Penantianku Terjawab Sudah….

Alhamdulillah, itulah ungkapan pertamaku ketika melihat pengumuman lomba blogger guru yang diadakan Acer dan Guraru, terpampang di group guraru (guru era baru) yang bisa dilihat di sini. Guraru adalah komunitas bagi guru-guru seluruh Indonesia yang memiliki komitmen besar untuk pendidikan Indonesia lebih baik. Setiap tahun guraru mengadakan lomba penulisan artikel bagi guru-guru se Indonesia. Tahun 2015 ini adalah gelaran yang kesekian kalinya diadakan. Event yang menggandeng Acer sebagai sponsornya itu merupakan media bagi guru-guru untuk mengaktualisasikan dirinya lewat tulisan. Kebetulan aku mulai ikut event lomba menulis artikel ini sejak tahun 2012. Keikutsertaan pertama kali yang berbuah “manis” dengan masuknya namaku diantara sekian finalis dari seluruh Indonesia ( lebih jelas lihat di sini).

Pengalaman pertama yang berkesan hingga akhirnya kembali memberanikan diri mengikuti event serupa tahun ini. Event yang bertajuk Lomba Blogger Guru dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, mengangkat dua tema besar yaitu pengalaman menyenangkan selama jadi guru dan pengalaman menyenangkan pembelajaran di luar kelas. Dengan hadiah keren yang ditawarkan Acer berupa laptop Acer One 10 tentu menjadi magnet bagi semua guru di Indonesia untuk ambil bagian (tak terkecuali aku tentunya). Semangat mengikuti event ini aku buktikan dengan mengirim 11 artikel yang rata-rata adalah pengalaman mengajar bersama siswa/siswi di MAN 1 Surakarta. Mungkin ngebet ingin dapat laptop Acer One 10 ya hehehe…Tapi jujur itulah yang ada di benakku saat itu. Selain juga untuk berbagi kepada orang lain yang semoga bisa menginspirasi. Batas waktu pengiriman artikel adalah tanggal 21 Mei 2015.

guru blogger

Setelah waktu pengiriman artikel berakhir tibalah saatnya masa penilaian yang dilakukan mulai tanggal 21 Mei 2015 – 26 Mei 2015. Lima hari yang mendebarkan bagi semua peserta lomba, termasuk aku tentunya. Deg-degan, H2C (harap-harap cemas) adalah suasana hati yang menghinggapiku. Apalagi setalah menginjak tanggal 26 Mei, waktu pengumuman. Membuka laman guraru.org adalah langkah praktis yang kulakukan. Namun setelah dibuka eee ternyata pengumuman pemenang ternyata belum ada. Sempat kecewa juga hehehe…. karena penantian selama hampir 5 hari belum terjawab. Hingga akhirnya tepat di tanggal 28 Mei 2015, akhirnya penantian itu terjawab sudah. Pengumuman pemenang lomba di muat oleh Guraru. Bukan di laman resmi guraru tapi di Group FB Guraru. Itu pun juga tanpa sengaja membukanya. Terpampanglah di situ nama-nama pemenang.

pengumuman juara guraru

Terlihat di situ nama “Rusdi Mustapa” nongol diantara nama-nama pemenang yang lain. Exited pokoknya…ternyata 1 diantara 11 artikelku yang berjudul “Ayo Berkreasi dengan Sampah”  mampu “memukau” dewan juri dan memilihnya menjadi pemenang. Bangga, senang dan bersyukur tentunya. Walau tidak sesuai dengan harapan yang ingin dapat laptop Acer One 10, namun pencapaian ini suatu kemajuan bagiku. Karena di tahun 2012, ketika pertama kali ikut lomba, namaku berada di peringkat 12 dari 13 finalis se Indonesia. Tahun ini menduduki peringkat ke tiga (jika dilihat dari jumlah pemenangnya). Bersyukur dan menjadi motivasi untuk meningkat dan yang penting semakin memberi energi besar untuk tetap menulis.

Jadi teringat (lagi) dengan kata-kata teman kompasianer senior, Niken Satyawati, saat menjadi salah satupembicara seminar jurnalistik di MAN 1 Surakarta. Dia bilang gini “menulislah dan lihatlah apa yang terjadi..” Inilah yang barangkali menjadi titik balik dari semangat menulisku. Karena sebelumnya aku pernah punya pengalaman tidak mengenakkan, ketika postinganku di blog pribadi dibajak orang lain. Peristiwa itu sempat membuat semangat menulisku menurun. Tapi semangat dan motivasi bu Niken Satyawati mampu menghidupkan lagi api semangatku kembali menyala.

bu niken

Belajar Sejarah ? Main Card Sort Saja Yuk…

Merencanakan pembelajaran sejarah yang bisa membangkitkan dan melibatkan siswa dalam pembelajaran merupakan impianku setiap kali masuk ke kelas. Bagaimana siswa/siswiku bisa terlibat aktif dalam pembelajaran dan tidak ada yang melakukan aktivitas lain selain belajar sejarah. Karena itu sebagai seorang guru mesti pandai-pandai dalam menyusun skenario pembelajaran yang tepat dan efektif. Apalagi pembelajaran sejarah yang identik dengan pembelajaran yang membuat mengantuk (apalagi di jam-jam terakhir), membosankan karena hanya cerita ( kalau siswaku bilang seperti tukang jualan obat), dan komentar-komentar lain yang intinya bahwa sejarah itu kurang mengasyikkan. Bagaiman membuat mereka bisa berubah paradigma berfikirnya tentang pelajaran sejarah, yang jika bisa diikuti siswa dengan sebaik-baiknya, maka banyak pelajaran yang bisa mereka ambil.

Model pembelajaran apa yang sekiranya cocok untuk mengajar sejarah ( selain metode ceramah tentunya). Maka saya mulai mencari informasi di internet tentang macam-macam model pembelajaran yang sekiranya bisa saya terapkan di pembelajaran sejarah. Banyak memang model-model pembelajaran yang bisa diambil untuk diterapkan di pembelajaran sejarah. Namun semuanya kembali pada kondisi siswa masing-masing. Karena tidak semua model pembelajaran cocok untuk semua situasi pembelajaran yang berbeda lingkungannya. Harus bisa melihat input dari siswanya jika ingin menerapkan satu model pembelajaran tertentu. Setelah banyak referensi maka jatuhlah model pembelajaran yang saya pandang pas dan cocok untuk siswa di sekolah tempat saya mengajar. Model pembelajaran yang insya Allah bisa melibatkan seluruh siswa dalam proses pembelajaran. Modelnya berupa permainan yang disebut dengan Card Sort ( Mengurutkan Kartu).  Apa dan bagaimana permainan Card Sort tersebut ?

SAM_3735

Ide awal dari permainan ini adalah siswa diminta mengurutkan sejumlah kartu yang telah dibagikan kepada seluruh siswa. Kartu-kartu yang telah dibagikan tersebut merupakan penjelasan atau uraian dari Tema Besar yang telah ditentukan sebelumnya. Tema Besar disini bisa berupa sub pokok bahasan yang telah dibahas sebelumnya sehingga siswa akan lebih mudah untuk mengerjakannya. Oya untuk melaksanakan permainan ini saya mengajak siswa/siswiku di kelas XI IPA 1 – XI IPA 3 program Boarding School MAN 1 Surakarta. Kebetulan mereka adalah salah satu program unggulan di MAN 1 Surakarta.

Hari senin 11 Mei 2015 adalah hari pertama saya melaksanakan permainan ini di kelas XI IPA 3. Jujur baru kali ini permainan ini saya laksanakan sehingga bagaimana nanti hasilnya juga belum tahu. Selain itu siswa/siswiku juga belum saya beritahu tentang permainan ini. Biar surprise gitu dech…dan ternyata mereka memang surprise. Karena pembelajaran yang sebelumnya menggunakan media pembelajaran Powerpoint, di hari itu mereka saya ajak bermain-main. Apalagi saat saya berkata:

” Anak-anak, hari ini kita akan bermain-main, mau ???

serentak mereka menjawab ” mauuuuu !”

11141347_10200582086231579_7187562012019872094_n

Setelah itu saya jelaskan tentang permainan mengurutkan kartu kepada mereka. Tampak wajah-wajah mereka menyimak dengan seksama penjelasanku. Terlihat jelas wajah-wajah penasaran seperti apakah permainan yang akan mereka lakukan nanti. Selanjutnya saya bagikan kertas-kertas sejumlah siswa di kelas XI IPA 3 yang selanjutnya mereka mengurutkan sesuai tema besar yang telah saya tulis di papan tulis. Tema besar yang saya tulis adalah tentang :

1. Orde Baru

2. G 30 S/PKI

3. Lahirnya Orde Baru

4. Repelita

SAM_3742

SAM_3743

SAM_3745

SAM_3750

SAM_3755

Tugas mereka adalah mengurutkan kertas yang mereka pegang sesuai dengan tema yang ditentukan. Di sinilah “kepanikan” mulai terjadi karena saya memberikan batas waktu 5 menit sudah harus selesai. Sebenarnya ini hanya trik agar permainannya lebih menegangkan dan siswa terpacu untuk segera menyelesaikan. Tepat di waktu yang ditentukan akhirnya tersusunlah kalimat-kalimat itu yang selanjutnya saya bersama siswa/siswi mencocokkan apakah urutannya sudah benar. Ternyata banyak siswa yang memberikan masukan tentang urutan yang benar. Posisi saya hanya sebagai fasilitator saja. Inilah yang saya inginkan. Siswa bisa terlibat secara penuh dalam pembelajaran dan aktif. Semuanya benar-benar terlibat. Dan menurut saya “percobaan” permainan yang baru pertama kali kulaksanakan ini BERHASIL !!!!

Di hari berikutnya, selasa 12 Mei 2015 permainan yang sama saya laksanakan di kelas XI IPA 2 dan XI IPA 1. Sama di kelas sebelumnya antusiasme siswa sangat luarr biasa dan yang penting siswa bisa fun dan terlibat secara penuh dalam pembelajaran sejarah.

 

Menulislah Setiap Hari dan Lihatlah yang (Akan) Terjadi

Ini adalah pengalamanku sebagai kompasianer “ingusan” yang mencoba belajar mengarungi dunia literasi. Di sela-sela kesibukanku sebagai seorang guru, aku menyempatkan waktu dan diri mengolah kata demi kata hingga menghasilkan kalimat yang (semoga) penuh makna. Namun sebenarnya apa yang menjadi titik balik dari “keberanianku” terjun ke dunia ( yang menurut teman-temanku) kurang menarik dan penuh fantasi ini? Inilah sepenggal kisahku:

Aku adalah seorang guru muda yang masih penuh semangat dalam bekerja (Insya Allah). Kecintaanku pada dunia mengajarlah yang akhirnya menuntunku masuk ke FKIP UNS tahun 1998. Jurusan yang aku pilih adalah Pendidikan Sejarah. Jurusan yang menurut banyak orang kurang prospektif. Namun berkat ketekunan dan kerja kerasku, alhamdulillah tahun 2003 berhasil menyelesaikan kuliah dengan IPK yang tidak mengecewakan bahkan masuk wisudawan terbaik ke 4 di FKIP. Pencapaian yang patut aku syukuri dengan segera menentukan langkah selanjutnya. Karena tidak ada gunanya menyandang predikat Wisudawan Terbaik ke 4 FKIP namun akhirnya hanya menjadi pengisi pencari lowongan kerja. Tanpa pikir panjang segera aku mencari sekolah yang (semoga) mau menerimaku menjadi seorang guru.

Alhamdulillah tanpa menunggu waktu yang lama, tepat dua bulan setelah  wisudaku (aku wisuda di bulan Juni 2003), aku diterima menjadi “calon” guru di sebuah sekolah berbasis Islam MAN 1 Surakarta, Sekolah yang (jujur saja) telah menjadi dambaanku jika nanti aku mengajar. Singkatnya inilah do’a yang terjawab. Sebagai “calon” guru baru, tentunya aku berusaha untuk memberikan yang terbaik buat sekolah apalagi statusku masih GTT (Guru Tidak Tetap), artinya jika kinerjaku tidak memuaskan maka bisa saja aku di keluarkan dari sekolah itu. Tapi alhamdulillah selama waktu “percobaan” menjadi guru itu aku bia menjalaninay dengan lancar dan tidak ada komplain dari sekolah.

2012, sebuah awal baru

Tahun 2012 adalah titik balik dari keputusanku terjun di dunia literasi. Ya, ketika di tahun 2012 pada saat sedang iseng-iseng mencari informasi yang sedang aku butuhkan, tiba-tiba pandangan mataku tertuju pada sebuah pengumuman yang termuat di laman guraru.org. Pengumuman tentang lomba menulis artikel bagi guru. Masih asing sebenarnya mendengar istilah guraru, namun setelah aku buka lebih lanut informasinya barulah kuketahui bahwa guraru kepanjangan dari Guru Era Baru. Sebuah wadah yang berisi kisah, pengalaman, dan semua hal yang berhubungan dengan para guru. Namun guru-guru yang kalau boleh aku bilang “bukan guru biasa”, karena mereka memiliki dedikasi pada profesi yang sangat tinggi.

Jauh sebelumnya, kesenanganku dalam dunia tulis menulis telah dimulai sejak tahun 2003 ketika membuat blog pribadi. Di blog ini banyak aku posting artikel atau pengalaman selama mengajar di sekolah bersama siswa/siswiku di MAN 1 Surakarta. Ada juga info tentang sejarah sesuai dengan disiplin ilmu yang aku miliki. Blog ini merupakan awal dari keputusan besarku untuk terjun di dunia tulis menulis. Untuk melihat blog pribadiku bisa lihat di sini.

Kembali tentang lomba menulis artikel. Setelah aku baca pengumuman itu timbul keinginan untuk mencoba berpartisipasi dengan mengirimkan artikel yang aku tulis. Saat itu aku mengirimkan 4 artikel sekaligus yang kesemuanya merupakan pengalamanku dalam mengajar di sekolah. Jadilah hari-hari sesudahnya aku selalu mengecek perkembangan dari artikel yang telah aku kirimkan. Apakah sudah banyak yang memberi komentar atau malah tidak sama sekali hehehehe…

Data terakhir yang aku lihat bahwa sudah hampir 240 artikel yang telah dikirimkan dalam lomba itu. Sempat ciut juga sih melihatnya, namun saat itu menjadi pemenang bukanlah target utamaku. Aku masih ingin mencari pengalaman dalam dunia tulis menulis.

Hingga akhirnya tibalah saat pengumuman. Aku buka laman guraru.org dan ketika aku buka link ini, aku serasa tidak percaya bahwa namaku ada di antara daftar nama-nama finalis itu. Sebanyak 13 finalis lomba artikel guru dan namaku nangkring di nomor 12. Alhamdulillah, serasa mimpi namun nyata. Peringkat ke 12 dari sekitar 240 artikel se Indonesia man !!

Artikelku tentang pembelajaran menggunakan media mind map dan telah aku praktikkan bersama siswa/siswiku ternyata mampu “mengetuk hati” dewan juri sehingga mampu masuk 13 besar finalis. Memang belum jadi 3 besar tapi kepuasan batin itulah yang saat itu yang aku rasakan. Inilah artikelku yang  masuk 13 besar lomba penulisan artikel guraru bersama Acer tahun 2012 yang bisa dilihat di sini.

Setelah pengumuman itu tidak ada kata yang bisa aku ucapkan selain ungkapan syukur kepada Allah SWT dan menjadi motivasi untuk terus menulis dan menulis. Spesialisasiku dalam menulis adalah tentang pengalaman mengajar bersama siswa/siswiku. Mengapa ? Karena merekalah sumber inspirasi dan motivasi bagiku dalam menuliskan kata-kata demi kata di atas keyboard laptopku. Sehingga pada saat istriku tercinta menelponku bahwa ada souvenir dari ACER dan Guraru, walau dia sempat kaget dan bingung, aku ucapkan terima kasih pada siswa/siswiku atas motivasi dan inspirasinya. Oya souvenir yang kuterima adalah sebuah tas laptop Acer ( sayangnya belum sama Laptopnya hehehe), sebuah flashdisk dan Buku yang cukup inspiratif. Buku yang semakin memberiku semangat untuk semakin gemar dalam menulis.

582167_2329755500291_785316627_n

Pengalaman masuk 13 besar finalis lomba menulis artikel guru tahun 2012 memberiku energi yang sangat luar biasa untuk semakin mengasah kemampuanku dalam mengolah kata. Maka dari itu untuk lebih memantapkan diri dan juga menimba ilmu dalam bidang tulis menulis, aku merasa perlu bergabung dengan komunitas penulis yang bisa menyebarkan energi positif dalam bidang menulis. Karena itulah aku bergabung dengan FLP ( Forum Lingkar Pena) kota Surakarta. Sebuah forum yang berisi orang – orang yang haus akan ilmu tentang kepenulisan. Bergabung dengan komunitas yang kebanyakan terdiri dari anak-anak muda tidak membuatku merasa minder justru aku semakin bersemangat untuk belajar dari yang muda-muda. Mereka dari segi usia memang masih muda namun bicara pengalaman dalam bidang tulis menulis rasanya aku perlu mengacungkan dua jempol pada mereka.

Kemudian untuk mengukur kemampuan dalam menulis artikel aku memberanikan diri untuk bergabung dengan kompasiana, sebuah  wadah yang memberikan kesempatan bagi “penulis pemula” untuk bisa mewarnai dunia lewat tulisan. Sebelum bisa diterima dalam wadah ini aku mendaftar sebagai member terlebih dahulu dan memiliki akun sendiri. Jadi singkatnya setelah kita terdaftar menjadi member maka kita memiliki blog pribadi yang bisa kita isi dengan tulisan kita, dengan tema apapun namun sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di kompasiana. Yang keren adalah tulisan kita akan muncul di laman kompasiana.com. Alhamdulillah sih sudah lumayan banyak artikelku yang mewarnai laman itu walau masih kalah banyak dengan penulis-penulis sebelumnya. Seperti biasa aku mengangkat tema seputar pendidikan, sesuai dengan profesiku, terutama tentang pengalaman dalam mengajar. Yang membuat puas secara batin adalah saat ada komentar dari pembaca. Itulah kepuasan yang tidak ternilai dengan angka-angka rupiah.

kompasiana2

Pengalaman tak terlupakan yang lain di bidang tulis menulis adalah ketika memberanikan diri mengikuti  lomba menulis artikel bagi guru yang diselenggarakan oleh Yayasan Nur Hidayah Surakarta tahun 2014. Lomba yang diikuti oleh guru di Jawa Tengah dan DIY itu mengambil tema “Inspirasi Guru : Dari Keluarga Semua Bermula”. Aku kirimkan dua artikel sekaligus dalam lomba tersebut dengan harapan bisa menang. Saat itu bukan untuk mencari pengalaman lagi tapi mengejar juara. Dan ternyata harapanku tidak bertepuk sebelah tangan. Dari dua artikel yang kukirimkan salah satunya bisa menjadi juara bahkan juara favorit, alhamdulillah luar biasa !!!

nur hidayah

IMG_3350

Info lebih lengkap tentang pengumuman lomba menulis artikel bisa dilihat di sini

Pencapaian ini tentu saja tidak membuatku berpuas diri. Masih banyak yang harus aku sempurnakan dalam bidang tulis menulis. Jujur ada satu sosok yang menjadi motivasi buatku dalam menulis. Beliau adalah sosok pendidik yang ternyata juga seorang penulis yang produktif. Beliau adalah Bapak Wijaya Kusumah atau nama bekennya adalah Om Jay. Beliaulah yang mampu menebarkan energi positif, khususnya buat saya. Bagaimana di sela-sela tugas mulia sebagai pendidik mampu menghasilkan ratusan bahkan mungkin ribuan karya tulis yang luar biasa. Bahkan beliau juga seorang blogger yang aktif. Inilah yang memberi inspirasi dan motivasi yang sangat besar untuk terus mengasah kemampuan dalam menulis. Meminjam judul buku yang beliau tulis dan menjadi hadiah dalam lomba menulis artikel guru tahun 2012 “menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”, inilah yang sekarang menjadi penyemangatku dalam menekuni dunia tulis menulis. Karena bagiku menulis itu merupakan “perjuangan untuk membebaskan”.

582167_2329755740297_1849769120_n - Copy

Pembelajaran Kolaboratif di Situs Purbakala Sangiran

Pelajaran sejarah yang menyenangkan dan berkesan ? Inilah barangkali dambaan bagi sebagian besar guru sejarah, termasuk saya tentunya. Mengapa demikian ? Bukan rahasia lagi jika pelajaran sejarah merupakan pelajaran yang agak kurang diminati oleh siswa. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, salah satunya adalah metode pembelajaran yang digunakan guru. Metode ceramah adalah salah satu metode yang menjadi andalan seorang guru sejarah. Memang tidak disalahkan juga karena untuk menjelaskan materi sejarah memang dengan ceramah. Tapi yang perlu dipikirkan oleh guru-guru sejarah adalah bagaimana metode ceramah ini di kombinasikan dengan metode yang lain. Banyak memang metode pembelajaran yang telah kita ketahui. Tinggal bagaimana guru memilih dan tentu saja disesuaikan dengan kondisi masing-masing di sekolah.

Sebagai seorang guru sejarah di MAN 1 Surakarta saya tertantang untuk menampilkan pembelajaran sejarah yang “tidak biasa”. Kebetulan tempat saya mengajar dekat dengan tempat-tempat bersejarah, seperti kraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Perpustakaan Radya Pustaka dan yang lainnya. Sayang sekali jika tidak dimanfaatkan untuk pembelajaran sejarah. Nah, berangkat dari pemikiran sederhana ini dan didorongkan oleh keinginan untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah, saya mengadakan kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan mengunjungi Situs Purbakala Sangiran. Kebetulan letak dari situs purbakala Sangiran tidak begitu jauh dari tempat saya mengajar yaitu di kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Sebelum melaksanakan kegiatan ini saya berdiskusi dengan  Ibu Hikmawati Maria Kusumawardhani, guru geografi di sekolah saya. Karena saya melihat bahwa di situs purbakala Sangiran selain menyimpan peninggalan manusia purba dalam bentuk fosil-fosilnya, juga memiliki keunikan dari segi kondisi geografisnya. Yang pernah saya dengar bahwa daerah Sangiran dan sekitarnya pada masa dulu merupakan lautan. Karena Sangiran pada masanya merupakan tempat berkumpulnya manusia purba dan menjadi sumber mencari makan yang potensial. Dari diskusi kecil akhirnya kita sepakat mengadakan kegiatan pembelajaran di Sangiran dengan fokus mempelajari sejarah manusia purba sekaligus mempelajari kondisi geografisnya. Jadilah kegiatan pembelajaran kolaboratif antara sejarah dan geografi.

Untuk kegiatan ini saya merencanakan membentuk dua kelompok yaitu kelompok sejarah dan kelompok geografi. Kelompok sejarah bertugas meneliti seputar manusia purba yang pernah hidup di Sangiran, hasil kebudayaan, serta Cara hidupnya. Sedangkan kelompok geografi meneliti tentang unsur-unsur tanah yang ada di Sangiran, seperti susunan tanah, pola keruangan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan geografi. Setelah menentukan kelompok, tibalah saatnya melemparkan rencana kegiatan kepada siswa. Kebetulan  materi tentang manusia purba adalah materi kelas X semester genap. Siswa kelas X yang saya kerahkan dalam kegiatan ini adalah kelas X 1, X 2, dan X 3. Dari masing-masing kelas dibentuk dua kelompok yaitu kelompok sejarah dan kelompok geografi.  Hal-hal apa yang harus diamati oleh siswa telah saya berikan dan di akhir kegiatan, siswa mempresentasikan hasil pengamatannya.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Siswa/siswiku mulai mengadakan persiapan. Sebelumnya diadakan seremonial pelepasan oleh kepala sekolah Drs. H. Agus Hadi Susanto, M.Ag. Dalam sambutannya kepala sekolah berharap dari kegiatan pembelajaran kolaboratif sejarah dan geografi, siswa mendapat manfaat yang besar terutama dalam penguasaan materi sejarah dan geografi. Dengan mengunjungi langsung tempat yang dahulu merupakan pusat perkembangan manusia purba diharapkan pemahaman siswa akan lebih kuat.

DSC02068

Seremonial pelepasan oleh kepala sekolah ( foto : Koleksi Pribadi)

Setelah sambutan selesai maka rombongan “peneliti” dari MAN 1 Surakarta mulai bergerak ke lokasi menggunakan 3 armada bus. Selama perjalanan rombongan disuguhi dengan pemandangan yang sungguh indah. Sawah-sawah serta hutan di kanan kiri jalan membuat perjalanan serasa menyenangkan. Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam akhirnya rombongan tiba di situs purbakala Sangiran. Nampak sebuah gapura yang berbentuk seperti gading gajah menyambut kami. Suasana masa purba langsung terasa. Hal ini membuat semangat rombongan untuk segera mengadakan pengamatan semakin besar.

DSC02079

Gapura Museum Sangiran ( foto : Koleksi Pribadi)

Setelah mengikuti proses administrasi di bagian Humas Museum Purbakala Sangiran, maka kegiatan segera dimulai. Kelompok sejarah dan geografi mulai menyebar di lokasi masing-masing. Untuk kelompok sejarah siswa dipandu oleh petugas museum. Sedangkan kelompok geografi dipandu oleh ibu Hikmawati Maria Kusumawardhani. Masing-masing kelompok mulai mengamati hal-hal yang berkaitan dengan sejarah maupun geografi.

Sangiran merupakan situs prasejarah yang berada di kaki gunung lawu, tepatnya di depresi Solo sekitar 17 km ke arah utara dari kota Surakarta dan secara administratif terletak diwilayah Kabupaten Sragen dan sebagian terletak di kabupaten karanganyar, propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah 56 KM yang mencakup tiga kecamatan di kabupaten Sragen. Surat keputusan Menteri Pendidikan & Kebudayaan NO 070/0/1977, Sangiran ditetapkan sebagai cagar budaya dengan luas wilayah 56 KM, dan selanjutnya Sangiran pada tahun 1996 oleh UNESCO ditetapkan sebagaiWorld Heritagedengan nomor 593.

Mau tahu bagaimana hasil pengamatan dari masing-masing kelompok ? Ini dia hasilnya….

Kelompok Sejarah

Sangiran merupakan sebuah kubah yang terbentuk oleh adanya proses deformasi, baik secara lateral maupun vertikal. Proses erosi pada puncak kubah telah menyebabkan terjadinya reveerse, kenampakan terbalik, sehingga daerah tersebut menjadi daerah depresi. Bagian tengah kubah sangiran ditoreh oleh kali Cemoro sebagai sungai enteseden, sehingga menyebabkan formasi batuan tersingkap dan menunjukkan bentuk melingkar. Pada kala pliosen daerah ini menjadi laut dangkal kemudian terjadi gunung berapi akibatnya terjadi formasi Kalibeng, adanya regresi lebih lanjut pada daerah ini menyebabkan Sangiran menjadi daratan. Pada permulaan kala Plestosen bawah kegiatan Vulkanis semakin meningkat, sehingga terjadi aliran lahar dingin dan membentuk breksi vulkanik. Fosil Meganthropus mungkin muncul pada saat kegiatan vulkanis meleleh. Pada kala plestosen tengah sangiran menjadi daratan lagi, disusul dengan kegiatan vulkanis yang makin menghebat sehingga menimbulkan endapan tufa yang berlapis-lapis, proses pengangkatan tanah pada daerah ini terjadi pada kala plestosen atas dan awal kala Holosen. Adanya pelapukan dan erosi pada puncak kubah  serta pengendapan material kali Cemoro, menyebabkan kenampakan sangiran menjadi seperti sekarang ini. Manusia yang hidup pada saat itu misalnya Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus erectus, dan phitecanthropus soloensis.

DSC02101

Siswa mendengarkan penjelasan dari pihak museum ( foto : Koleksi pribadi)

Secara umum situs sangiran saat ini merupakan daerah berlahan tandus, terlihat dari banyaknya tempat yang gundul tak berpohon. Hal ini disebabkan karena kurangnya akumulasi sisa-sisa vegetasi yang mengalami humifikasi membentuk humus. Jenis tanaman yang ada di Situs Sangiran, antara lain lamtoro, angsana, akasia, johar, sengon mahoni. Terdapat sungai-sungai yang terus melakukan deformasi di situs sangiran antara lain adalah Kali Cemoro dan Kali Ngrejeng. Sungai ini memiliki peranan bagi masyarakat sekitar. Bukti-bukti kehidupan ditemukan didalam endapan teras sungai purba. Di daerah tropis ini tidak banyak mengalami perubahan iklim dan memungkinkan manusia purba untuk hidup.

DSC02093

Fosil – fosil yang ditemukan di Sangiran ( foto : Koleksi pribadi)

Pada tahun 1934, daerah Jawa dipakai sebagai ajang penelitian manusia purba dan alatnya. G.H.R Von Koenigwaldmelakukan penggalian pada sebuah bukit di sebelah timur laut sangiran, menemukan sebuah alat batu yang berupa serpih. Teknologi yang lebih baik menggambarkan perkembangan keterampilan yang dimiliki oleh manusia pendukungnya yang hidup di Sangiran. Alat-alat yang dihasilkan, setingkat lebih maju dibandingkan dengan alat-alat sejenis dari himpunan alat Pacitan. Alat Pacitan diperkirakan berasal dari kala plestosen tengah bagian akhir. Sedangkan alat-alat batu sangiran ditemukan dilapisan tanah kala plestosen atas pada formasi Notopuro. Alat-alat yang banyak ditemukan adalah serpih, dan bilah. Sebagian alat-alat serpih Sangiran berbentuk pendek, lebar dan tebal, dengan panjang antara 2-4 Cm. Teknologi yang umumnya digunakan pada alat batu Sangiran adalah teknik clacton, dengan ciri alat serpih tebal. Selain itu untuk mendapatkan bentuk-bentuk alat yang diinginkan lebih khusus, dilakukanlah penyerpihan kedua. Disamping alat serpih dan bilah yang kemungkinan digunakan sebagai alat pemotong dan penyerut kayu, ditemukan juga alat-alat yang terbuat dari batu lain, yaitu: bola batu, kapak batu, serut, beliung persegi, kapak perimbas, batu inti, dan lain-lain. Bahan yang digunakan untuk untuk peralatan tersebut adalah kalsedon, tufa kersikan, kuarsa,dll. Alat-alat pada situs Sangiran merupakan hasil teknologi kala plestosen yang dicirikan dengan pola perburuan binatang dan pengumpulan makanan sebagai mata pencahariannya. Kemungkinan juga berdasarkan ukuran alat-alat Sangiran yang relatif kecil, telah ada kecenderungan untuk memilih hewan buruan yang lebih kecil. Informasi lapisan ini hanyalah sebagai tambahan dan catatan saja dikarenakan takut hilang. Maklum bukan ahli tanah, bila coretan di kertas terbuang maka informasi yang sukar didapat ini tak akan kembali. Lapisan tanah ini juga dijadikan bahan penelitian untuk menentukan usia bumi ini.

Laporan Kelompok Geografi

DSC02120

Mengamati susunan tanah di Sangiran ( foto : Koleksi Pribadi)

Menurut sejarah Geologi, daerah Sangiran mulai terbentuk pada akhir kala plestosen. Situs Sangiran terkenal karena mempunyai stratigrafi yang lengkap dan menjadi yang terlengkap di benua Asia, sehingga itu diakui dapat menyumbangkan data penting bagi pemahaman sejarah evolusi fisik manusia, maupun lingkungan keadaan alam purba. Stratigrafi di kawasan situs Sangiran menunjukkan proses perkembangan evolusi dari lingkungan laut yang berangsur-angsur berubah menjadi lingkungan daratan, seperti tercermin dari fosil-fosil yang ditemukan pada masing-masing formasi. Berdasarkan proses terbentuknya & kandungannya, lapisan tanah situs Sangiran dibedakan menjadi lima lapisan.

Lima Lapisan Sangiran

Di Situs Sangiran ada 5 formasi tanah dengan lapisannya yang dapat dilihat secara langsung dimana merupakan salah satu keajaiban Sangiran. Formasi tanahnya antara lain:

Formasi Kalibeng (Puren)

berumur 5 juta s/d 1.8 juta tahun lalu. Dengan lapisan:
01. Lapisan napal (Marl)
02. Lapisan lempung abu-abu (biru) dari endapan laut dalam
03. Lapisan foraminifera dari endapan laut dangkal
04. Lapisan balanus batu gamping
05. Lapisan lahar bawah dari endapan air payau.

Formasi Pucangan (Sangiran)

berumur 1.8 juta s/d 1 juta tahun lalu. Dengan lapisan:
01. Lapisan lempung hitam (kuning) dari endapan air tawar
02. Lapisan batuan kongkresi
03. Lapisan lempung volkanik (Tuff) (ada 14 tuff)
04. Lapisan batuan nodul
05. Lapisan batuan diatome warna kehijauan

Formasi Kabuh (Bapang)

berumur 1 juta s/d 250 ribu tahun lalu. Dengan Lapisan:
01. Lapisan konglomerat
02. Lapisan batuan grenzbank sebagai pembatas
03. Lapisan lempeng vulkanik (tuff) (ada 3 tuff)
04. Lapisan pasir halus silang siur
05. Lapisan pasir gravel.

Formasi Notopuro (Phojajar)

berumur 250 ribu s/d 15 ribu tahun lalu. Dengan lapisan:
01. Lapisan lahar atas
02. Lapisan teras
03. Lapisan batu pumice

Formasi Teras  Solo (Kali Pasir)

berumur 15 ribu s/d 1.5 ribu tahun lalu. Dimana hanya memiliki lapisan endapan sungai batu kerikil dan kerakal.

DSC02139

DSC02138

Ibu Hikmawati memberi penjelasan kepada kelompok geografi ( foto : Koleksi Pribadi)

Sebelum Lupa, di tengah area ladang sawah Sangiran terdapat kubangan yang menyemburkan buih air asin yang aktif. Dari informasi awal, lapisan tanah dan kubangan disimpulkan kesimpulan bahwa pulau Jawa dahulu adalah lautan dimana akibat pergeseran lempengan sehingga muncul Jawa (Sumatra, Kalimantan, Jawa merupakan satu daratan) dan akibat ketidakstabilan kerak bumi dan erosi sehingga permukaan air laut meninggi sehingga muncul yang namanya pulau.

DSC02084

Demikianlah sepenggal pengalaman pembelajaran sejarah luar kelas yang telah dilakukan berkolaborasi dengan geografi yang telah saya lakukan bersama siswa/siswi MAN 1 Surakarta. Semoga pengalaman ini mampu membekas di hati dan memberi pengalaman hidup (Life Skill) yang berguna di masa depan.

Dari MAN 1 Solo untuk Rohingya

11264990_10200612334027755_7737122602541972301_n

Derita yang dialami oleh saudara muslim Rohingya di Myanmar, yang mengalami pengusiran dari tanah airnya karena masalah keyakinan, telah menjadi isu global yang cepat menyebar dan menimbulkan keprihatinan dunia. Tak terkecuali bagi siswa/siswi MAN 1 Solo. Penderitaan mereka yang banyak diliput oleh seluruh media baik cetak maupun elektronik, melahirkan rasa solidaritas yang sangat besar. Siswa/siswi MAN 1 Solo sebagai bagian kecil dari masyarakat dunia merasa terpanggil untuk ikut meringankan penderitaan dan beban para korban.

11350414_10200612336547818_8716052000965139401_n

Berbekal rasa solidaritas sesama muslim dan kemanusiaan, siswa/siswi MAN 1 Solo mengadakan aksi penggalangan dana di lingkungan sekolah pada 26 Mei 2015. Aksi yang diikuti oleh seluruh siswa/siswi beserta guru-guru tersebut dilaksanakan saat jam istirahat. Secara sukarela mereka merogoh kantongnya masing-masing dan menyisihkan sebagian uang saku yang mereka miliki, 1000, 2000, 5000 atau seberapa pun uang yang mereka miliki dimasukkan ke dalam tampah.  Dari aksi yang (hanya) berlangsung selama 15 menit tersebut alhamdulillah berhasil terkumpul Rp 1.020.800. Jumlah yang masih relatif kecil untuk bisa membantu saudara muslim Rohingya. Namun semangat berbagi itulah yang ingin disampaikan kepada dunia. Semangat untuk membantu saudaranya yang sedang tertimpa musibah. Semoga bantuan kecil dari siswa/siswi MAN 1 Solo bisa sedikit meringankan beban dan penderitaan saudara muslim Rohingya.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.450 pengikut lainnya.