MUSEUM GUNUNG API MERAPI, Mengenal Lebih Dekat Sang Mahaguru Merapi

Di kaki Gunung Merapi, sebuah museum berdiri sebagai perekam jejak gunung api ini. Kenangan dari tiap letusan tersimpan rapi, bahkan suara gemuruhnya pun dapat di dengar berkali-kali. Di museum ini, Merapi dikagumi sebagai pemberi pelajaran berarti.

S0026824

Inilah sepenggal catatan kecil ketika mengunjungi museum gunung merapi. Sebuah “mahakarya” agung yang mencoba menampilkan berbagai info seputar gunung merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di dunia, dan juga info seputar gunung berapi di Indonesia secara umum. Museum yang terletak di Jl. Kaliurang Km.22, Banteng, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta ini, akan membuka cakrawala pandang kita secara luas tentang gunung merapi.

DSCF6776Berdiri artistik dengan latar agungnya Gunung Merapi, museum 2 lantai yang diresmikan tahun 2010 silam ini menjadi salah satu tempat wisata menarik di daerah Hargobinangun, Sleman. Bentuk bangunannya unik, berbentuk trapesium dengan salah satu sisi puncaknya mengerucut membentuk segitiga. Ketika hari cerah dan Gunung Merapi tak tertutup awan, maka keduanya tampak begitu gagah.

Memasuki museum, sebuah replika sebaran awan panas dari tiga buah letusan Gunung Merapi, yakni pada tahun 1969, 1994 dan 2006 akan menyambut para pengunjung. Alat inilah yang membuat seluruh ruangan bergemuruh. Tekan saja salah satu tombolnya, maka sebaran awan panas dan aliran lava pijar akan terlihat menyerupai kejadian waktu itu. Terbayang betapa dahsyatnya gejolak gunung api ini tiap kali meletus. Ratusan rumah tertimbun material vulkanik, ribuan ternak mati dan warga harus dievakuasi. Kehidupan di sekitar Merapi tandas ditelan wedhus gembel. Peristiwa tersebut bagai rajah yang tak akan hilang dari ingatan siapa saja yang menjadi korban.

DSCF6781

Menjelajahi ruangan lain kita akan menemukan display tipe letusan gunung api, batuan dari Gunung Merapi sejak tahun 1930, koleksi benda-benda sisa letusan tahun 2006 hingga koleksi foto-foto Gunung Merapi dari zaman ke zaman yang dipajang sedemikian rupa sehingga mudah diamati. Panel-panel ilustrasi dengan gambar kartun pun dapat dijumpai dan tentunya ramah bagi anak-anak. Dari sekian banyak koleksi benda yang ada, salah satu yang menarik adalah batu bom (volcanic bomb). Batu ini sepintas terlihat seperti batu biasa dengan bentuk yang tak beraturan. Tapi siapa sangka, batu ini adalah rupa lain lava pijar bersuhu 700 – 1.200⁰C yang kemudian terlempar ke udara dan mengalami proses pendinginan cepat sebelum sampai ke permukaan bumi.

DSCF6790Puas mengamati setiap koleksi di lantai satu, saatnya menilik apa yang ada di lantai dua museum. Setidaknya ada sembilan tipe benda koleksi dan alat peraga yang tersimpan di sana, mulai dari display letusan dan erupsi Merapi, lorong peraga simulasi LCD, peraga simulasi tsunami hingga peraga simulasi gempa. Masing-masing koleksi tersebut berhasil menarik perhatian tiap pengunjung, apalagi koleksi alat peraga yang ada masih berfungsi dengan baik. Jadi jangan heran bila tiap pengunjung dapat melihat tsunami dan gempa bumi mini yang dahsyat namun tak membahayakan.

Ketika semua sisi museum telah dijelajahi, masuk ke dalam teater mini museum ini adalah pilihan yang tepat. Sembari beristirahat, pengunjung akan disuguhi sebuah film pendek berdurasi 24 menit berjudul Mahaguru Merapi. Film ini menunjukkan dua sisi Merapi yang begitu berbeda. Merapi memberi kesuburan dan kehidupan bagi tiap makhluk di sekitarnya, tapi ada kalanya ia juga meluluhlantakkan semuanya tanpa tersisa. Sungai-sungai yang mengalir dari lerengnya memenuhi kebutuhan warga akan air, tapi ada saatnya sungai tersebut berubah jadi ancaman kehidupan karena lahar dingin yang mengalir di dalamnya. Melalui film ini, sekali lagi, Merapi berhasil mengundang decak kagum, membawa tiap pengunjung mengenal lebih dekat sosoknya yang mengagumkan. Kehadirannya adalah pengingat akan keagungan Sang Pencipta, ketika semua yang sudah ada kapan pun bisa hilang dan kehidupan berulang dari awal.

Ingin lihat foto-foto yang lain ?

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lereng Merapi, 2016….

Jelajah Sejarah Purba di Museum Dayu

dayuMuseum Dayu merupakan salah satu cluster museum purbakala Sangiran. Museum Dayu ini satu-satunya museum purbakala yang terletak di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di Desa Dayu, Gondangrejo, Karanganyar. Tiga cluster lain terletak di Kabupaten Sragen. Untuk menuju tempat ini cukup mudah jika Anda dari Solo. Saya ambil terminal Solo, Anda bisa ke arah utara atau jalur Solo-Purwodadi sekitar 15 km kemudian sampai daerah Gondangrejo ada tulisan Museum Dayu ke kanan 3 km.Kemarin sabtu tanggal 2 Januari saya mengunjungi Museum Dayu yang terletak di perbatasan Karanganyar Sragen, yaitu kecamatan Gondangrejo Karanganyar dengan Kecamatan Kalijambe Sragen. Jalan menuju tempat tersebut cukup baik, tetapi untuk bus besar kalau berpapasan harus mengalah salah satu. Kebetulan rumah saya di daerah Wonorejo, yang tidak terlalu jauh dari Museum Dayu. Saya sengaja mengambil jalur jalan pedesaan yang ternyata sangat mengasyikkan. Sepanjang perjalanan pohon-pohon yang menghijau menjadi obat pencuci mata.

dayu 2

Sebelum sampai di lokasi, kita akan dibantu dengan sebuah gapura yang menjadi penanda lokasi museum dayu. Sekilas gapura ini mirip dengan gapura yang ada di Sangiran. Seolah menjadi sebuah entitas yang menjadi penanda menuju  perjalanan menguak masa lampau.

dayu 3

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, aku tiba di museum dayu. Kedatanganku di sambut oleh sebuah bangunan megah yang menjadi bangunan utama. Bangunan itu terlihat masih baru. Ternyata aku baru tahu bahwa museum ini baru diresmikan tahun 2014 oleh bapak Wakil Presiden Boediono. Di depan bangunan utama itu, ada sebuah tugu yang menunjukkan nama Museum Manusia Purba Klaster Dayu.

dayu 4

Sebelum masuk ke kompleks museum dayu, pengunjung harus membeli tiket masuk seharga 5000 rupiah. Setelah membayar tiket masuk, pemandangan pertama yang akan dilihat adalah sebuah bentang alam yang sangat indah dan menjorok ke bawah. Pengunjung harus berjalan melewati tangga-tangga turun ke bukit. Bangunannya terdiri dari bangunan anjungan, ruang diorama, ruang pamer, ada pula ruang bermain anak-anak dan gazebo untuk beristirahat.

dayu 5

Di taman bermain ini banyak anak-anak yang bermain, mereka menikmatinya, bersama saudara-saudara mereka. Orang tua mereka dengan seksama mengamati anaknya, terlihat raut muka bahagia dari orang tua tersebut. Mungkin dia bisa bahagia karena sudah mengantar anaknya ke museum Dayu ini. Mereka bisa belajar dan bermain secara gratis.Jika lelah menggelayuti, ada gazebo. Gazebo ini juga didesain unik, terbuat dari kayu glugu dan kayu lain. Kayu glugu seratnya juga terlihat bagus. Tenang saja kayu glugu ini tidak menelusuk jari-jari Anda karena sudah di plitur dengan baik. Anda pun bersama keluaga bisa bersandar sejenak di gazebo ini. Saya pun juga sempat menggunakan gazebo ini untuk beristirahat sejenak karena kaki agak pegal setelah berputar-putar berkeliling museum. Capek reda, saya lanjut lagi untuk mengelilingi museum.Saya memulai melihat anjungan  anjungan. Ruangannya adem karena ada AC nya, ada alat peraga berupa laya komputer sentuh, sayangnya beberapa sudah tak bisa dioperasikan karena sudah rusak. Mungkin perlu digaris bawahi pengawasan sangat perlu, karena kalau tidak diawasi museum yang alat-alatnya masih bagus ini bisa rusak.

dayu 6

Selanjutnya saya menuruni tangga menuju ruang diorama yang berisi tentang kehidupan masa lalu. Selanjutnya menuju ruang pamer. Berada di ruang pamer ini ada manekin atau replika tulang-tulang yang ditemukan ribuan tahun lalu. Ada pula tulang asli yang ditemukan di daerah tersebut. Tulang-tulang hewan banyak juga yang ditemukan, bentuknya sudah berupa batu batuan. ada pula ditemukan alat perimbas dll.

dayu 7

Tiba di bagian bawah dari museum Dayu, pengunjung akan disuguhi fosil buaya purba yang terbilang masih sangat lengkap. Fosil ini diletakkan di sebuah tempat khusus yang diberi pasir laut. Di tempat ini juga kita juga akan melihat gambar tentang proses penemuan fosil dari awal hingga akhir. Juga dipajang foto-foto proses ekskavasi (penggalian) fosil manusia purba yang pernah dilakukan di wilayah Sangiran.

dayu 8

Dengan melihat foto-foto tersebut kita bisa mendapat gambaran betapa sangat kompleksnya proses mengungkap misteri manusia purba.  Jika anda ingin menguak sejarah manusia purba di masa lampau, museum dayu bisa menjadi referensi untuk dikunjungi. Selamat berkunjung…

(ketika) Anggota PETA Bermain Sepak Bola

sepak bola

Sebagai manusia biasa, setiap orang butuh sarana untuk refreshing dari aktivitas sehari-hari, tak terkecuali bagi anggota PETA, yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Berikut adalah video saat anggota PETA sedang menikmati serunya bermain sepak bola. Para prajurit Heiho sedang lomba sepakbola antar kesatuan sekitar tahun 1944. Tidak ada keterangan di daerah mana. Rekaman ini merupakan bagian propaganda tentara Jepang.

(untuk melihat silahkan klik link di bawah ini )

Anggota PETA main sepak bola

Asyiknya Belajar Sejarah dengan COC

coc

Pembelajaran sejarah (ternyata) lebih menyenangkan jika dilaksanakan dalam suasana yang informal. Inilah yang telah dilaksanakan di kelas XI MIA 5 MAN 1 Solo pada jam ke 3 Jum’at 29 Januari 2016. Materi “Peristiwa Proklamasi” terasa lebih mudah dipahami siswa ketika mereka melaksanakan permainan C.O.C.

Apa itu C.O.C ?

DSCF2172

C.O.C adalah “Cari, Oroetkan, dan Ceritakan”, jadi siswa diminta mencari informasi seputar proklamasi dalam bentuk gambar-gambar. Kemudian mereka diminta mengurutkan gambar-gambar tersebut sesuai dengan urutan peristiwa seputar proklamasi. Langkah terakhir adalah siswa diminta menceritakan gambar-gambar yang telah mereka urutkan.

DSCF2102 
Agar lebih seru maka masing-masing kelompok diminta membuat yel-yel dan mengenakan pakaian yang bertema perjuangan. Jadi….ada yang berpakaian seperti Soekarno, Hatta, Fatmawati dan tokoh-tokoh seputar proklamasi yang lain. Materi sengaja belum disampaikan sebelumnya dengan tujuan agar siswa bisa mencari sendiri informasi seputar materi Proklamasi, namun rambu-rambu secara umum telah diberikan oleh guru.

Bagaimana hasilnya ?
Ternyata anak-anak XI MIA 5 memang luarrrr biasa. Mereka mampu menceritakan gambar-gambar seputar proklamasi dengan sangat sempurna. Yang seru lagi, saat menyampaikan ada yang dilakukan dengan cara bermain drama, memakai topeng bergambar tokoh-tokoh sekitar proklamasi, dll. Pembelajaran berlangsung menyenangkan, materi bisa dikuasai dan akhirnya….semua happy !!!

Ingin lihat albumnya ? lihat di bawah ini….

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Dari Fotografi Lahirlah Foto Story…

storyFotografi dan pembelajaran sejarah ? Apa sih hubungannya ? Nah biar tidak bertambah bingung, penulis akan berbagi cerita tentang kelas #Ketemuan yang penulis ikuti hampir 2 bulan. Di sela-sela aktivitas sebagai pengajar penulis memiliki hobi fotografi. Aktivitas yang berhubungan dengan foto ini sudah penulis geluti hampir 6 bulan berjalan. Sementara ini penulis belum menentukan spesialisasi objek foto, jadi ketika ada momen yang asyik untuk di foto, maka penulis akan memotret. Namun diantara sekian banyak objek foto yang penulis ambil adalah foto-foto bertema human interest ( foto yang berhubungan dengan manusia).

Nah untuk menambah skill dalam bidang fotografi, di awal Oktober hingga akhir Nopember, penulis memberanikan diri mengikuti sebuah kelas fotografi. Kelas fotografi ini di beri nama kelas #Ketemuan. Kelas ini diadakan oleh dua orang mentor yang sudah melang melintang di bidang fotografi yaitu Maulana Surya Tri Utama (wartawan foto dari kantor berita Antara) dan Yudi Sastroredjo (praktisi fotografi). Keduanya bertugas di daerah Surakarta dan sekitarnya. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana penulis bisa bergabung di kelas #ketemuan ?

story2Nah ceritanya ketika penulis searching di internet, ada sebuah iklan yang mengabarkan bahwa akan dibuka kelas fotografi dan semuanya free lho…nah karena free, penulis iseng-iseng mendaftarkan diri secara online. Di iklan itu disebutkan bahwa nantinya peserta akan diberi materi tentang membuat foto story. Apa itu foto story ? Foto story adalah salah satu hasil fotografi yang menitik beratkan pada foto yang bisa bercerita, artinya ketika kita melihat hasil foto story, akan terlihat adanya rangkaian cerita yang tidak putus. Sehingga penonton akan bisa mengambil makna dari foto story yang ditampilkan. Oya kelas #ketemuan diadakan setiap senin malam selepas isya dan bertempat di café Librarie, salah satu café terkenal di kota Surakarta.

story3Pada saat pertama kali menghadiri kelas #ketemuan, semua peserta yang berjumlah sebanyak 20 orang diminta untuk memperkenalkan diri. Ternyata penulis adalah satu-satunya peserta dari guru. Peserta yang lain ada yang berlatar belakang pelajar, fotografer, hingga mahasiswa. Setelah perkenalan selesai, maka tiba waktunya peserta mendapatkan materi seputar foto story. Menurut mas Maulana (salah satu mentor), karena kelas #ketemuan adalah kelas fotografi maka syarat paling mutlak adalah harus memiliki kamera, bisa kamera digital atau DSLR. Kebetulan penulis telah memiliki kamera yang di syaratkan. Penulis memakai kamera Fujifilm finepix HS-20. Kamera ini juga belum lama penulis miliki. Sebelumnya penulis menggunakan kamera digital.

Dalam pemaparannya mentor menyampaikan bahwa di akhir kelas #ketemuan, masing-masing peserta akan diberi tugas membuat proyek fotografi dan rencananya akan dipamerkan. Penulis semakin tertarik dan bersemangat mengikuti kelas #ketemuan. Bertemu dengan fotografer-fotografer yang sudah banyak di kenal orang merupakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Bagi penulis, pengalaman ini akan menjadi masukan yang positif untuk meningkatkan kemampuan dalam dunia fotografi. Penulis beserta seluruh peserta banyak mendapat ilmu seputar fotografi yang bisa segera diterapkan.

story4Setelah hampir 2 bulan berjalan, tiba saatnya untuk mempresentasikan hasil hunting di depan kelas. Satu persatu peserta mempresentasikan hasil kegiatannya. Tibalah giliran penulis untuk mempresentasikan hasil foto story. Penulis mempresentasikan dua karya foto story, yaitu dengan judul “ujian” dan “dhasaran”. “Ujian” penulis ambil ketika siswa/siswi penulis mengadakan ujian tengah semester (UTS). Idenya adalah mengangkat tentang ekspresi siswa ketika menghadapi ujian. Sedangkan “dhasaran” penulis ambil di luar lingkungan sekolah. Penulis memotret tentang 4 perempuan tangguh yang membantu keuangan keluarga dengan membuka “dhasaran” (berjualan ) di pinggir jalan. Yang dijual adalah aneka macam makanan dan minuman beserta snacknya. Setelah presentasi, mentor memberikan masukan demi peningkatan kualitas foto story berikutnya. Masukan dari mentor menjadi bekal yang berharga karena masukan berupa teknik pengambilan gambar (angle), pencahayaan (lighting) hingga artistiknya.

Dari Foto Story hingga Picture Story

story6Keikutsertaan penulis di kelas #ketemuan, memunculkan ide untuk menerapkan dalam pembelajaran sejarah. Bagaimana caranya ? Apakah siswa juga memotret ? Oooo…tentu tidak. Yang penulis ambil adalah konsepnya kemudian disesuaikan dengan pembelajaran sejarah. Jika di kelas #ketemuan peserta memotret langsung objek maka di pembelajaran sejarah, siswa tinggal mencari gambar-gambar yang sesuai dengan materi sejarah. Setelah mendapat gambar kemudian siswa menyusun menjadi sebuah rangkaian cerita yang berhubungan dengan materi. Inilah yang kemudian melahirkan Picture Story yaitu gambar yang bisa membentuk cerita. Untuk melaksanakan kegiatan membuat picture story, penulis uji cobakan di kelas XII IPA 6 MAN 1 Surakarta. Materi yang akan dijadikan bahan membuat picture story adalah Reformasi 1998. Bagi penulis materi ini sangat luas dan memerlukan penjelasan yang tuntas. Padahal jam pelajaran sejarah di kelas XII IPA hanya 1 jam, sehingga jika diterangkan semuanya maka waktunya tidak cukup. Padahal masih banyak materi yang juga harus diterangkan. Inilah latar belakang yang mendasari penulis menerapkan membuat picture story di kelas XII IPA 6.

story5Setelah dirasa cukup menyiapkan konsep kegiatan membuat picture story, langkah berikutnya adalah menyampaikan rencana tersebut kepada siswa. Pada awalnya siswa masih belum paham tentang kegiatan membuat picture story, namun setelah penulis memberikan penjelasan secara detail, barulah mereka memahaminya. Untuk melaksanakan kegiatan ini, penulis membuat kelompok kerja siswa dengan masing-masing kelompok beranggotakan 5 orang. Oya hampir lupa, untuk melaksanakan kegiatan ini, penulis sengaja belum menjelaskan materi Reformasi 1998. Jadi siswalah yang aktif mencari materi kemudian mencari gambar hingga akhirnya menyusun menjadi picture story. Agar bisa melihat proses kerja siswa, maka untuk melaksanakan kegiatan ini dilakukan langsung di kelas dan penulis tinggal mengamati proses.

story7Di hari yang telah ditentukan siswa bekerja secara berkelompok membuat picture story. Untuk membuat picture story, bahan-bahan yang wajib disiapkan siswa antara lain : Gambar yang berhubungan Reformasi 1998 Karton ukuran besar Gunting/cutter Lem Spidol Langkah pertama yang dilakukan siswa adalah membuat konsep foto story, yang berupa menyusun layout, urutan gambar yang telah disiapkan dan naskah narasi. Penulis mengamati proses yang sedang berjalan dan sesekali menanyakan hal-hal penting kepada kelompok. Langkah kedua adalah menempelkan gambar di karton. Di sinilah suasana pembelajaran mulai “hangat”. Mengapa ? karena di setiap kelompok akan muncul diskusi keras seputar urutan gambar yang akan ditempel. Masing-masing anggota kelompok menyampaikan pendapatnya seputar urutan gambar yang tepat. Dalam kondisi seperti ini, penulis memberi masukan namun keputusan akhir tetap di tangan siswa. Penulis ingin mendidik siswa bisa bekerja secara mandiri dan memutuskan sendiri apa yang terbaik buat kelompoknya. Selama kegiatan membuat picture story, penulis mempersilahkan siswa menciptakan suasana yang paling nyaman untuk membuat picture story. Karena itulah siswa memilih tempat yang paling enak untuk mengerjakan. Jika kita memberikan keleluasaan pada siswa dalam suatu kegiatan, diharapkan siswa bisa mengerjakan dengan lebih baik. Inilah yang ingin penulis tanamkan kepada siswa. Proses pembuatan picture story tidak dapat diselesaikan dalam satu kali pertemuan. Sehingga untuk menyelesaikan, penulis mempersilahkan masing-masing kelompok menyelesaikan di luar kelas dan pada pertemuan minggu berikutnya siswa presentasi.

story8

Tibalah di hari yang ditentukan. Masing-masing kelompok akan mempresentasikan picture story yang telah dibuat. Penulis membuat undian untuk menentukan kelompok mana yang pertama kali presentasi. Setelah mengambil undian, makan kegiatan presentasi segera dimulai. Masing-masing kelompok menjelaskan seputar Reformasi 1998 dengan menggunakan media picture story. Tanpa menggunakan catatan terlihat siswa bisa menjelaskan seputar Reformasi 1998 dengan lancar. Namun ada juga kelompok yang kurang lancar dalam penjelasannya. Inilah hal-hal yang menjadi pertimbangan penulis dalam menilai tugas masing-masing kelompok. Selain aspek penguasaan materi, aspek lain yang dinilai adalah susunan gambar yang sesuai. Setelah menyampaikan presentasi, kelompok lain boleh mengajukan pertanyaan untuk mengeksplor materi yang telah disampaikan. Di sinilah menurut penulis, kualitas siswa dalam penguasaan materi akan terlihat. Siswa yang sudah aku copymenguasai materi dengan baik, tentu saja dalam menjawab pertanyan juga akan lancar.

Demikian sekilas pengalaman penulis menerapkan pembelajaran dengan membuat picture story. Ide yang berasal dari pengalaman mengikuti kelas #ketemuan, kemudian diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Sungguh pengalaman hidup yang luar biasa. Siswa bisa terlibat secara aktif dalam pembelajaran dan berharap hasil evaluasi juga mencapai nilai yang maksimal. Maju terus pendidikan Indonesia. Makasih buat #ketemuan yang telah menginspirasiku “menemukan” metode mengajar baru. Salam historia !!!!!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.461 pengikut lainnya