harus memulai dari mana. Dalam kesempatan ini Pak RM memberikan tips singkat,  pertama, Mulailah dari KATA PERTAMA, kedua, Jangan terlalu berfikir, tulis saja, dan ketiga Perbanyak latihan. Semoga dari kegiatan ini bisa memberi motivasi dan inspirasi bagi guru untuk mulai “mendokumentasikan” pengalaman mengajar bersama siswa dalam sebuah buku, sebagai sarana aktualisasi diri dan menularkan ide gagasannya kepada khalayak. Semoga.

Salam Literasi !!!!

Iklan

Lokakarya Kepenulisan Seluruh Soloraya

Budaya menulis sangat sedikit peminatnya dibandingkan budaya yang lain. Hal ini dikarenakan dibutuhkan keterampilan saat menulis seperti mengolah kata, memilih kata serta keterampilan dalam mengaitkan kalimat yang satu dengan yang lain. Wajar apabila tak sedikit guru yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan karya pengembangan diri, misalnya membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Dalam pelaksanaannya membuat PTK tidak semudah yang diperkirakan. Banyak guru yang mengalami kendala dan hambatan dalam melaksanakan kegiatan pengembangan profesi guru yang satu ini. Secara umum, permasalahan melaksanakan kegiatan PTK sering berawal dari keterbatasan yaitu pertama, terbatasnya waktu.

Keterbatasan waktu dikaitkan dengan beban mengajar per minggu dan tugas lainnya. Guru sertifikasi mempunyai beban mengajar tatap muka 24 jam per minggu. Belum lagi tugas tambahan lain di sekolah, tugas administratif dan bimbingan. keterbatasan saat mengikuti prosedur kenaikan pangkat. Kedua, kemampuan menulis laporan. Kegiatan ini berhubungan dengan kemampuan guru menyampaikan gagasan kepada orang lain melalui karya tulis dalam bentuk makalah, diktat, hand out, tulisan ilmiah populer, dan lain sebagainya. Guru dituntut bisa membuat karya tulis ilmiah dan mempublikasikannya.

Sebagai seorang guru sudah seharusnya mampu memberi contoh kepada peserta didik untuk menulis. Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari menulis seperti tambahan penghasilan dan wawasan. Kata kuncinya adalah jangan berhenti belajar. Haram hukumnya jika guru sampai berhenti belajar karena mereka harus mengajar. Apa jadinya jika seorang guru malas atau berhenti belajar. Ilmu yang disampaikan pasti tidak berkualitas. Maka jika guru sudah malas belajar, guru tersebut harus bersiap meninggalkan pekerjaannya.

Di negara maju menulis telah menjadi gaya hidup masyarakatnya. Aktivitas menulis biasanya berbanding lurus dengan aktivitas membaca. Dengan kata lain budaya literasi masyarakatnya sudah tinggi. Membudayakan membaca dan menulis perlu proses jika dalam suatu masyarakat kebiasaan tersebut belum terbentuk.

Menurut data statistik UNESCO 2012, menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen.

Pasal 1 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Secara sederhana dapat digambarkan bahwa tugas guru adalah mengajar dan mendidik. Sebagai seorang pengajar, guru mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) kepada para siswa. Hal ini berkaitan dengan penguasaan pada ranah kognitif dan membekali keterampilan pada ranah psikomotorik, sedangkan tugas guru sebagai pendidik adalah menanamkan sejumah nilai, moral, normal (transformation of value) kepada siswa agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur. Dengan kata lain, mendidik bergerak pada ranah afektif, dan hal ini menjadi fondasi terhadap ranah kognitif dan psikomotor.

William Arthur Ward menyampaikan bahwa guru biasa hanya memberitahu, guru baik menjelaskan, guru yang sangat baik menunjukkan, guru hebat menginspirasi. Kalimat inspiratif tersebut sudah sangat sering dikutip atau disampaikan baik melalui buku, poster, atau pada saat pelatihan. Tujuannya untuk memotivasi guru agar jangan hanya jadi guru biasa-biasa saja, tapi meraih level yang paling tinggi yaitu guru yang hebat.

Salah satu karakter guru sebagai pendidik yang hebat adalah mampu mengembangkan profesionalismenya dan salah satu bentuknya adalah menulis. Berdasarkan Permenegpan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, seorang guru wajib menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk dapat naik pangkat.

Dengan kata lain, menulis dapat menunjang untuk pengembangan karir guru. Guru yang rajin atau terampil menulis adalah guru yang istimewa, karena tidak setiap guru mampu melakukannya. Berkaca dari hal tersebut, kemarin senin (30 / 4 / 2018), penulis mengikuti acara “Lokakarya Kepenulisan dan Sayembara Literasi se Soloraya” yang dihelat oleh Gerakan Menulis Buku Indonesia (GMBI) bersama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Acara dikemas dalam bentuk Bimtek menulis artikel yang kemudian diperlombakan. Kegiatan puncak akan dilaksanakan pada bulan Juni 2018, dengan agenda penyerahan penghargaan bagi para juara. Selain penyerahan penghargaan bagi para juara, juga akan diadakan penganugerahan penghargaan bagi guru yang memiliki komitmen dalam hal mengembangkan literasi. Hal ini sebagai motivasi agar para guru semangat dalam mengembangkan budaya literasi. Karena bagaimana mungkin siswa bisa memiliki ketrampilan literasi jika guru tidak memiliki ketrampilan literasi.

Artikel ini juga ditayangkan di kompasiana.com

 https://www.kompasiana.com/rusdihistory/5ae92b72f133441d855fa4c4/nyari-ilmu-lagi-trus-menulis-lagi

Kado Manis di Hardiknas

Momen hari pendidikan nasional (Hardiknas) tahun ini begitu istimewa, terutama buatku. Kenapa ? Ya seperti peringatan Hardiknas tahun-tahun sebelumnya, madrasah mengadakan upacara bendera beserta rangkaiannya. Namun, pagi ini, 2 Mei 2018, semua terasa beda ketika mendapat paket kiriman dari JNE, setelah upacara bendera. Sebuah tas warna coklat dengan ornamen batik terlihat di ruang kantor  Tata Usaha (TU). Di dalamnya ada dua buah majalah bertuliskan “Cahaya Hati”. Kenapa majalah ini di kirimkan padaku ? pasti bertanya-tanya khan hehee…

Jadi ceritanya itu dulu sempat di wawancara oleh wartawan majalah ini seputar pembelajaran sejarah yang aktif dan kreatif.

Sedikit cerita ya..

Jadi aku adalah guru sejarah di MAN 1 Surakarta, mengajar sejak tahun 2003. Sejak pertama kali masuk hingga sekarang, image bahwa sejarah adalah pembelajaran yang membosankan itu tidak (pernah) hilang. Dalam pandangan siswa, sejarah itu bikin mengantuk, tidak asyik, hanya ceramah dan kesan yang tidak enak lainnya. Iniah yang “menantang” aku untuk mengubah image itu. Bahwa sejarah tidak se “boring” yang mereka duga. Sejarah bisa lho di kemas dalam suasana yang asyik dan menyenangkan. Makanya aku banyak belajar sama sesama sejawat guru sejarah tentang model-model pembelajaran sejarah yang kreatif, aktif dan menyenangkan. Selain berdiskusi dengan sesama guru sejarah, aku juga mencoba mengembangkan sendiri  model-model pembelajaran sejarah yang menarik. Nah, di artikel inilah aku berbagi pengalaman seputar hal tersebut. Pengin tahu isi lengkapnya ? Buruan di beli ya hehee…

Selamat hari pendidikan nasional 2018

“Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”

Jadi Guru Baru di Era Digital

IMG_20180125_084640_500Zaman now ?? Apa sih sebenarnya ??

Istilah ini sangat viral akhir-akhir ini  dan menyusup hampir di semua lapisan, termasuk di dunia pendidikan. Guru Zaman Now. Inilah yang saat ini juga menjadi thrending topik. Bagaimana guru bisa disebut “Guru Zaman Now ?”

Kalau bagi saya terminologi “Zaman Now” itu adalah bisa mengikuti perkembangan yang ada, bergerakan bersama dengan kemajuan terkini. “Zaman now” menuntut semua orang untuk selalu menambah kompetensi dirinya, di bidang apa pun, profesi apa pun, termasuk guru.

Guru zaman now adalah guru yang mampu mengikuti perkembangan zaman, artinya dia bisa melihat dan tentu saja mengikuti, perkembangan terbaru apa yang sedang trending di dunia pendidikan. Bisa tentang metode mengajar, teknik penilaian, dan sebagainya. Salah satu tuntutan yang harus diikuti perkembangannya oleh guru-guru zaman now adalah perkembangan Teknologi dan Informasi ( TI ).

Tidak dapat dipungkiri, TI menjadi kebutuhan dan keharusan bagi guru zaman now. Pola pengajaran di era sekarang sudah semakin maju, melintasi batas ruang serta waktu. Kalau di masa saya yang lahir di era 1970-an, pelajaran tersekat oleh ruang kelas, namun saat ini, pembelajaran sudah tidak terbatas di ruang kelas.

pembelajaran sudah berkembang di ruang-ruang maya, contohnya dengan mengakses situs-situs belajar online, latihan soal online dan sebagainya. Sehingga apabila guru tidak mengikuti perkembangan zaman ini, maka dia akan “tertinggal” dengan siswanya yang sudah selangkah di depan. Bagi saya, guru jangan sampai tertinggal dengan siswanya dalam pemanfaatan TI.

BAGAIMANA CARANYA ?

Pertanyaan klasik yang sering muncul di benak rekan-rekan guru zaman doeloe adalah bagaimana mereka bisa “meng-upgrade” kemampuan TI ? Jawaban yang paling jelas adalah : BERGABUNG DOGMIT !!

APA YANG DITAWARKAN DOGMIT ?

Saya mulai bergabung dengan Dogmit sejak tahun 2014 terutama di angkatan ke 6. Alasan saya sederhana saat itu yaitu saya ingin menjadi guru yang “tidak biasa”. Oya saya adalah guru sejarah di MAN 1 Surakarta. Tahu sendirilah bagaimana kalau siswa diberi pelajaran sejarah. “Pelajaran yang bikin ngantuk, banyak hafalannya, kayak mendengar dongeng dan lain-lain…”itulah barangkali tanggapan siswa saya ketika menerima pelajaran. Saat mengajar saya memang sudah memakai presentasi dengan powerpoint namun dengan tampilan yang apa adanya. Hal inilah barangkali yang membuat siswa saya menjadi merasa bosan. Tidak ada sesuatu yang “beda” dari media yang saya buat.

Lalu ketemulah saya dengan Dogmit yang menawarkan diklat IT dengan materi diklat yang sangat dibutuhkan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran. Materinya sangat aplikatif dan bisa diikuti dengan seksama karena pak Sukani selalu membekali peserta diklat dengan video tutorial dan materi diklat dalam bentuk PDF yang bisa disaksikan dan dipelajari.

Hal inilah yang kemudian membuat saya memutuskan untuk mengikuti lagi dogmit di angkatan-angkatan selanjutnya. Saat ini saya masih dalam proses mengikuti Training Online angkatan 2  dengan materi Edugame PowerPoint.

Salah satu keunggulan Dogmit nya pak Sukani adalah menawarkan materi diklat yang belum banyak diketahui orang atau kalau sudah ada sebelumnya, pasti ada hal-hal baru yang kita dapatkan. Misalnya materi Dogmit yang telah saya dapatkan sebelumnya yaitu membuat media berupa Digital Book atau juga materi membuat Video Scribe.

Materi-materi ini belum banyak diketahui guru ( kalau pun ada mungkin belum banyak), sehingga sangat berguna bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Atau juga pak Sukani memberikan materi membuat Video Pembelajaran. Seperti yang pernah saya praktikkan di Dogmit sebelumnya. Ternyata membuatnya mudah namun karena belum tahu caranya, hal mudah itu terasa berat hehe..

Salah satau manfaat yang saya rasakan setelah bergabung dengan Dogmit adalah mampu mengembangkan lebih lanjut kemampuan di bidang IT. Karena prinsip yang harus kita miliki adalah terus berkembang dan semakin berkembang. Berikut diantara pengembangan kemampuan IT dalam bidang pendidikan yang terus saya kembangkan.

Video Tutorial Membuat CrossWord (Teka-teki Silang)

Video Membuat QR Code

Jadi kalau ingin jadi guru zaman now, Dogmit adalah referensi yang jitu serta harus di ikuti agar guru-guru di Indonesia berkembang lebih maju dalam penguasaan TI serta selangkah lebih depan menyongsong kemajuan pendidikan Indonesia.

Terima kasih Dogmit

Salam pendidikan Indonesia Maju  !!!

Rusdi Mustapa, S.Pd

MAN 1 Surakarta

Peserta Training Online angkatan 2 : Edugame PowerPoint

Buat Flip Book Sejarah Yuuuk…

” Anak-anak, pernahkah kalian mendengar istilah e-book ?”

Itulah kalimat yang kuucapkan di awal pelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 pagi itu.

Serempak  mereka menjawab “Sudah pak…!”

“Coba, siapa yang bisa menjelaskan apa itu e-book ?

“Buku elektronik pak,” jawab Siti, yang duduk di meja depan meja guru. “Iya benar”.

“Siapa lagi yang mau menjawab ?”  tanyaku menantang.

e- book itu  adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar,” jawab Dewi, siswiku yang terkenal jika menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sistematis.

” Luarrr biasa! ” jawabku.

“Coba, siapa yang pernah membuat e-book ?” tanyaku kemudian. Seketika terlihat wajah-wajah yang sebelumnya riuh, tiba-tiba diam. Gelengan kepala mereka  adalah pemandangan yang kemudian kusaksikan.

” Belum pernah membuat ya,” tanyaku seolah menggelitik rasa penasaran mereka.

“Belum paaak..!” jawab mereka serentak.

“Nah, bapak akan memberikan pengalaman baru buat kalian. Jika tadi bapak bertanya apakah ada yang pernah membuat e-book, ternyata hampir semua menjawab belum. Tapi kalau memanfaatkan e-book, rata-rata dari kalian pasti pernah, betul ?” tanyaku menirukan gaya bicara seorang da’i kondang sejuta umat.

“Betul paaaak..!” serempak mereka menjawab.

————————————–

Itulah sekilas perbincanganku bersama siswi kelas XI IPS 1 tentang pengalaman menggunakan e-book. Namun sebenarnya pertanyaan tadi kuajukan sebagai pancingan kepada siswa tentang pemahaman mereka seputar e-book dan ternyata rata-rata mereka sudah sangat familiar. Nah…barulah aku mulai menyampaikan kepada mereka bahwa selain e-book ada juga flip book daaaan….mereka akan kuajak  membuat sendiri, ingat lho…MEMBUAT SENDIRI, bukan hanya menggunakan saja.

Apa beda e-book dan flip book ?

E – book adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar.

Sedangkan Flip Book adalah  buku dengan serangkaian gambar yang bervariasi secara bertahap dari satu halaman ke halaman berikutnya, sehingga ketika halamannya diputar dengan cepat, gambar-gambar itu tampak bernyawa dengan simulasi gerakan atau perubahan lainnya. Buku flip sering di ilustrasikan buku untuk anak-anak, tapi mungkin juga disesuaikan dengan orang dewasa danmenggunakan serangkaian foto dan bukan gambar. Buku flip tidak selalu merupakan buku terpisah, tapi mungkin muncul sebagai fitur tambahan di buku atau majalah biasa, seringkali di sudut halaman.

Gimana ? Bingung ya ..?

Simpelnya begini, Flip Book adalah buku elektronik seperti e-book, namun kelebihannya flip book bisa di buka lembar demi lembar. Kalau e-book sangat statis sifatnya ( tidak bisa di buka lembar demi lembar ). Jadi lebih dinamis dan menarik. Apalagi  flip book juga bisa di beri gambar, animasi, musik, video dan lain-lain. Sehingga tentu sangat menarik buat siswa. Bersama sejarah, aku akan mengajak mereka menjalani  proses bersama membuat flip book sejarah.

Langkah awal yang kulakukan adalah menginstall sofware yang digunakan membuat flip book. Banyak memang software yang bisa dipakai dan itu semua bisa dicari di internet. Ada yang berbayar, trial bahkan free. Nah, biar lebih praktis dan tidak menyulitkan, maka sengaja kupilihkan software yang portable. Pilihan akhirnya jatuh pada software Kvisof Flipbook Maker Pro 4.3.3.0 Portable Full. Mengapa memilih Kvisof Flip Book Maker Portable ? Alasan yang paling mendasar adalah tidak memerlukan proses instalasi dalam pengunaannya. Selain itu Kvisoft Flip Book Maker adalah salah satu aplikasi flip book yang cukup terkenal saat ini.

flipbook3

Aplikasi ini diciptakan khusus untuk membuat dan mendesain halaman, brosur, katalog, dalam bentuk flash dan HTML 5 sehingga terlihat lebih dinamis dan elegan. Kita dapat membuat flip book dari berbagai dokumen seperti PDF, Word, Excel, Power Point, Gambar, dan banyak lagi. Selain itu kita juga bisa memasukkan berbagai macam unsur media seperti teks, link, gambar, galeri, youtube, dan bentuk lainnya, yang tentunya akan membuat flip book kita tampil lebih menarik, dinamis, dan elegan serta dapat digunakan untuk beragam keperluan. Hasilnya bisa dijalankan dengan baik pada komputer yang telah terinstall aplikasi ini serta pada iPad, iPhone, Android, dan lainnya.

flipbook3

Proses menginstall kulakukan bersama-sama dan step by step. Karena tidak jarang mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Berkat kesungguhan dan keseriusan siswa akhirnya langkah ini bisa dilalui dengan baik. Setelah menginstall software Kvisoft Flip Book Maker, langkah berikutnya adalah mempersiapkan naskah yang akan dibuat flip book. Oya lupa, untuk tugas membuat flip book sejarah ini sengaja kususun dalam bentuk kerja kelompok karena bagiku lebih efektif dan efisien. Siswa bisa saling membantu diantara teman sehingga pembelajaran kolaboratif ( collaborative learning) akan tercipta. Siswa saling mengisi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

03-sway3

Aku mengarahkan siswa agar naskah di buat dulu dalam format Word dan selanjutnya di convert dalam format PDF. Tujuannya agar lebih mudah saat ingin meng-edit atau mensetting tampilan. Terlihat mereka mengerjakan dengan penuh antusias.

07-sway7

Setelah membuat draft flip book, langkah berikutnya siswa mulai membuat flip book sejarahnya. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah membuka software Kvisoft Flip Book Maker yang sudah mereka install sebelumnya. Kuberikan instruksi melalui layar LCD sehingga semua siswa bisa melihat. Langkah demi langkah dijalani dan jika ada masalah bisa langsung ditanyakan. 02-sway2

Selanjutnya siswa mulai berkreasi membuat flip book. Ada yang menambahkan video, memberi suara latar, gambar, dan sebagainya. Prinsipnya siswa kuberikan keleluasaan untuk berkreasi membuat flip book sejarah mereka. Dalam tugas ini kusampaikan kriteria penilaian yang meliputi tiga hal yaitu :

1. Content ( Isi ) Materi.

2. Performance ( Penampilan ) Flip Book

3. Artistic ( Memiliki nilai seni )

Tugas dikerjakan dalam waktu 2 minggu dan sebagai salah satu syarat mendapatkan kisi-kisi ujian kenaikan kelas (UKK). Artinya bagi kelompok yang tidak atau belum selesai flip book sejarahnya maka tidak akan mendapat kisi-kisi UKK sejarah. Sehingga mau tidak mau siswa akan mengerjakan dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Namun alhamdulillah, mereka memperlihatkan semangat dan motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan tugas yang kuberikan. Bahkan mereka sangat tertantang untuk menampilkan flip book sejarah yang terbaik. Seperti yang disampaikan Daryani Fatimah Putri. Baginya tugas membuat flip book sejarah ini adalah pengalaman yang baru, makanya dia tertantang untuk bisa mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Beda lagi dengan Giovani  Saputri. Baginya tugas ini memberinya kecakapan hidup (life skill) baru, terutama cara membuat flip book, sesuatu yang baru pertama dilakukannya. Ternyata mengasyikkan dan memberi pengalaman baru sehingga suatu saat jika diminta membuat (lagi), tentu tidak akan mengalami kesulitan.

Inilah tujuan sebenarnya dari yang kutugaskan  pada mereka. Memberikan pengalaman baru, terutama memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, dengan menghasilkan sesuatu yang semoga berkesan bagi siswa. Life skill, inilah kata kuncinya. Bagaimana menanamkan pemahaman pada siswa bahwa kita bisa menghasilkan sesuatu dengan usaha sendiri dan sungguh-sungguh. Semoga pengalaman ini berguna bagi mereka di waktu yang akan datang.

Ingin lihat sebagian hasil flip book sejarah buatan siswaku ? Ini dia ……

Maju terus pendidikan Indonesia …!!!

————————————————————

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

bisa juga dilihat di sini

http://guraru.org/guru-berbagi/buat-flipbook-sejarah-yuuuk/